
Photo
JawaPos.com - Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) II, akan mengangkat isu kesetaraan antara perempuan dan laki-laki atau lebih populer dikenal kesetaraan gender, sebagai topik dalam kongres yang dijadwalkan berlangsung 23 November 2022 di UIN Walisongo, Semarang, Jawa Tengah.
Menurut Sekretaris Panitia Acara KUPI II Faqihudin Abdul Qodir, isu kesetaraan gender penting diangkat karena masalah itu dialami oleh semua negara dan peradaban di dunia, tidak hanya negara dan peradaban Islam saja.
"Semua negara mengalami ini karena kesetaraan gender adalah problem struktural, problem kultural, bahkan problem cara pandang yang lahir melalui peradaban yang cukup panjang sekali di berbagai tempat, baik itu Arab, Yunani, China, maupun India," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (10/11) dikutip dari Antara.
Fokus pertemuan adalah pertukaran pembelajaran di antara ulama perempuan di seluruh dunia, untuk memperbarui perkembangan positif dan tantangan baru yang dihadapi oleh gerakan perempuan muslim di berbagai benua.
Dalam Konferensi internasional tersebut, para ulama perempuan dari 29 negara bersama para ulama perempuan Indonesia memetakan perjuangan yang dialami para ulama di negaranya masing-masing.
Terdapat 32 orang pembicara dari 18 negara yang akan memperkaya diskusi di konferensi internasional tersebut, di antaranya Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Turki, India, Afrika Selatan, Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Finlandia, Libia, Irak, Burudi, dan Kenya.
Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia Ruby Kholifah yang juga menjabat selaku anggota Organizing Committee KUPI, menceritakan pengalaman pribadinya bertemu dengan sejumlah komunitas muslim di Vietnam dan Kamboja.
Dalam perjalanan itu, ia menemukan bahwa kekerasan berbasis gender hingga perempuan sulit untuk mendapatkan akses di publik ada di banyak tempat.
"Bicara tentang keadilan ada hal yang penting untuk diperhatikan dari perspektif perempuan adalah pengalaman biologis perempuan, banyak juga pengalaman sosial perempuan," kata Ruby.
"Pengalaman biologis perempuan terkait dengan menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui mempertemukan perhatian yang sangat khusus tidak bisa disamakan dengan laki-laki. Maka, bentuk keadilannya tentu saja sangat diharapkan keluar dari kebutuhan itu," imbuhnya.
Sejak diselenggarakannya Kongres Ulama Perempuan Indonesia yang pertama di Pesantren Kebon Jambu, Cirebon, Jawa Barat, pada 25-27 April 2017 lalu, wacana gender dan Islam di Indonesia terinstitusionalisasi menjadi gerakan kolektif yang dipimpin oleh para ulama perempuan yang memiliki latar belakang studi keislaman yang kuat dan memiliki basis pendukung komunitas pesantren, institusi keislaman, dan komunitas-komunitas yang bekerja dalam isu kesetaraan gender.
Kongres Ulama Perempuan Indonesia menawarkan standarisasi beragama yang meletakkan perempuan sebagai subyek dalam menafsirkan pandangan keagamaan.
Dalam metodologi KUPI, pengalaman perempuan dan pengetahuan didekati dengan konsep kebaikan (ma’ruf), kesalingan (mubadalah) dan keadilan hakiki yang membasiskan pada pengalaman biologis perempuan (menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui) dan sosial perempuan (ketidakadilan gender).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
