
Sejumlah tank Rusia berjalan melewati Lapangan Merah saat latihan parade militer di pusat Kota Moskow, Rusia, Sabtu (7/5). Maxim Shemetov /Reuters/Antara
JawaPos.com - Lumpuhnya tank-tank kavaleri dalam perang Azerbaijan vs Armenia dan Ukraina vs Rusia karena serangan drone tempur menimbulkan pertanyaan tentang relevansi satuan kavaleri dalam perang moderen.
CEO Romeo Strategic Consulting M. Iftitah Sulaiman, menegaskan satuan kavaleri masih relevan. Meski drone di Ukraina sukses menghajar lebih dari 2.435 tank rusia, tetapi kehadiran drone tidak serta merta meniadakan satuan lain.
"Tidak mungkin juga meniadakan Satuan Kavaleri dalam dunia militer," kata Iftitah dalam seminar Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) yang diselenggarakan secara online (12/10).
Ia juga menekankan bahwa pasukan Kavaleri adalah satuan manuver, atau pasukan darat (ground forces). Sementara drone adalah komponen pertempuran udara (airland battle). Untuk menduduki dan menguasai suatu wilayah daratan, tentu yang dibutuhkan adalah pasukan darat.
Disamping itu, lanjut Iftitah, tidak semua negara memiliki kecanggihan drone. Senjata drone dan anti drone juga masih barang mahal. Kemampuan SDM untuk mengendalikan drone pun, katanya, memiliki tantangan yang tidak mudah.
Peraih Adhi Makayasa dan lulusan terbaik Akademi Militer 1999 ini juga mengajak untuk belajar dari masa lalu. Bahkan, kehadiran Tank, kata Iftitah, tidak lantas meniadakan kehadiran pasukan berkuda.
"Untuk jalan-jalan sempit dan tertutup, kehadiran pasukan berkuda tetap dibutuhkan. Jadi kehadiran teknologi, sifatnya saling melengkapi, bukan saling meniadakan," ujarnya.
Selain faktor senjata dan teknologi, Iftitah juga menuturkan, bahwa kunci sukses memenangkan perang adalah the man behind the gun. Ia mencermati fighting spirit Ukraina sangat besar. Rusia kalah jauh. Banyak warga dan pemuda Rusia yang kabur dari kewajiban berperang.
Bahkan, ia juga mencermati adanya jenderal- jenderal tua Rusia yang telah purnawirawan, harus diaktifkan lagi, karena tidak ada yang mau bertempur di Ukraina. Berbeda dengan Rusia, kata Iftitah, warga Ukraina merelakan dirinya untuk ikut wajib militer membela negaranya.
Mantan Komandan Batalyon Kavaleri 4/Tank Kodam III Siliwangi ini, juga merujuk kepada pelajaran dari Perang Dunia II. Salah satu kesuksesan Jerman dalam perang kilat adalah Auftragstaktik.
"Auftragstaktik adalah filosofi militer yang menekankan kepada pemberian ruang dan waktu kepada komandan bawahan, untuk mengambil sejumlah inisiatif," ujarnya.
Auftragstaktik adalah ruang kreasi komandan bawahan, untuk melakukan sejumlah tindakan yang diyakininya, akan mampu mencapai keberhasilan tugas pokok. Tentu tetap dalam koridor petunjuk perencanaan komandan atasannya.
"Jadi, komandan bawahan tidak selalu bertanya; Izin Komandan, mohon petunjuk, dalam setiap langkahnya. Cukuplah komandan atasan mengatakan: Ini misi yang harus dicapai, dalam waktu tertentu. Soal bagaimana mengeksekusinya diserahkan kepada komandan bawahan," tuturanya.
Tapi Iftitah menegaskan, tentu Auftragstaktik tidak bisa seketika dijalankan. Harus dimulai dengan melakukan reformasi pendidikan militer di semua bidang. Filosofi ini katanya, ditiru oleh oleh Inggris dengan Mission Type Order-nya, ditiru juga oleh Amerika Serikat dengan Mission Command-nya, hingga sekarang.
"Ini diterapkan bukan hanya untuk para perwira Kavaleri, tetapi juga untuk seluruh kecabangan lainnya," tuturnya.
Oleh karena itu, Iftitah yang merupakan alumnus US Army Command and General Staff College itu menyarankan agar Kavaleri TNI-AD melakukan transformasi organisasi, peralatan, doktrin, taktik serta sumber daya manusianya.
"Di bidang organisasi, bentuk transformasi ini harus mengutamakan combined armed. Di bidang peralatan, Kavaleri bisa melakukan negosiasi dengan satuan Penerbangan TNI AD (Penerbad) untuk menyertakan Heli Apache dan Heli Mi-35 sebagai bagian dari pengerahan Satuan Kavaleri. Kami juga mendorong tumbuhnya industri pertahanan dalam negeri, termasuk membuat Tank sendiri," ujarnya.
Termasuk soal doktrin dan taktik perangnya pun, harus joint forces, bukan hanya Darat tetapi juga dengan Matra Udara. Sedangkan di bidang SDM, perwira Kavaleri harus memiliki karakter Man of Vision, dan fighting spirit, militan, juga mampu melihat ke depan serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta berkolaborasi dengan pasukan lain.
“Perintah Jenis Tugas atau Auftragstaktik-nya Indonesia, juga harus dikembangkan secara maksimal. Saya pernah belajar “perintah jenis tugas” ini waktu sekolah dasar kecabangan. Tetapi di lapangannya, saya lihat kurang sekali dikembangkan," imbuhnya.
Belajar dari pengalamannya saat tugas operasi di Aceh pada akhir masa Daerah Operasi Militer (DOM) tahun 2003, Iftitah menekankan pentingnya menguatkan industri pertahanan dalam negeri.
"Dulu waktu di Aceh, tank Scorpion (buatan Inggris) yang datang 28 yang operasional cuma 2. Kemudian diganti panser dari Pindad, dari 16 cuma 2 rusak ringan itu pun bisa diperbaiki,” ungkapnya.
Iftitah yakin satuan Kavaleri masih dan tetap akan relevan dalam peperangan moderen, terutama untuk operasi lawan gerilya.
"Satuan kavaleri sangat efektif. Apalagi ketika di masa awal operasi militer, perekonomian lumpuh. Karena dengan kavaleri, jalur-jalur perbekalan umum bisa dijaga, demikian juga pergeseran logistik," papar Iftitah merujuk pada pengalamannya dalam tugas operasi di Aceh.
Selain di Aceh, Iftitah juga pernah bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Libanon (UNIFIL), tergabung dalam Batalyon Infanteri Mekanis pertama yang dikirim pemerintah Indonesia ke wilayah konflik tersebut.
"Namun, yang tidak relevan itu kalau masih ada yang bicara soal ego sektoral karena tema perang modern adalah kolaborasi, joint forces dan combined arms, semua kesatuan saling melengkapi dan menutup kekurangan yang lain,”
"Majulah Kavaleriku. Jaya di medan perang, berguna di masa damai," kata Iftitah menutup paparannya.
Pembicara yang lain adalah Direktur Persenjataan Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI AD Brigjen TNI Agus Erwan, Wakil Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Brigjen TNI Rano Tilaar, dan Wartawan Kompas Harry Susilo yang baru pulang dari meliput perang di Ukraina.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
