
Ilustrasi cegah HIV/AIDS. Antara
JawaPos.com - Seseorang yang masuk dalam kelompok berisiko harus mewaspadai dan mengetahui status HIV pada tubuhnya. Misalnya, mereka yang seringkali berganti-ganti pasangan hingga pengguna narkoba suntik. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bandung mencatat 414 mahasiswa tertular HIV, begitu juga dengan ratusan ibu rumah tangga lainnya.
Ahli Spesialis Penyakit Dalam Prof. Dr.dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan seseorang hingga akhirnya mengidap HIV memerlukan waktu bertahun-tahun. Sehingga gejala bisa saja tidak disadari saat di tahap awal.
"Gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita infeksi HIV yang sudah lanjut, jika daya tahan tubuhnya sudah menurun," kata Prof Ari kepada JawaPos.com, Kamis (25/8).
Fase Tubuh Tertular HIV AIDS
Fase tanpa keluhan penderita infeksi virus ini dapat berlangsung selama 5-10 tahun sampai mereka mempunyai gejala. Prof Ari sering mendapatkan pasien yang mengalami HIV/AIDS dan menduga tertular pada saat 5 atau 10 tahun yang lalu.
"Pasien menyampaikan setelah menikah 5 tahun belakangan ini mereka tidak pernah berhubungan seks dengan orang lain kecuali kepada istri atau suami sahnya saja," jelasnya.
Apa saja gejalanya saat fase lanjut?
Berbagai infeksi oportunistik akan muncul seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit atau berupa timbul hitam2 dikulit. Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut ini mengalami berat badan turun.
Hasil pemeriksaan laboratorium pasien terinfeksi HIV dalam fase lanjut, jumlah lekosit akan kurang dari 5000 dengan limfosit kurang dari 1000. Diare kronik, sariawan di mulut dan berat badan turun merupakan gejala utama jika pasien sudah mengalami infeksi HIV lanjut dan sudah masuk fase AIDS.
Pengobatan
Penyakit ini disebabkan oleh virus 'Human Immunodeficiency Virus' (HIV), sampai saat ini vaksinnya belum ditemukan. Obat-obat anti retroviral (ARV) yang ada saat ini sudah mampu menekan jumlah virus sampai tidak terdeteksi. Bukti klinis membuktikan bahwa pengobatan dengan ARV bisa menekan penyebaran virus sampai lebih 90 persen.
Di Indonesia ARV saat ini masih gratis dengan akses mudah untuk mendapatkannya. Memang saat ini angka penggunaan ARV di Indonesia masih rendah.
"Stop gonta-ganti pasangan, stop berselingkuh yang dibumbui seks bebas. Karena semakin dini pasien HIV diberikan obat anti virus (ARV) semakin cepat menurunkan jumlah virus dan mengurangi potensi penularan dan tentu pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV tersebut," tutupnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
