Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Agustus 2017 | 01.29 WIB

Rote yang Terus Menunggu Harta Terpendamnya Tergarap

BERSAHAJA: Daniel Koen (kiri) dan Sarai Manafe (kanan) di Kampung Oedai, Pulau Rote. - Image

BERSAHAJA: Daniel Koen (kiri) dan Sarai Manafe (kanan) di Kampung Oedai, Pulau Rote.


Harga semen, misalnya, di tingkat pengecer mencapai Rp 52.500 per sak. Bila ingin menikmati daging sapi dengan harga miring, Rote juaranya. ’’Di sini harga daging sapi Rp 75 ribu sekilo. Kalau babi Rp 60 ribu,’’ terang Made Dwi Oka Adnyani, warga Ba’a.


Dengan jumlah sapi yang melimpah, tidak heran harganya menjadi lebih murah bila dibandingkan dengan di Jawa. Dalam menjual daging pun, pemilik tidak harus ke pasar. Sejumlah pemilik sapi lebih sering menjual secara door-to-door.


’’Kalau ada orang mau bunuh (menyembelih, Red) sapi, dia akan tawarkan dulu ke rumah-rumah. Kita bisa pesan, misalnya, yang has dalam,’’ lanjut perempuan 30 tahun itu.


Dari sisi layanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan, warga Rote Ndao secara umum juga terlayani dengan baik. Mulai tingkat SD hingga SMA dan SMK, semua lengkap. Termasuk satu-satunya universitas di Pulau Rote: Universitas Nusa Lontar.


Begitu pula dari sisi kesehatan. Rote Ndao punya tiga dokter spesialis dan 24 dokter umum. Mereka bertugas di 12 puskesmas, 86 puskesmas pembantu, dan 1 RSUD (rumah sakit umum daerah) yang baru selesai dibangun dan sedang dalam proses akreditasi.


Meski demikian, secara umum, Bupati Leonard mengakui, wilayah yang dipimpinnya masih mengalami problem kesejahteraan. ’’Penduduk kami berjumlah sekitar 120 ribu jiwa dan 26 persen di antaranya masih berada di bawah garis kemiskinan,’’ terang Bupati Rote Ndao Leonard Haning.


Jumlah itu jauh di atas angka kemiskinan nasional. Per Maret 2017, menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk negeri ini dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 27,7 juta orang. Atau 10,64 persen dari total populasi.


Itu ironis lantaran Rote sejatinya kaya potensi. Johan Albert Mandiri masih ingat betul bagaimana dirinya terpesona dengan bukit batu berwarna menarik ketika belum lama tiba. Dia pun lalu mencuilnya sedikit untuk dipoles menjadi batu akik. Belakangan, dia baru mengetahui bahwa bukit batu itu adalah sumber logam mangan, bahan campuran untuk membuat besi dan baja.


Bukit-bukit mangan itu banyak tersebar di kawasan tengah pulau. ’’Sampai sekarang saya belum pernah melihat ada aktivitas tambang mangan di bukit-bukit itu. Apa jumlahnya kurang besar, ya,’’ tutur pria 37 tahun yang telah lima tahun tinggal di Ba’a tersebut.


Potensi lainnya adalah pariwisata. Rote menawarkan panorama alam yang indah. Lanskap persawahannya, misalnya, hijau dan berundak-undak. Dipadukan dengan pohon nyiur yang tumbuh berderet maupun berkelompok.


Pantainya apalagi. Pantai Nemberala, contohnya, sudah dikenal para peselancar dunia karena ombaknya. Beberapa kali event selancar tingkat internasional digelar di sana.


Ada pula Pantai Oeseli yang menjadi pintu masuk menuju Ndana, pulau terluar Indonesia di sebelah selatan. Lalu, Pantai Tiang Bendera, tempat dahulu pernah ada tiang bendera yang sangat tinggi berdiri di situ. Juga, Pantai Tiberias di sisi utara pulau yang menawarkan panorama cantik dengan hiasan berupa tebing yang menjulang.


Sayang, seperti juga mangan, kekayaan alam itu belum tergarap. Akses ke pantai-pantai itu buruk. Sekadar papan penunjuk jalan pun minim. Jalan menuju pantai-pantai itu juga hanya selebar 2,5 meter. Hanya cukup untuk satu unit pikap dan motor berjajar. Itu pun berupa aspal yang kebanyakan sudah rusak parah.


Tidak ada pula warga yang memanfaatkan wisata pantai sebagai sumber ekonomi. Rata-rata warga di sekitar pantai bekerja sebagai nelayan. Sementara itu, para ibu menanam rumput laut di perairan dangkal.


Sampai kapan semua potensi itu bakal tergarap? Waktu berlalu, rezim berganti, dan Indonesia sudah berusia 72 tahun hari ini, tapi pertanyaan klasik tersebut tetap belum terjawab. Padahal, Rote adalah teras depan negeri ini di bagian selatan.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore