Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Maret 2020 | 01.24 WIB

Ungkap Pengalaman Kena Virus Korona, Pasien 1: Jangan Hakimi Kami

Pengunjung mengenakan masker saat berada di area Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (7/3/2020). Foto: Dery Ridwansahp/ JawaPos.com - Image

Pengunjung mengenakan masker saat berada di area Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (7/3/2020). Foto: Dery Ridwansahp/ JawaPos.com

JawaPos.com - Pasien 1, 2 dan 3 yang tertular virus korona jenis baru atau COVID-19, kini sudah sembuh dan dinyatakan sehat. Hasil pemeriksaan spesimen mereka sudah dinyatakan dua kali negatif. Ketiganya adalah ibu dan dua anak kakak beradik asal Depok yang berprofesi sebagai penari.

Dilepas oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, ketiganya juga memberikan testimoni dan pengalamannya saat dirawat di ruang isolasi RSPI Sulianti Saroso. Pasien 1 khususnya, penari yang tertular oleh WN Jepang di klub dansa di Jakarta, paling menanggung beban psikologis atas kejadian itu. Dia juga menularkan kepada ibu dan kakaknya di Depok.

"Saya mengimbau masyarakat mendukung pasien COVID-19 yang masih dirawat, dukung secara moral," katanya di RSPI Sulianti Saroso, Senin (16/3).

Pasien 1 tersebut juga menyesalkan penyebaran informasi tak akurat selama dia dirawat yang dilakukan oleh netizen atau berbagai pihak tak bertanggung jawab. Kondisi itu mengganggu psikisnya selama dirawat. Apalagi data mereka sudah terlanjur tersebar sejak awal.

"Ini menganggu psikis kami di dalam. Identitas kami yang bocor mengkibatkan masyarakat luar panik. Saya dapatkan direct message di media sosial saya banyak yang tanya langsung gimana caranya mau periksa karena banyak yang takut, tapi lebih takut juga kalau identitasnya tersebar," kata pasien 1.

"Jangan hakimi pasien COVID-19, nanti akan jadi stigma negatif. Nanti malah kami jadi korban dua kali. Saya tahu semua yang dibicarakan media," tambahnya.

Apalagi, sejumlah publik menghakiminya profesinya sebagai seorang penari dengan sudut pandang negatif. "Banyak yang serang profesi kami sebagai penari, kami itu pejuang budaya Indonesia. Hidup kami selalu persembahkan untuk budaya. Virus ini tak pandang bulu, ras profesi, dan menular ke siapapun," tukasnya.

Begitu juga yang dikatakan pasien 2 yakni sang ibunda pasien 1. Dia berterima kasih kepada warga Depok di perumahan tempat tinggalnya yang selalu memberikan dukungan moral. Dan warga di sana bisa untuk kekeluargaan menerima kepulangan mereka kembali. Dia meminta semua warga atau publik umumnya untuk jangan panik.

"Warga Depok sangat kondusif menerima kami. Kuncinya jangan panik. Imun di dalam tubuh saat panik pasti turun imun kita. Jangan panik, yang punya hidup ini ada Tuhan agama apapun," kata pasien 2.

Pasien 3, sang kakak juga mengingatkan bahwa virus Korona bisa disembuhkan asal mengikuti secara disiplin segala protokol kesehatan yang dianjurkan. Salah satunya menjaga kebersihan, minum air putih, dan mengasup nutrisi yang baik.

"Jangan panik, virus ini self limiting disease. Punya kemampuan sembuh sendiri asal disiplin minum air putih yang banyak. Jaga nutrisi. Laksanakan personal hygiene seperti rajin cuci tangan. Kalau memang kita harus lakukan pembatasan sosial harus lakukan sebaik mungkin. Dan akan menular pada siapa saja yang imunnya lebih lemah," papar pasien 3.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=gbQOORUizHw

https://www.youtube.com/watch?v=pMmEfdMBzZQ

https://www.youtube.com/watch?v=OmmptVbu-g4

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore