alexametrics

Kisah Mereka, WNI Yang Merasakan Lockdown Di Luar Indonesia

Di Kantin Duduk Nyerong dengan Jarak 1 Meter
15 Maret 2020, 13:00:44 WIB

Kami mengontak beberapa orang Indonesia yang tinggal di Denmark, Italia, Republik Irlandia, dan Filipina. Berikut ragam pengalaman mereka tinggal di negara-negara yang menetapkan kebijakan lockdown akibat wabah virus korona.

TAUFIQURRAHMAN, Jakarta-ADINDA W.A.-FAHMI S., Surabaya, Jawa Pos

MARET ini sebenarnya Dessy Wina Harjani, suami, dan ketiga buah hati sebenarnya berencana pulang kampung.

Tapi, perkembangan terakhir di Denmark, negara tempat dia tinggal sejak 2000, memaksanya berpikir ulang.

”Lihat kondisi dulu lah. Kalau terpaksa ya batal pulang ke Indonesia,” tutur dia saat dihubungi Jawa Pos pada Jumat jelang tengah malam (13/3) atau sekitar pukul 17.00 waktu Kopenhagen, ibu kota Denmark.

Pada 11 Maret lalu Denmark jadi negara Eropa kedua yang mengumumkan lockdown atau mengunci diri satu negara akibat wabah virus korona. Menyusul Italia yang melakukan dua hari sebelumnya. Dan, disusul Republik Irlandia yang melakukan partial lockdown sehari kemudian. Spanyol kemungkinan juga akan mengambil langkah serupa.

Sejak awal Maret, jumlah kasus positif korona di negeri asal penulis dongeng tenar H.C. Andersen itu mencapai lebih dari 800 orang. Dan sejak lockdown itu pula, Dessy yang bersuami pria Denmark dan dikaruniai tiga buah hati tersebut memilih untuk membatasi mobilitas. Berdiam diri di apartemen menunggu kondisi membaik.

Denyut keseharian di Kopenhagen, menurut perempuan 45 tahun itu, tampak menurun daripada hari biasanya. Semua pergelaran event, festival, dan berbagai bentuk keramaian yang melibatkan lebih dari 100 orang efektif dibatalkan.

Meski demikian, masyarakat setempat relatif tenang dalam menghadapi kondisi lockdown. ”Di jalan-jalan juga nggak ada yang pakai masker” tutur Dessy yang bersama keluarga tinggal di Distrik Herlev, Kopenhagen, itu.

Di Kopenhagen toko-toko dan supermarket yang menjual kebutuhan pokok masih buka. Namun, tempat-tempat keramaian seperti bioskop dan restoran besar sudah ditutup. Demikian juga dengan kegiatan sekolah maupun tempat-tempat penitipan anak (baby care) yang tersebar di seantero kota.

Tapi, ya tentu saja. Para penduduk Kopenhagen sudah mulai bersiap-siap dengan membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar. Dessy sudah sejak beberapa hari belakangan mulai berburu kebutuhan pokok.

”Bahan seperti roti, pasta, dan susu sudah mulai agak jarang.”

Lulusan magister Danmarks Tekniske Universitet (DTU) itu menambahkan, warga juga tak lupa untuk berburu alat-alat perlindungan terhadap Covid-19. Terutama hand sanitizer. ”Hari ini (Jumat lalu, Red) sudah ada stok lagi. Tapi, setiap pembeli cuma boleh beli satu buah,” kata istri Thomas Jensen, 48, peneliti fisika di DTU tersebut.

Harganya juga naik. ”Biasanya 10 krone per botol sekarang jadi 20 krone,” tutur ibunda Dimas Conrad Jensen, 14; Seno Elliot Jensen, 10; dan Felix Karno Jensen, 5, tersebut.

Transportasi publik seperti metro, bus, maupun taksi masih aktif melayani penumpang. Artinya, masyarakat masih bebas mela-kukan perjalanan dalam negeri. Penerbangan ke beberapa negara tetangga juga belum ditutup.

Di Calabria, Italia, Yovian Prasetya, seorang mahasiswa Indonesia yang ada di sana, menceritakan betapa semakin lengangnya regione di selatan Italia tersebut. Sepanjang Jumat lalu (13/3), misalnya, hanya ada satu dua kendaraan yang melintas.

Masyarakat hanya melangkah keluar rumah bila benar-benar perlu. ”Minggu lalu saya masih bisa ke gereja, kegiatan seperti biasa. Tapi, sekarang harus stay di rumah,” kata Yovian saat diwawancara via telepon oleh Jawa Pos pada Jumat malam lalu

Meski jumlah korban Covid-19 di Calabria relatif kecil, wilayah tersebut terkena imbas lockdown seluruh Italia yang diumumkan Perdana Menteri Giuseppe Conte pada Senin (9/3) waktu setempat. Tercatat lebih dari 17.660 kasus Covid-19 di negara tersebut.

Sebanyak lebih dari 250 orang meninggal dunia dalam waktu 24 jam terakhir, sebagaimana dilansir dari Italian Civil Protection via Firstpost. Italia menjadi negara Eropa dengan kasus Covid-19 tertinggi.

”Pusat pemerintahan Italia di Roma sebetulnya belum berdampak terlalu parah. Tapi, kekhawatirannya memuncak karena melihat pemerintah yang tidak bisa mengontrol persebaran virus,” kata mahasiswa magister jurusan development of tourist and cultural system tersebut.

Calabria adalah regione yang beribu kota di Catanzaro. Yovian dan mahasiswa Indonesia di Calabria mengaku tak merasakan perubahan signifikan pada hari pertama lockdown. Menurut dia, kepanikan paling besar terjadi di Milan dan kota-kota kecil di sekitarnya di Italia Utara. Misalnya, Codogn.

Hanya, kegiatan di seluruh negara itu memang menjadi dibatasi. Misalnya, pengunjung supermarket dibatasi. ”Harus ngantre dulu, gantian,” ujarnya.

Suasana di salah satu pusat perbelanjaan di Cork, Republik Irlandia, dengan rak yang tampak kosong. (DESSY WINA HARJANI FOR JAWA POS)

Pada hari pertama restoran dan bar masih tetap buka. Namun, restoran dan bar wajib memastikan pengunjungnya menjaga jarak minimal 1 meter.

Hal itu juga diterapkan di kampus dan tempat-tempat umum lain. Termasuk di Universita Della Calabria, tempat Yovian belajar. ”Kalau mau ke kantin, duduknya enggak boleh samping-sampingan. Harus menyerong dan wajib jarak 1 meter,” terang Yovian.

Namun, di hari selanjutnya semua restoran dan bar ditutup tanpa terkecuali. Warga juga dilarang bepergian tanpa alasan yang jelas. Jika hendak melakukan aktivitas di luar rumah, setiap orang wajib mengisi form deklarasi.

Form yang bisa di-download secara online itu berisi keterangan keperluan kegiatan di luar rumah. Misalnya, bekerja, membeli bahan makanan, atau ke rumah sakit. Jika tidak punya printer, boleh ditulis dengan tangan saja.

Kata Yovian, ada polisi yang selalu bersiaga di jalan. ”Jadi, kita bisa diberhentikan di mana pun. Tinggal tunjukin surat itu, lalu tanda tangan polisi,” katanya.

Yovian yang saat ini tengah mempersiapkan sidang masternya pada bulan depan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Keperluan sidang diurus secara online karena semua kantor administrasi tutup. ”Di luar itu sama sekali enggak ngapa-ngapain, kebingungan,” katanya.

Kepanikan juga terjadi di Irlandia. Perdana Menteri Leo Varadkar mengumumkan bahwa sekolah, kampus, dan fasilitas childcare ditutup mulai Kamis (12/3) pukul 18.00 hingga 29 Maret mendatang waktu setempat.

Heru Maulana, 31, yang tengah menuntut ilmu di University College Cork (UCC), menuturkan bahwa ada beberapa universitas yang bahkan sudah menutup kegiatannya hingga tahun akademik baru. Atau ada September mendatang.

Salah satu kecemasan terbesar warga Irlandia, menurut Heru, adalah supply chain. Persediaan kebutuhan pokok sangat menipis. ”Kondisinya sudah sepekan ini. Dua kali saya ke supermarket besar di sini, stok makanan habis.”

Selain roti dan bahan makanan, kebutuhan rumah tangga seperti tisu, handuk, sabun tangan, dan hand sanitizer juga ludes.

Sementara itu, restoran juga sangat sepi pengunjung meski tidak ditutup seiring dengan adanya isu bahwa Irlandia akan melakukan lockdown seperti Italia. Sebagai presiden Indonesian-Irish Association (IIA), Heru mengatakan, belum ada diaspora Indonesia di sana yang terjangkit Covid-19. ”Semua stabil dan terkendali,” tandasnya.

Tak Ada Lagi Nonton Gratis di Bioskop

Status karantina untuk Metro Manila baru ditetapkan pada Kamis (12/3) malam lalu, tapi warga ibu kota Filipina itu sudah kadung cemas sejak siang harinya. Isu lockdown merebak, terutama setelah banyak negara mengumumkan kebijakan serupa.

Alhasil, pusat perbelanjaan diserbu. Sehari setelah pengumuman, kepanikan serupa lagi-lagi terjadi.

”Hari ini (Jumat, 13/3), antre bayar saja sampai dua jam. Warga dua kali panic buying,” kata Nobertus Ribut Santoso, mahasiswa asal Indonesia yang menempuh studi doktoral di University of the Philippines Diliman, Quezon City, sekitar 9 kilometer dari Manila.

Targetnya, karantina berlangsung sebulan dan berakhir pada 14 April. Selama itu pula akses menuju maupun dari Manila ditutup total. Itu sesuai dengan pengumuman Presiden Rodrigo Duterte pada Kamis malam waktu setempat, yang meningkatkan level waspada ke tingkat tertinggi di Code Red Sublevel 2.

Status tersebut ditetapkan setelah muncul kasus local transmission Covid-19. Hingga Jumat lalu, kasus di Filipina sudah mencapai 52 orang. ”Dari kasus pertama ke kedua, yang diketahui meninggal dan baru dari Wuhan (Tiongkok) itu, lanjut ke kasus ketiga cukup lama. Hampir sebulan nggak ada kasus baru,” papar Nobert, sapaan Nobertus Ribut Santoso.

Namun, setelah kasus ketiga muncul, angka kejadian Covid-19 langsung melesat tinggi. ”Pemerintah langsung waspada dan sangat concern,” lanjutnya.

Nobert mengungkapkan, dalam pengumumannya, Duterte tidak menggunakan kata lockdown. ”Istilah itu kan sangat sensitif dan justru memicu kepanikan yang lebih. Yang dipakai community quarantine,” jelasnya.

Tapi, status karantina tersebut tidak lantas membuat Quezon City sepi. ”Masih cukup banyak yang lalu-lalang, beraktivitas. Tapi jauh berkurang dari hari biasanya,” kata Nobert.

Pria yang tinggal di Filipina sejak Agustus 2018 itu menyatakan, kondisi kota tidak terlalu macet. Transportasi publik, termasuk bus dan jip, pun tidak terlalu penuh. ”Kalau hari biasa, banyak yang sampai berdiri.”

Nobert menjelaskan, pemerintah mengimbau penduduk tidak keluar dari Metro Manila. Pun sebaliknya. ”Di media setempat, daerah perbatasan kota diberitakan dijaga kepolisian. Pemerintah juga beri peringatan, yang nekat diberi sanksi sangat tegas,” ungkapnya.

Di tiap kelurahan petugas memberikan sosialisasi. Jika tidak mendesak atau penting, dilarang bepergian. Upaya preventif perse-baran virus korona juga sudah dilaksanakan sejak awal pekan. Mulai Selasa (10/3) sekolah dan kampus diliburkan. Awalnya libur dilaksanakan hingga Jumat lalu.

”Kalau ketahuan ada di keramaian, di mal atau supermarket, akan dipulangkan langsung oleh polisi,” kata Nobert.

Privilese untuk kalangan lansia berupa menonton gratis di bioskop, dengan syarat menunjukkan kartu senior citizen, dicabut se-lama masa lockdown.

Di area publik, kata dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu, misalnya pusat perbelanjaan, pengunjung wajib melalui skrin-ing suhu tubuh.

Mereka yang suhu tubuhnya melebihi standar yang ditetapkan dilarang masuk. Hand sanitizer disediakan di banyak titik. Imbauan cuci tangan dipasang.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c10/c9/ttg



Close Ads