
Paramedis mengambil sampel darah teman sejawatnya pada test serelogy untuk dokter dan paramedis di Siloam Hospitals Kebun Jeruk Jakarta, Selasa (11/8/2020). Dalam upaya menjaga kesehatan dan keamanan bagi para tenaga kesehatan, staf dan pekerja pendukung
JawaPos.com - Pemerintah mengklaim sudah berhasil mengendalikan Covid-19 di tanah air. Padahal jika melihat data kasus baru, jumlahnya rata-rata 3 ribu kasus per hari. Belum lagi angka pasien meninggal akibat Covid-19, Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara dari sisi jumlah atau fatality rate. Kini sidah 8.025 jiwa meninggal akibat Covid-19.
Menanggapi klaim pemerintah tersebut, Juru Bicara KawalCOVID19, Miki Salman mengatakan semestinya yang menjadi patokan keberhasilan mengendalikan wabah Covid-19 bukan angka kesembuhan. Tapi, bagaimana melihat kondisi di lapangan, apakah kapasitas rumah sakit cukup, apakah semua orang yang butuh perawatan bisa mendapatkan pelayanan.
"Di banyak tempat sudah mulai kesulitan mencari RS rujukan," sebut Miki.
Menurutnya, pemerintah ingin tampil baik. Sifatnya tak mau disalahkan. Angka kasus jelas-jelas tak terkendali dibanding negara mana pun.
"Masih bilang cukup terkendali walau data mengatakan lain tapi secara epidemiologis, mungkin bukan wajar' atau tidak, tapi tidak benar. Indikator yang lebih penting daripada angka kesembuhan," ungkapnya.
"Benar (memang) aneh, tapi enggak heran (soal klaim pemerintah). Memang yang ada begitu tapi keanehan itu sudah wajar di negara ini, jadi kami enggak heran," tegas Miki Salman.
Sebelumnya, Plt Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Abdul Kadir mengatakan dalam Simposium Nasional Dies Natalis 64 Universitas Hasanuddin yang disiarkan langsung akun YouTube FKM UNHAS, Selasa (1/9) bahwa Indonesia sudah berhasil mengendalikan Covid-19. Hal itu dilihat dari sisi kesembuhan pasien yang terus bertambah.
"Kita sudah berhasil mengendalikan Covid-19 terlihat dari angka kasus kesembuhan yang terus bertambah. Yang terpenting bagaimana melakukan tatanan kehidupan baru dengan protokol kesehatan. Yakni memakai masker, mencuci tangan, dan physical distancing. Itu yang penting, enggak perlu lagi lockdown atau PSBB. Kalau begitu apa yang terjadi? Ekonomi kita tak bergerak, negara akan resesi. Terjadi konflik sosial di mana-mana," katanya.
Di satu, sis kondisi di lapangan saat ini, rumah sakit sudah semakin penuh. ICU tak cukup lagi menampung pasien. "ICU kami sudah penuh," kata Juru Bicara RS Persahabatan dr. Erlina Burhan kepada JawaPos.com baru-baru ini.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=8UgOPFdzR0A
https://www.youtube.com/watch?v=XPNutBVSb3o
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Kuching City vs Tampines di ASEAN Club Championship: The Cats Unggul Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Didik J Rachbini: Putusan MK Ungkap Kebohongan Gibran dan Jokowi
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Meksiko vs Cile: El Tri Bakal Bangkit, La Roja Akhiri Tren Buruk
Gibran Terbukti Tak Punya Ijazah SMA, tapi MK Tidak Berwenang Diskualifikasi dari Wapres

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022