
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim saat pertemuan konsolidasi dengan tujuh menteri dan sembilan kepala lembaga di bawah lingkup koordinasi Kemenko PMK, Jakarta, Kamis (31/10/2019). Adapun konsolidasi tersebut membahas percepatan pencapaian
JawaPos.com – Skor Indonesia pada Programme for International Student Assessment (PISA) masih di bawah rata-rata. Kemampuan membaca, matematika, dan sains rendah. Selain itu, hanya sedikit siswa Indonesia yang memiliki kemampuan tinggi dalam satu mata pelajaran dan mencapai tingkat kemahiran minimal.
Hasil PISA yang dirilis The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan kemampuan membaca siswa tanah air meraih skor 371. Jauh di bawah rata-rata yakni 487. Demikian pula dengan kemampuan matematika. Hanya mencapai 379 poin dari rata-rata 487 poin. Begitu juga kemampuan sains siswa Indonesia dengan skor 389. Angka tersebut selisih 100 poin dari rata-rata 489 poin.
Pada survei PISA kemampuan membaca, hanya 30 persen dari total responden siswa Indonesia yang mencapai kemahiran level dua. Level kemampuan mengidentifikasi ide utama dalam teks sedang dan panjang. Mampu mencari informasi berdasarkan kriteria yang eksplisit, meskipun terkadang rumit. Serta, dapat merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan untuk melakukannya.
Sedangkan untuk matematika, ada 28 persen yang mampu mencapai kemahiran level dua. Dalam tingkatan itu, siswa dapat menafsirkan dan mengenali, tanpa instruksi langsung, bagaimana situasi dapat direpresentasikan secara matematis.
Hanya satu persen siswa Indonesia yang menguasai kemampuan matematika tingkat tinggi (tingkat lima ke atas). Dalam level tersebut siswa dapat membuat model situasi yang rumit secara matematis, memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi penyelesaian masalah yang tepat untuk menghadapinya.
Terkait hal itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menilai hasil laporan PISA sangat penting. Sebab memberikan perspektif dan masukan baru mengenai kekurangan yang tidak disadari. ”Kita tidak mungkin bisa mengetahui apa yang harus kita perbaiki, apa yang harus kita lakukan kalau kita tidak mendapat persepktif dari luar,” kata Nadiem di kantornya, Selasa (3/12).
Dia mengatakan, pola pikir anak Indonesia untuk berkembang dan maju lebih baik masih kurang. Optimismenya rendah. Inilah yang mungkin membuat gagal. Dibilang mereka (siswa) tidak mampu. Dibilang semua tolak ukurnya adalah suatu angka (nilai) di dalam mata pelajaran yang mungkin bukan bakatnya. Hal tersebut membuat siswa kehilangan rasa percaya diri.
”Akibatnya, siswa merasa ya sudah saya segini-gini saja,” ujar mantan CEO Gojek itu. Artinya, aspek tersebut yang harus ditingkatkan. Guru tidak hanya sekadar mengajarkan mapel (mata pelajaran). Tapi harus bisa menanamkan rasa percaya diri kepada setiap siswa.
Menilik hasil PISA, Nadiem menilai Indonesia sedang mengalami krisis literasi. Banyak masyarakat yang lebih memilih menonton televisi daripada membaca. Padahal membaca tidak hanya identik dengan bacaan buku yang serius. Bisa berita, komik, novel, dan berbagai macam bentuk lainnya. ”Ini adalah peran orang tua. Apakah di ruang TV (keluarga) ada buku-buku? Apakah setiap hari bapak/ibu membaca? Ini harus menjadi perhatian,” ucapnya.
Terkait membaca tidak harus buku, platform digital juga merupakan bagian dari literasi. Pentingnya mengubah paradigma memaksa anak belajar apa. Lebih baik menjadi memberi anjuran kepada anak-anak untuk membaca. ”Membaca apapun. Buat anak merasa bahwa membaca adalah suatu hal yang menyenangkan.
Sama saja, seorang anak tidak dipaksa untuk belajar dan mengerti bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Tapi buatlah anak mencintai materi-materi buku maupun film yang disukai. ”Berita penurunan ini tidak perlu dikemas dengan cara positif. Kita sebagai pemimpin bahkan sampai tingkat kepala sekolah harus jujur. Karena kita sedang mengalami krisis literasi. Ini hal yang serius,” tegas Nadiem.
Dosen sekaligus pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal menyampaikan keprihatinan atas menurunnya nilai pengukuran PISA untuk Indonesia. Baginya penurunan itu merupakan cerminan dari orientasi kebijakan politik pendidikan dan metodologi pendidikan yang salah.
"Orientasi kebijakan politik pendidikan kita masih pada standarisasi dan pemenuhan persyaratan administrasi ansih," katanya saat ditemui usai workshop GSM untuk kepala sekolah dan pengawas se-Kabupaten Tangerang di Serpong kemarin. Dia mengatakan orientasi kebijakan pendidikan di Indonesia masih cenderung penyeragaman administrasi sistem pendidikan.
Rizal mengatakan seharusnya orientasi kebijakan pendidikan diarahkan untuk memerdekakan guru dalam mengajar. Kemudian membangun siswa sesuai dengan kodrad manusia secara optimal. Menurut Rizal kodrad manusia adalah rasa ingin tahu, imajinasi kreativitas, dan kolaborasi.
Dia menegaskan bahwa penilaian PISA itu bukan untuk mengukur capaian belajar siswa atau guru layaknya UN. Tetapi mengukur capaian kinerja kebijakan pemerintah untuk urusan pendidikan. Jadi ketika ada penurunan nilai PISA seperti ini, siswa maupun guru tidak boleh disalahkan.
Dia mencontohkan PISA mengukur kemampuan literasi siswa. Kemampuan ini bukan sekadar membaca. Tetapi memahami teks untuk memecahkan masalah kontekstual. Keterampilan seperti itu bisa didapatkan oleh siswa yang dilatih nalar kritisnya.
Rizal menambahkan metodologi pendidikan di Indonesia menjadikan guru dan murid sebagai objek yang paling bawah dalam ekosistem pendidikan. Efeknya guru cenderung mengejar aspek administrasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti administrasi untuk mendapatkan tunjangan profesi dan lainnya. Dia mengatakan hasil PISA yang terus menurun, kontras dengan dana pendidikan yang terus meningkat.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
