
Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Fraksi PKS, Rizal Bawazier, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
JawaPos.com – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 tercatat mengalami defisit sebesar Rp 695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut mendekati ambang batas aman defisit sebesar 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang APBN.
Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Fraksi PKS, Rizal Bawazier, menilai pemerintah perlu menyiapkan strategi keuangan yang lebih konkret, khususnya dari Kementerian Keuangan, dengan fokus pada perbaikan sistem perpajakan.
“Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan dan instansi terkait, harus melakukan strategi keuangan yang konkret, khususnya mengenai perpajakan,” kata Rizal di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/1).
Menurut Rizal, salah satu kelemahan utama dalam struktur APBN saat ini berada pada sektor perpajakan, terutama pada penerimaan bea dan cukai.
Ia menilai pembenahan sistem perpajakan perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih progresif. Rizal menyebutkan bahwa penerimaan negara terbesar saat ini masih bertumpu pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Di sisi lain, ia melihat adanya harapan besar dari masyarakat agar pemerintah melakukan penyesuaian terhadap Pajak Penghasilan (PPH) karyawan. Menurutnya, meskipun kebijakan tersebut berpotensi menurunkan penerimaan PPH dalam jangka pendek, dampaknya justru dapat mendorong konsumsi dan meningkatkan penerimaan PPN.
Anggota Komisi VI DPR RI itu mengapresiasi kebijakan pemerintah yang telah menetapkan batas tidak kena pajak hingga Rp 10 juta untuk lima sektor tertentu. Namun, ia menilai ambang batas tersebut masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
“Di beberapa negara tetangga, threshold bebas pajak karyawan itu bisa sampai Rp25 juta bahkan Rp 30 juta,” ujarnya.
Ia berpendapat, jika batas bebas pajak PPH Pasal 21 dinaikkan hingga Rp 25 juta dan diterapkan secara lebih luas, maka meskipun penerimaan PPH 21 akan turun sementara, peningkatan konsumsi masyarakat akan mendorong kenaikan penerimaan PPN.
Selain itu, Rizal menyoroti praktik di mana PPH karyawan kerap ditanggung oleh perusahaan, sehingga menambah beban biaya operasional. Jika beban tersebut dikurangi, perusahaan dinilai akan lebih leluasa berkembang karena struktur biayanya menjadi lebih efisien.
“Tidak apa-apa diberikan fasilitas itu, karena PPH karyawan pada beberapa perusahaan ditanggung, sehingga cost-nya menjadi tinggi,” pungkasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
