Tanaman selada hidroponik yang dikelola Ida Cholifah dan Budianto, Desa Mulya Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung/(Dimas Choirul/Jawapos.com)
JawaPos.com — Di tepi jalan raya Desa Mulya Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, hamparan hijau selada hidroponik rancak dipandang mata. Kebun seluas 10 x 50 meter itu kini menjadi salah satu pemasok utama selada hidroponik untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke beberapa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pengelolanya, Ida Cholifah dan Budianto, tak menyangka perubahan besar datang begitu cepat sejak MBG berjalan empat bulan ini—Agustus 2025.
"Alhamdulillah seladaku jadi payu (laku:dalam bahasa jawa)," ungkap Ida sambil tersenyum kepada Jawapos.com, Senin (1/12).
Ida bercerita, usaha hidroponik ini awalnya dirintis oleh sang ibu bersama kakaknya pada pandemi Covid-19 lalu. Seiring berjalannya waktu, beberapa perubahan Ia lakukan, termasuk mengganti jenis bibit dengan varietas lebih unggul. “Yang bagus di sini adalah Selada Ria dan Caipira,” kata Ida.
Adanya program MBG membawa perubahan besar dalam keberlanjutan usaha selada hidroponiknya. Di mana pola distribusi berubah karena sebagian pengelola dapur lebih memilih mengambil langsung.
Permintaan yang stabil itu membuat hasil panen terserap lebih baik dibanding sebelumnya yang bergantung pada pasar musiman. “Datangnya MBG senang! Dapat duit banyak!” ujar Ida, bahagia.
Tanaman selada hidroponik yang dikelola Ida Cholifah dan Budianto, Desa Mulya Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung/(Dimas Choirul/Jawapos.com)
Ida mengaku, kebutuhan selada untuk program ini cukup besar sehingga permintaan datang dari berbagai SPPG. Bahkan beberapa dapur SPPG dari daerah jauh seperti Way Kanan lebih memilih mengambil dari kebunnya karena kualitas lebih baik. “Dia (pihak SPPG) enggak mau selada tanah karena kualitasnya beda,” tegas Ida.
Adapun permintaan kebutuhan selada tidak selalu sama, tergantung jadwal penggunaan menu di tiap dapur MBG setiap minggunya. Ada SPPG yang minta bertahap 35-40 kilogram, sampai 80 kilogram sekali beli.
Selain itu, permintaan ikatan juga tinggi di daerah sekitar, meskipun terkadang stok tak mencukupi. “Tadi pagi saja habis ngikatin 100,” katanya. Dalam satu ikat, harganya Rp 4.000. Jika dihitung per kilogram harganya Rp 37.000.
Mengenai pendapatan, Ida mengakui keuntungan kotor bisa mencapai sekitar Rp15 juta per bulannya. Pendapatan itu kemudian dipakai untuk renovasi dan pengembangan usaha, termasuk penambahan meja tanam. “Langsung kita putar lagi untuk pembangunan,” katanya.
Ia berharap program MBG bisa berlangsung dalam jangka panjang karena dampaknya sangat terasa bagi petani lokal sepertinya. Stabilnya permintaan memberi keyakinan untuk terus memperluas usaha dan menambah fasilitas produksi. “Pokoknya kalau MBG terus berjalan, insyaallah kebelilah mobil,” tuturnya, malu-malu.