
Ketua Umum IKA ISMEI, Bahtiar Sebayang. (Istimewa)
JawaPos.com – Ikatan Alumni Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI) menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap harus berlanjut meski menghadapi berbagai persoalan.
Ketua Umum IKA ISMEI, Bahtiar Sebayang, menyatakan bahwa evaluasi dan pengendalian ketat perlu dilakukan tanpa perlu menyetop MBG agar manfaat program tidak hilang karena masalah teknis di lapangan.
“Program MBG ini sebetulnya adalah investasi masa depan. Untuk anak-anak, ibu hamil, untuk memperbaiki gizi dan menangani stunting, juga sebagai motor penggerak ekonomi lokal karena melibatkan UMKM, mitra dapur, dan penyedia bahan baku lokal. Program bagus, sangat dibutuhkan,” kata Bahtiar, Selasa (23/9).
Hingga Agustus 2025, lebih dari 6.000 dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi dengan penerima manfaat mencapai sekitar 20 juta orang. Pemerintah menargetkan 30.000 dapur beroperasi sampai akhir tahun, sehingga masih dibutuhkan sekitar 24.000 tambahan dapur.
Namun, program ini diwarnai sejumlah persoalan. Kasus keracunan dialami 121 siswa di PALI, Sumatera Selatan, pada Mei lalu, serta sejumlah siswa di Sleman, Yogyakarta, pada Agustus. Insiden serupa juga menimpa 569 siswa di Garut pada September, dan 46 siswa di Baubau, Sulawesi Tenggara, pada 16 September. Gejala keracunan diduga dipicu oleh makanan yang basi, tidak matang, atau tidak memenuhi standar kebersihan.
“Kami tidak menutup mata kalau ada banyak kendala yang harus segera diperbaiki, mulai dari keracunan, distribusi yang tidak merata, kualitas makanan yang belum konsisten. Ini bukan alasan untuk menghentikan program, melainkan panggilan untuk evaluasi dan kontrol yang serius,” turur Bahtiar.
IKA ISMEI mencatat, selain masalah keamanan pangan, persebaran dapur MBG belum merata, terutama di wilayah Indonesia Timur yang masih dalam tahap verifikasi. Organisasi itu mengusulkan lima langkah perbaikan, antara lain evaluasi menyeluruh standar operasional, pengawasan ketat lintas lembaga, perbaikan di wilayah dengan masalah terbanyak, menjaga keberlanjutan program sebagai pembangunan sumber daya manusia, serta memastikan komitmen penuh para pengelola dapur.
“Manfaat jangka panjang program ini sangat besar bagi generasi penerus bangsa. Karena itu, pemerintah pusat dan daerah harus bekerja sama agar MBG berjalan dengan baik, aman, dan mampu memberdayakan ekonomi lokal,” pungkas Bahtiar.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
