Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 April 2025 | 16.58 WIB

Refleksi Lintas Iman di Surabaya, Doa dan Penghormatan untuk Mendiang Paus Fransiskus

Para tokoh lintas agama saat refleksikan kepergian Paus Fransiskus. (Juliana Christy/JawaPos.com) - Image

Para tokoh lintas agama saat refleksikan kepergian Paus Fransiskus. (Juliana Christy/JawaPos.com)

JawaPos.com - Suasana haru dan damai menyelimuti halaman Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Surabaya pada Selasa malam (22/4). Ratusan orang dari berbagai latar belakang agama, etnis, dan komunitas berkumpul dalam perayaan Misa Oktaf Paskah yang diiringi doa khusus untuk mendiang Paus Fransiskus.

Bukan hanya umat Katolik yang hadir. Tokoh-tokoh dari komunitas Islam, Kristen lintas denominasi, Hindu, Buddha, serta pemimpin masyarakat turut meramaikan misa yang dipimpin oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tribudi Utomo. Perayaan ini menjadi simbol nyata kerukunan lintas iman yang terbangun melalui sosok pemersatu seperti Paus Fransiskus.

Di sela perayaan, momen refleksi lintas agama, para tokoh dari berbagai keyakinan diberikan waktu untuk menyampaikan kesan dan doa bagi Paus Fransiskus secara bergiliran. Salah satunya datang dari Aan Anshori, aktivis lintas iman dari Jaringan GUSDURian.

“Malam ini, kita berkumpul bukan hanya karena sedih. Tapi juga karena ingin merayakan pesan-pesan kemanusiaan yang selalu digaungkan Paus Fransiskus,” ujar Aan. “Beliau bukan hanya milik umat Katolik, tetapi milik seluruh peradaban manusia. Bahkan teman-teman pesantren, Banser, dan kelompok-kelompok lain yang biasanya sinis terhadap agama lain, justru mengagumi beliau," lanjutnya.

Aan menekankan, ajaran Paus tentang cinta kasih dan penerimaan tanpa syarat menjadi refleksi penting bagi siapa pun yang terbiasa menghakimi sesama. “Beliau mengajarkan kita bahwa bukan hak kita menentukan siapa masuk surga atau neraka. Itu pesan spiritual yang mendalam,” ucapnya.

Tokoh lintas agama lainnya, Rita Wahyu Wulandari dari Israel Bible Center menyampaikan, kepergian Paus Fransiskus menjadi momen yang menyatukan berbagai keyakinan.

“Ini adalah manifestasi nyata dari semangat Konsili Vatikan II—Ut Unum Sint, agar semua menjadi satu,” kata Rita. “Paus Fransiskus telah menjadi jembatan bagi umat Kristiani dari berbagai denominasi dan juga dengan pemeluk agama lain. Beliau adalah simbol keterbukaan dan kerendahan hati,” tambahnya.

Rita mengapresiasi semangat yang ditunjukkan oleh Uskup Agustinus yang telah mengundang berbagai pemimpin agama untuk turut hadir dan bersama-sama memimpin doa dalam perayaan tersebut. “Kami diundang bukan sebagai tamu, tapi sebagai saudara. Itulah semangat Paus Fransiskus yang dilanjutkan di Surabaya,” tuturnya.

Dalam refleksi yang penuh khidmat itu, para tokoh lintas agama memimpin doa secara bergantian. Doa Islam dibacakan oleh perwakilan pesantren, disusul doa Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Katolik. Setiap doa disampaikan dalam suasana hening dan penuh hormat, menegaskan bahwa pesan kasih universal dari Paus Fransiskus telah menembus sekat-sekat keyakinan.

Perayaan ini menjadi bukti bahwa pengaruh Paus Fransiskus tak hanya terasa di Vatikan, tetapi juga hidup dalam hati masyarakat di Surabaya, yang mengenangnya sebagai pemimpin spiritual yang membawa cinta kasih, kedamaian, dan keberpihakan pada mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore