Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 April 2023 | 02.42 WIB

Ketua PP Muhammadiyah Minta Negara Hadir Soal Perbedaan Lebaran Tahun In

Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir (ANTARA/Qadri Pratiwi) - Image

Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir (ANTARA/Qadri Pratiwi)

JawaPos.com-Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta negara hadir sehubungan dengan potensi perbedaan penentuan waktu Idul Fitri1444 H antara Muhammadiyah dengan pemerintah.

’’Lebaran boleh berbeda, tetapi kita bisa bersama merayakan dan melaksanakannya. Kalau besok ada perbedaan itu adalah hal yang lumrah karena ini soal ijtihad, sampai nanti kita bersepakat ada kalender Islam global," ujarnya, Minggu (16/4).

Di tengah perbedaan tersebut, ia meminta agar negara hadir secara adil dengan memberikan fasilitas yang sama. Terlebih dalam urusan keagamaan, jangan sampai terjadi rezimentasi agama di Indonesia hanya karena perbedaan

’’Kalau misalkan tidak memberi fasilitas yang selama ini digunakan menjadi milik negara untuk yang berbeda seperti besok Muhammadiyah Lebaran 21 (April 2023), tidak perlu bikin larangan," tegasnya. "Syukur lebih kalau silakan gunakan, hari ini digunakan Muhammadiyah, besok digunakan tanggal 22," tambah Haedar.

Sebelumnya, Muhammadiyah sudah menentukan Idul Fitri 1444 H, 1 Syawal, jatuh pada Jumat, 21 April 2023 mendatang. Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Bidang Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar dalam keterangannya.

"Menurut kriteria wujudul hilal yang tidak berpatokan pada penampakan, yaitu tidak terlihat dan terlihatnya, maka keesokan harinya sudah masuk bulan baru, yaitu untuk satu Syawal itu 21 April 2023," ujarnya, dikutip Minggu (17/4).

Penetapan tanggal pertama bulan Syawal itu, kata Syamsul memang kemungkinan berbeda dengan pemerintah. Bukan hanya bulan Syawal, perbedaan juga dapat terjadi di bulan Zulhijjah.

Pasalnya, ia mengatakan bahwa MABIMS atau gabungan dari berbagai Menteri Agama di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam memberi kriteria bahwa tinggi bulan sekurang-kurangnya tiga derajat dan elongasi 6,4 derajat.

"Menurut kriteria MABIMS tinggi bulan sekurang-kurangnya 3 derajat dan elongasi, yaitu jarak bulan dan matahari itu 6,4 derajat. Nah itu belum terpenuhi," jelas Syamsul.

Kriteria penentuan perpindahan bulan ke bulan itu, katanya, berdasarkan MABIMS perlunya hilal dapat dilihat. "Karena belum dapat dilihat, maka menurut kriteria MABIMS keesokan harinya belum terpenuhi syarat untuk memasuki bulan baru," tandasnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore