Aksi Dejan Tumbas saat melawan PSS Sleman. (Media Persebaya)
JawaPos.com - Keputusan mengejutkan sempat dibuat Persebaya Surabaya pada jendela transfer paruh musim awal bulan ini. Bukannya membeli pemain Amerika Selatan seperti lazimnya klub-klub Liga 1, Green Force malah membeli striker asal Serbia, Dejan Tumbas.
Kehadiran Dejan Tumbas memang diharapkan bisa menambah daya gedor Persebaya di putaran kedua. Apalagi Flavio Silva sudah mulai menunjukkan ketajamannya kembali di putaran pertama dengan menyumbang enam gol.
Sayangnya, ekspektasi tinggi terhadap Cak Tumbas belum sesuai yang diinginkan. Dalam tiga laga yang sudah ia mainkan, Tumbas belum mencetak satu gol pun. Hal itu kemudian menimbulkan pertanyaan, tepatkah Persebaya mengontraknya?
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengontrak pemain Eropa, termasuk para pesepakbola dari sekitar Eropa Timur dan wilayah Balkan, namun seringkali adaptasinya lebih sulit.
Menurut mantan bek Persebaya, Hamka Hamzah, salah satu kendala adaptasi bagi pemain Eropa Timur di Indonesia adalah faktor cuaca.
"Ada perbedaan cuaca antara Indonesia dengan Eropa Timur. Dari pengalaman saya bermain satu tim dengan pemain asal Eropa Timur, mereka tidak kuat panas saat pertama-pertama di Indonesia. Nah, ini mungkin yang membuat mereka (Dejan Tumbas dan Dime Dimov) belum bisa nyetel dengan tim," ujar Hamka seperti dikutip dari akun YouTube Bola Akmal.
Ia pun menyayangkan mengapa Persebaya tidak membeli pemain asal Amerika Selatan saja yang secara kondisi cuaca dari negara asalnya tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia.
"Saya agak menyayangkan mengapa Persebaya tidak membeli pemain asal Amerika Latin saja yang cuaca di negara mereka tidak jauh berbeda (panasnya) dengan di Indonesia. Atau dari negara Eropa seperti Portugal atau Spanyol," imbuhnya.
Secara statistik, mengutip dari Sofascore, Dejan Tumbas juga belum menunjukkan progres. Selalu dimainkan dalam tiga pertandingan, ia belum mencetak gol, bahkan belum melepaskan satu pun tendangan ke arah gawang. Oleh karena itu, jika performanya masih seperti itu, ia bisa dianggap pembelian yang gagal.
Padahal jika Persebaya jeli, sebenarnya ada satu mesin gol asal Brasil yang tidak memiliki klub pada putaran kedua Liga 1, yaitu Leo Gaucho.
Ia kini berstatus tanpa klub setelah Borneo FC tidak memperpanjang kontraknya. Padahal, Leo Gaucho masuk dalam jajaran top skor Liga 1 musim ini, yaitu mencetak tujuh gol dan usianya juga masih muda yaitu 23 tahun.
Andai saja Leo Gaucho pindah ke Persebaya, maka bukan tidak mungkin ia bisa menjadi mesin gol baru bagi pasukan Paul Munster karena ia juga sudah beradaptasi dengan baik dengan persepakbolaan Indonesia.
Kini nasi sudah menjadi bubur. Jendela transfer sudah ditutup. Persebaya sudah terlanjur membeli Tumbas sebagai amunisi baru, dan Leo Gaucho masih berstatus tanpa klub.
Pekerjaan rumah besar kini menanti Coach Paul Munster. Selain meningkatkan performa dan kepercayaan diri timnya, ia juga dituntut membuat Tumbas segera menjadi penyerang tajam dan secepatnya beradaptasi dengan kondisi di Indonesia.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
