Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 April 2023 | 22.01 WIB

Manfaatkan Momen Ramadan, MUI Kutuk Penipuan QRIS Amal Masjid

 

Kasus penipuan dengan cara menempelkan QRIS di masjid-masjid menjadi atensi besar di media sosial. Pasalnya, aksi yang dilakukan oleh Mohammad Iman Mahlil, 37, itu tergolong modus baru.

 
JawaPos.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespon keras kejadian penipuan QRIS kotak amal masjid. Ketua Komisi Dakwah dan Ukhuwah Islamiyah MUI Cholil Nafis mengutuk kejahatan itu. Apalagi pelakunya orang yang pernah bekerja di perbankan. 
 
Respons Cholil Nafis itu disampaikan usai membuka pelatihan calon Khatib Muda Yayasan Majelis Al Washiyyah di Jakarta.
 
"Saya menyesalkan kasus ini. Kami mengutuk kejadiannya. Sekilas pelakunya orang yang mengerti perbankan," kata Cholil pada Selasa (11/4) malam.
 
Cholil mengutuk kejadian itu karena ilmu atau kepintaran pelaku justru digunakan untuk mengelabui umat. Ia juga minta masyarakat harus lebih hati-hati. Jika ingin menyalurkan amal lewat QRIS harus dipastikan nama lembaganya.
 
"Setiap masjid kan ada namanya. Jika nama di QRIS tidak sesuai dengan nama masjid, jangan dilanjutkan," katanya.
 
Atau, lanjut Cholil, masyarakat bisa menanyakan dahulu ke pengurus atau takmir masjid bersangkutan. Dia juga menuturkan penipu atau pelaku kejahatan itu telah memanfaatkan momen Ramadan.
 
"Sesuai ajaran Nabi Muhammad, umat Islam diminta banyak beramal saat bulan puasa. Tetapi ternyata ada penjahat yang memanfaatkan masa-masa puncak kedermawanan umat Islam itu," ujarnya. 
 
Cholil bersyukur pelakunya sudah ditangkap. Namun dia berpesan kepada kepolisian supaya transparan dalam mengusut kasus tersebut. Dia meyakini pelaku tidak bergerak sendirian. Sehingga perlu ditelusuri jaringan yang terlibat. Sehingga kasus ini bisa diusut secara tuntas. 
 
Dia juga meminta perbankan hati-hati dalam menerbitkan QRIS. Jika ada unsur kelalaian, sampai terjadi penyalahgunaan QRIS, perbankan bisa ikut diperkarakan.
 
"Karena sudah mengacaukan data," jelasnya. 
 
Pada kesempatan itu Cholil juga berpesan kepada tokoh agama termasuk khatib atau penceramah untuk sosialisasi. Sayangnya menurut Cholil, jumlah khatib di Indonesia masih terbatas. Padahal umat begitu membutuhkan sosok seorang khatib. 
 
"Khatib tidak hanya saat salat Jum'at saja," katanya.
 
Tetapi beragam aktivitas keagamaan masyarakat juga membutuhkan tausiah dari khatib atau penceramah. Dia berharap ajang pelatihan khatib muda itu bisa menjalankan misi kaderisasi khatib di tengah-tengah masyarakat.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore