Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Maret 2024 | 17.20 WIB

Simulasi Program, Siswa Mengaku Porsi Makan Siang Gratis Kebanyakan

Sejumlah siswa kelas IX melakukan makan siang gratis di SMPN 2 Curug, Kab. Tangerang, Kamis (29/02/2024). - Image

Sejumlah siswa kelas IX melakukan makan siang gratis di SMPN 2 Curug, Kab. Tangerang, Kamis (29/02/2024).

JawaPos.com - Pemerintah mulai melakukan simulasi untuk program makan siang gratis bagi pelajar. Makan siang gratis bagi siswa sekolah merupakan program capres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Simulasi makan siang gratis berlangsung di SMPN 2 Curug Tangerang pada Kamis (29/2). Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang turut menghadiri simulasi berharap dapat melakukan evaluasi dan menggali masukan. Salah satu yang disebutnya penting adalah SOP dalam pemberian makan gratis. Termasuk dari sisi literasi gizi dan multiplier effect kepada UMKM sekitar sekolah.

Dalam simulasi kemarin, semua menu dihargai Rp 15 ribu per porsi. Itu diklaim sudah memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, dan buah. Empat menu yang disajikan dalam simulasi meliputi nasi ayam, nasi semur telur, gado-gado, dan siomay.

Airlangga juga melakukan dialog dengan para siswa. ”Ini habis nggak kalau segini? Habis atau kebanyakan?” tanya dia. ”Kebanyakan,” jawab salah seorang siswi. Dia pun menimpali jawaban itu. ”Kebanyakan tuh. Rp 15 ribu dianggap kebanyakan,” ujar Airlangga.

Dalam simulasi makan siang gratis kemarin, hanya 4 kelas yang mengikuti. Di sekolah tersebut, total ada 25 kelas. Mekanismenya, para murid membawa kotak makan dari rumah.

Kotak makan itu lantas diserahkan kepada kantin yang telah menyiapkan hidangan makan siang gratis. Setelah itu, kotak makan siap didistribusikan kepada para siswa.

Para siswa pun mengaku senang jika diberi makan gratis di sekolahnya. Apalagi, SMPN 2 Curug Tangerang menerapkan sistem full day school.

Tinjauan Gizi

Bagaimana pemberian makan siang gratis untuk anak sekolah di mata ahli gizi? Ahli gizi komunitas dr Tan Shot Yen menuturkan, makan di usia sekolah tidak bisa asal. ”Tidak asal mangap telan,” katanya kepada Jawa Pos.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, anak-anak usia sekolah harus memahami apa yang dimakan. Artinya, anak harus tahu bahan makanan tersebut mengandung apa dan tujuannya untuk tubuh apa. ”Itu edukasi,” imbuhnya.

Tan menjelaskan, memberi makan anak bukan hanya soal asupan gizi. Anak harus mengenal rasa, tekstur, dan bentuk agar makanan itu membentuk referensi dan preferensi. Ketika dewasa, rujukan makanannya seperti apa merupakan cerminan sejak kecil. (dee/lyn/c19/fal)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore