
Tangkapan layar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo. Hreeloita Dharma Shanti/Antara
PERNIKAHAN di usia yang terlalu muda berisiko pada pola pengasuhan yang tidak baik hingga pengaruh pada kesehatan dan kondisi sosial-ekonomi. Berikut wawancara dengan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo SpOG seputar pernikahan dini.
Bagaimana data pernikahan dini di BKKBN?
Untuk perempuan, data BKKBN dari survei kapan Anda hamil dan melahirkan kali pertama.
Dari hasil itu dibagi ke kelompok fertil pada usia tertentu. Pada 2021 ada 22 per 1.000 perempuan pernah hamil pada usia 15–19 tahun. Angkanya turun pada 2022 menjadi 21. Lima tahun lalu masih di angka 26. Lima belas tahun lalu 36. Jadi, 15 tahun lalu sampai sekarang mengalami penurunan. Secara objektif, kesimpulannya, makin sedikit orang yang pernah hamil dan melahirkan pada usia 15–19 tahun.
Apa dampak dari pernikahan dini, baik bagi perempuan maupun laki-laki?
Dari sisi biologis, laki-laki tidak seberat perempuan. Perempuan secara biologis berat karena saat hamil dia harus berbagai nutrisi kepada janinnya. Padahal, saat remaja dia butuh nutrisi untuk pertumbuhan tubuhnya. Ketika hamil, nutrisinya tidak maksimal, baik untuk janin maupun ibunya. Perempuan harus menanggung hidup yang ada di dalam rahimnya.
Laki-laki begitu punya sperma yang bisa membuahi, tidak masalah. Namun, dari sisi nonbiologis, kematangan dan kedewasaan penting sekali. Secara psikologis, kedewasaan dan kematangan laki-laki dalam memimpin keluarga diperlukan. Secara ekonomi, laki-laki juga harus mandiri. Maka, BKKBN kampanye usia pernikahan perempuan minimal 21 tahun dan laki-laki 25 tahun.
Kalau sudah telanjur menikah di bawah usia yang dianjurkan, apakah harus KB?
Bisa dua-duanya (laki-laki dan perempuan). Itu yang dianjurkan. Sekarang yang mau nikah harus punya sertifikat nikah bahwa dia sudah periksa kesehatan. Dari pemeriksaan itu, misal usianya di bawah 20 tahun atau ada riwayat anemia, terlalu kurus, dan lainnya, harapannya KB dulu. Gunakan KB yang ringan seperti kondom, pil, atau suntik. Belum pakai KB yang jangka panjang.
Apa yang biasanya dialami pasangan muda?
Yang saya lihat, angka perceraian tinggi di umur 25–35 tahun. Dari hasil penelitian, penyebab perceraian adalah cekcok kecil yang berkepanjangan. Cekcok yang berkepanjangan itu disebabkan keduanya kurang dewasa. Artinya, tidak mampu memaklumi perbedaan pasangannya. Saya pernah nemu di lapangan usia 17 tahun, istrinya 16 tahun. Egonya masih tinggi.
Sekarang banyak yang berhubungan seksual secara dini dan hamil di luar nikah pada usia muda. Apa faktor penyebabnya?
Tak bisa dimungkiri, paparan informasi bisa memberikan dampak negatif. Selain itu, gizi yang baik juga menyebabkan kesuburan yang lebih dini. Zaman nenek kita, mungkin menstruasi pertama pada usia 16 tahun itu tidak apa-apa. Sekarang, banyak anak usia 12 tahun yang sudah menstruasi. Inilah perlunya pendidikan seksual sesuai usia.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
