Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 Agustus 2022 | 20.26 WIB

Ketahui Obat dan Fase Penularan HIV Seperti Dialami Mahasiswa Bandung

Ilustrasi cegah HIV/AIDS. Antara - Image

Ilustrasi cegah HIV/AIDS. Antara

JawaPos.com - Seseorang yang masuk dalam kelompok berisiko harus mewaspadai dan mengetahui status HIV pada tubuhnya. Misalnya, mereka yang seringkali berganti-ganti pasangan hingga pengguna narkoba suntik. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bandung mencatat 414 mahasiswa tertular HIV, begitu juga dengan ratusan ibu rumah tangga lainnya.

Ahli Spesialis Penyakit Dalam Prof. Dr.dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan seseorang hingga akhirnya mengidap HIV memerlukan waktu bertahun-tahun. Sehingga gejala bisa saja tidak disadari saat di tahap awal.

"Gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita infeksi HIV yang sudah lanjut, jika daya tahan tubuhnya sudah menurun," kata Prof Ari kepada JawaPos.com, Kamis (25/8).

Fase Tubuh Tertular HIV AIDS

Fase tanpa keluhan penderita infeksi virus ini dapat berlangsung selama 5-10 tahun sampai mereka mempunyai gejala. Prof Ari sering mendapatkan pasien yang mengalami HIV/AIDS dan menduga tertular pada saat 5 atau 10 tahun yang lalu.

"Pasien menyampaikan setelah menikah 5 tahun belakangan ini mereka tidak pernah berhubungan seks dengan orang lain kecuali kepada istri atau suami sahnya saja," jelasnya.

Apa saja gejalanya saat fase lanjut?

Berbagai infeksi oportunistik akan muncul seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit atau berupa timbul hitam2 dikulit. Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut ini mengalami berat badan turun.

Hasil pemeriksaan laboratorium pasien terinfeksi HIV dalam fase lanjut, jumlah lekosit akan kurang dari 5000 dengan limfosit kurang dari 1000. Diare kronik, sariawan di mulut dan berat badan turun merupakan gejala utama jika pasien sudah mengalami infeksi HIV lanjut dan sudah masuk fase AIDS.

Pengobatan

Penyakit ini disebabkan oleh virus 'Human Immunodeficiency Virus' (HIV), sampai saat ini vaksinnya belum ditemukan. Obat-obat anti retroviral (ARV) yang ada saat ini sudah mampu menekan jumlah virus sampai tidak terdeteksi. Bukti klinis membuktikan bahwa pengobatan dengan ARV bisa menekan penyebaran virus sampai lebih 90 persen.

Di Indonesia ARV saat ini masih gratis dengan akses mudah untuk mendapatkannya. Memang saat ini angka penggunaan ARV di Indonesia masih rendah.

"Stop gonta-ganti pasangan, stop berselingkuh yang dibumbui seks bebas. Karena semakin dini pasien HIV diberikan obat anti virus (ARV) semakin cepat menurunkan jumlah virus dan mengurangi potensi penularan dan tentu pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV tersebut," tutupnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore