
Ilistrasi Jemaah haji melaksanakan ritual melempar jumrah di Jamarat, Mina. (AFP)
JawaPos.com - Jemaah haji Indonesia mulai beraktivitas di Mina untuk prosesi melontar jumrah. Sejak kemarin (9/7) dini hari jemaah menempati tenda di maktab-maktab yang telah ditentukan. Di Mina, ada sejumlah titik rawan yang harus diwaspadai jemaah.
Kepala Satuan Tugas Mina Amin Handoyo menuturkan, sejumlah persoalan bisa terjadi saat jemaah haji melaksanakan lontar jumrah.
”Salah satunya, jemaah mengalami kebingungan mencari arah kembali ke tenda atau jalan pulang,” kata Amin.
Di Posko Jamarat 2 Mina, misalnya, kepadatan terjadi sejak pukul 02.00 dini hari kemarin. Untuk jemaah yang sudah menuntaskan mabit di Muzdalifah, banyak yang langsung bergerak menuju jamarat setelah singgah sesaat di tenda untuk meletakkan barang bawaan. Yang mendominasi adalah jemaah dari negara-negara Timur Tengah dan India. ”Mereka bergerak di waktu-waktu awal pergantian hari 8 Zulhijah ke 9 Zulhijah,” kata petugas PPIH (panitia penyelenggara ibadah haji) Mashuri Masyhuda di Posko Jamarat 2.
Jemaah harus melewati terowongan Mina sepanjang sekitar 3 km menuju jembatan jamarat. ”Dengan kondisi berbaur bersama puluhan ribuan jemaah yang memasuki terowongan dari berbagai negara, jika tidak hati-hati dan fokus, potensi jemaah terpisah dari rombongannya cukup tinggi,” terang dia. Apalagi, petugas keamanan Arab Saudi melarang siapa pun berhenti atau mengambil arah berlawanan. ”Selebihnya harus terus bergerak ke depan,” imbuhnya.
Berdasar pantauan hingga pukul 13.30 waktu Arab Saudi (pukul 17.30 WIB), banyak jemaah yang tersesat dan kelelahan di sepanjang jalur menuju jamarat. Sedikitnya 65 orang dibawa ke Pos Kesehatan Mina. ”Kasus terbanyak terkait penyakit jantung, dehidrasi, dan kelelahan,” ungkap Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Budi Sylvana. Berdasar laporan tim visitasi kesehatan, jumlah jemaah yang masuk RSAS Mina sebanyak 33 pasien.
Kesibukan juga terlihat di pos pantau kesehatan jemaah haji Indonesia di maktab 24 dekat pintu terowongan Mina. Mulai yang hanya membutuhkan obat-obatan sampai jemaah yang perlu intervensi penanganan secara khusus dengan infus atau bed rest di tenda pos kesehatan.
Lantaran situasi yang sesak dan cuaca panas, jemaah haji diimbau tidak memaksakan diri melaksanakan lempar jumrah sendiri dan bisa dibadalkan. Terutama mereka yang lansia dan punya penyakit penyerta atau komorbid.
Sementara itu, saat prosesi puncak ibadah haji, yakni wukuf, satu jemaah haji Indonesia meninggal karena gangguan jantung. Menurut Kepala Posko Kesehatan Arafah Agus Sultoni, satu jemaah yang meninggal tersebut berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. ”Angka persisnya harus dicek, tapi ini jauh lebih sedikit,” katanya.
Biasanya, lanjut dia, yang banyak terjadi saat wukuf adalah heatstroke. Tahun ini ada 15 jemaah yang mengalami serangan sengatan panas itu. Namun, tim kesehatan bisa melakukan penanganan cepat dengan rompi penurun suhu. ”Total yang dirawat di pokso Arafah ada 80 jemaah. Yang heatstroke 15. Tim bisa melakukan stabilisasi kondisi jemaah,” tuturnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
