Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Juli 2022 | 17.28 WIB

Antisipasi Potensi Jemaah Kesulitan Kembali ke Tenda

Ilistrasi Jemaah haji melaksanakan ritual melempar jumrah di Jamarat, Mina. (AFP) - Image

Ilistrasi Jemaah haji melaksanakan ritual melempar jumrah di Jamarat, Mina. (AFP)

JawaPos.com - Jemaah haji Indonesia mulai beraktivitas di Mina untuk prosesi melontar jumrah. Sejak kemarin (9/7) dini hari jemaah menempati tenda di maktab-maktab yang telah ditentukan. Di Mina, ada sejumlah titik rawan yang harus diwaspadai jemaah.

Kepala Satuan Tugas Mina Amin Handoyo menuturkan, sejumlah persoalan bisa terjadi saat jemaah haji melaksanakan lontar jumrah.

”Salah satunya, jemaah mengalami kebingungan mencari arah kembali ke tenda atau jalan pulang,” kata Amin.

Di Posko Jamarat 2 Mina, misalnya, kepadatan terjadi sejak pukul 02.00 dini hari kemarin. Untuk jemaah yang sudah menuntaskan mabit di Muzdalifah, banyak yang langsung bergerak menuju jamarat setelah singgah sesaat di tenda untuk meletakkan barang bawaan. Yang mendominasi adalah jemaah dari negara-negara Timur Tengah dan India. ”Mereka bergerak di waktu-waktu awal pergantian hari 8 Zulhijah ke 9 Zulhijah,” kata petugas PPIH (panitia penyelenggara ibadah haji) Mashuri Masyhuda di Posko Jamarat 2.

Jemaah harus melewati terowongan Mina sepanjang sekitar 3 km menuju jembatan jamarat. ”Dengan kondisi berbaur bersama puluhan ribuan jemaah yang memasuki terowongan dari berbagai negara, jika tidak hati-hati dan fokus, potensi jemaah terpisah dari rombongannya cukup tinggi,” terang dia. Apalagi, petugas keamanan Arab Saudi melarang siapa pun berhenti atau mengambil arah berlawanan. ”Selebihnya harus terus bergerak ke depan,” imbuhnya.

Berdasar pantauan hingga pukul 13.30 waktu Arab Saudi (pukul 17.30 WIB), banyak jemaah yang tersesat dan kelelahan di sepanjang jalur menuju jamarat. Sedikitnya 65 orang dibawa ke Pos Kesehatan Mina. ”Kasus terbanyak terkait penyakit jantung, dehidrasi, dan kelelahan,” ungkap Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Budi Sylvana. Berdasar laporan tim visitasi kesehatan, jumlah jemaah yang masuk RSAS Mina sebanyak 33 pasien.

Kesibukan juga terlihat di pos pantau kesehatan jemaah haji Indonesia di maktab 24 dekat pintu terowongan Mina. Mulai yang hanya membutuhkan obat-obatan sampai jemaah yang perlu intervensi penanganan secara khusus dengan infus atau bed rest di tenda pos kesehatan.

Lantaran situasi yang sesak dan cuaca panas, jemaah haji diimbau tidak memaksakan diri melaksanakan lempar jumrah sendiri dan bisa dibadalkan. Terutama mereka yang lansia dan punya penyakit penyerta atau komorbid.

Sementara itu, saat prosesi puncak ibadah haji, yakni wukuf, satu jemaah haji Indonesia meninggal karena gangguan jantung. Menurut Kepala Posko Kesehatan Arafah Agus Sultoni, satu jemaah yang meninggal tersebut berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. ”Angka persisnya harus dicek, tapi ini jauh lebih sedikit,” katanya.

Biasanya, lanjut dia, yang banyak terjadi saat wukuf adalah heatstroke. Tahun ini ada 15 jemaah yang mengalami serangan sengatan panas itu. Namun, tim kesehatan bisa melakukan penanganan cepat dengan rompi penurun suhu. ”Total yang dirawat di pokso Arafah ada 80 jemaah. Yang heatstroke 15. Tim bisa melakukan stabilisasi kondisi jemaah,” tuturnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore