Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 April 2022 | 19.42 WIB

Status Gunung Anak Krakatau Naik Menjadi Level III

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Senin (25/4). Antara - Image

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Senin (25/4). Antara

JawaPos.com–Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, antara Provinsi Banten dan Lampung, statusnya meningkat menjadi level III dari sebelumnya level II.

”Statusnya GAK sudah ditingkatkan dari level II jadi level III sejak Minggu (24/4) pukul 18.00 WIB,” kata Petugas Pos Pantau GAK di Lampung Selatan Andi seperti dilansir dari Antara di Bandarlampung, Senin (25/4).

Dia mengatakan bahwa pada Minggu (24/4) dari pos pantau, Gunung Anak Krakatau terdengar mengeluarkan suara gemuruh dan juga terus mengalami erupsi dengan mengeluarkan sinar api.

”Erupsi GAK pada Minggu (24/4) ketinggian mencapai 3.000 meter dan sinar apinya mencapai 200 meter maksimal dari puncak gunung,” kata terang Andi.

Dia mengimbau masyarakat terutama nelayan dan wisatawan agar tidak mendekati GAK dalam radius 5 kilometer dalam situasi level III. Namun masyarakat masih tetap bisa beraktivitas serta tidak termakan isu-isu yang tidak bertanggung jawab kebenarannya terkait GAK.

”Masyarakat bisa menghubungi BPBD setempat atau ke Pos Pantau GAK untuk tahu status dan situasinya. Kami akan terus pantau perkembangannya,” tutur Andi.

Berdasar rilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kegempaan Gunung Anak Krakatau selama 1–24 April ditandai dengan terekamnya 21 kali gempa letusan. Kemudian, 155 kali gempa embusan, 14 kali Harmonik, 121 kali gempa low frequency, 17 kali gempa vulkanik dangkal, 38 kali gempa vulkanik dalam, dan tremor menerus dengan amplitudo 0,5–55 mm (dominan 50mm), serta terekam 2 kali gempa tektonik lokal, 6 kali gempa tektonik jauh, dan 1 gempa terasa dengan skala I MMI.

Sementara itu, kondisi kehidupan masyarakat di pesisir Pantai Pandeglang, Provinsi Banten, hingga kini relatif normal dan tidak terpengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dengan ketinggian 2.000 meter.

”Kami seperti biasa berjualan ikan di TPI Teluk Labuan dan terpengaruh adanya letusan Anak Krakatau,” kata Edi, warga Labuan Kabupaten Pandeglang.

Kegiatan masyarakat relatif normal dengan aktivitas ekonomi, seperti berjualan juga nelayan masih melaut. Kondisi Perairan Labuan normal dan tidak terjadi gelombang tinggi.

Selain itu, masyarakat pesisir Pandeglang mulai Pantai Carita, Labuan, Panimbang, hingga Sumur sudah biasa adanya erupsi Gunung Anak Krakatau dan mereka tidak panik.

Kepala Bidang Humas (Kabidhumas) Polda Banten Kombes Shinto Silitonga mengatakan, Badan Geologi telah mengidentifikasi Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang menunjukan hampir seluruh tubuh Gunung Anak Krakatau menjadi kawasan yang rawan bencana.

”Potensi bahaya berupa lontaran material pijar dalam radius 2 km dari pusat erupsi, kemungkinan lontaran akan menjangkau jarak yang lebih jauh dan sebaran abu vulkanik juga bergerak sesuai arah dan kecepatan angin ke kawasan yang lebih jauh,” ujar Shinto.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Pasauran Kabupaten Serang, Deni Mardiono menambahkan, letusan Anak Krakatau mencapai 2.000 meter dan mengeluarkan abu vulkanik hingga Sumur, Panimbang, dan Labuan, karena terbawa angin. Selain itu di kawasan sekitar Gunung Anal Krakatau mengeluarkan lontaran bebatuan pijar.

”Kami melarang nelayan maupun wisatawan mendekati kawasan Anak Krakatau, karena khawatir terdampak batu pijar yang suhunya cukup panas dan mematikan. Kami merekomendasikan zona aman dengan radius 5 km dari kawasan Anak Krakatau,” ucap Deni.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore