Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Januari 2022 | 22.05 WIB

Dalam Sebulan 572 Orang Kena Omicron, BOR RS Naik 15 Persen

TIDAK PENUH LAGI: Perawatan pasien di RS Hermina Podomoro kemarin (15/9). BOR RS rujukan Covid-19 turun hingga 25,04 persen. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS) - Image

TIDAK PENUH LAGI: Perawatan pasien di RS Hermina Podomoro kemarin (15/9). BOR RS rujukan Covid-19 turun hingga 25,04 persen. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

JawaPos.com - Indonesia kali pertama melaporkan kasus pertama Covid-19 varian Omicron pada 15 Desember 2021. Dan hanya dalam kurun waktu satu bulan per 14 Januari 2022, total kasus Omicron sudah mencapai 57 kasus. Rata-rata didominasi oleh pelaku perjalanan luar negeri, dan juga menular secara lokal di masyarakat. Varian Omicron ternyata juga memicu angka keterisian tempat tidur rumah sakit (Bed Occupation Rate atau BOR) sebanyak 15 persen.

Kementerian Kesehatan mencatat mayoritas kasus Omicron yang terdeteksi di Indonesia berasal dari pelaku perjalanan internasional (imported case). Oleh karena itu, pintu masuk negara baik darat, laut maupun udara diperketat seiring semakin meluasnya penyebaran varian Omicron.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak atau menunda melakukan perjalanan ke luar negeri. Saya berpesan kepada seluruh masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan 5M serta segera ikut vaksinasi Covid-19,"kata Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi kepada wartawan baru-baru ini.

Dalam Sebulan 572 Kasus

Mayoritas paling banyak adalah mereka yang baru pulang dari Turki dan Arab Saudi. Dan kini hingga Jumat (14/1), tercatat total kasus Omicron menjadi 572 kasus. Penambahan kasus tersebut terdiri dari pelaku perjalanan internasional dan transmisi lokal.

Seluruh pasien wajib menjalankan karantina kesehatan. Mayoritas menjalani karantina RSDC Wisma Atlet Kemayoran. Jumlahnya sekitar 339 orang. Sisanya menjalani karantina di RS yang telah ditunjuk oleh Satgas Penanganan Covid-19.

Nadia menyebutkan tidak ada perbedaan karakteristik gejala antara pasien perjalanan luar negeri dan pasien transmisi lokal. Sebagian besar gejalanya ringan dan tanpa gejala. Gejala paling banyak yang dialami pasien adalah batuk, pilek dan demam.

Hampir setengahnya atau sekitar 276 orang telah selesai menjalani isolasi. Lalu sisanya yakni 296 orang masih isolasi.

Penambahan kasus Omicron dalam beberapa waktu terakhir telah berdampak pada lonjakan kasus harian nasional. Bahkan proporsi varian Omicron jauh lebih banyak dibandingkan varian Delta.

“Dari hasil monitoring yang dilakukan Kemenkes, kasus probable Omicron mulai naik sejak awal tahun 2022. Sebagian besar dari pelaku perjalanan luar negeri, hal ini turut berdampak pada kenaikan kasus harian Covid-19 di Indonesia,” tuturnya.

Menghadapi lonjakan kasus Covid-19, Kementerian Kesehatan akan meningkatkan pelaksanaan 3T yakni Testing, Tracing dan Treatment terutama di daerah yang berpotensi mengalami penularan kasus tinggi. Langkah antisipasi penyebaran Omicron telah digencarkan terutama di wilayah Pulau Jawa dan Bali.

Untuk testing, Kemenkes telah mendistribusikan kit SGTF (S Gen Tes Failure) ke seluruh lab pembina maupun lab pemerintah dan memastikan jumlahnya mencukupi. Kapasitas pemeriksaan PCR dan SGTF juga diupayakan untuk dipercepat, sehingga penemuan kasus bisa dilakukan sedini mungkin.

Terkait dengan tracing, Kemenkes akan meningkatkan rasio tracing pada daerah yang jumlah kasus positifnya lebih dari 30 orang untuk mencegah penyebaran yang semakin luas. Proses tracing akan turut melibatkan TNI, Polri dan masyarakat.

Selanjutnya untuk treatment, Kemenkes menjamin ketersediaan ruang isolasi terpusat maupun isolasi mendiri untuk kasus gejala ringan dan tanpa gejala, sementara untuk gejala sedang dan berat telah disiapkan RS dengan kapasitas tempat tidur yang mencukupi. Sehingga pasien terkonfirmasi bisa menjalani isolasi.

BOR Naik 15 Persen

Kepada JawaPos.com, Rabu (19/1), Sekjen Asosiasi RS Swasta Seluruh Indonesia ARSSI drg. Iing Ichsan Hanafi, MARS menyebutkan kenaikan angka rawat inap sudah mulai terlihat di sejumlah RS swasta. Kira-kira angkanya naik 15 persen dari biasanya.

“Meski belum terlalu terlihat meningkat, namun pasien rawat inap di sejumlah RS tertentu sudah mulai terlihat. Yakni di ruang perawatan,” kata Ichsan.

Mayoritas adalah pasien yang memang membutuhkan obat-obatan terapi Covid-19 seperti pada umumnya dan sebagian membutuhkan oksigen. Kabar baiknya, belum ada antrean di ruang tunggu IGD atau pasien yang berada di ICU.

“Di ruang tunggu belum terlihat antrean. Tetapi yang dirawat di RS rata-rata pasien gejala sedang. Sebagian sudah membutuhkan oksigen. Dan untuk di ICU belum terlihat lonjakan pasien,” tegasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore