
DUDUK SAMA RENDAH: Habib bersama pemuka agama Kristen dan Buddha usai berbincang tentang isu kemanusiaan. (HABIB HUSEIN JAFAR FOR JAWA POS)
Nama Habib Husein Ja’far Al Hadar pasti sudah tidak asing bagi sebagian generasi milenial. Maklum, tidak hanya berdakwah dari majelis ke majelis, habib muda itu juga menebar nilai-nilai cinta, nasionalisme, dan toleransi melalui media digital. Selain sangat rajin menulis, dia adalah seorang content creator.
---
MENYANDANG gelar habib tentu bisa menjadi beban sekaligus sebuah keistimewaan tersendiri. Demikian pula bagi Habib Husein Ja’far. Namun, dia akan terus berikhtiar memanfaatkan hal tersebut dengan baik. Yakni, merangkul siapa saja. Bukan hanya orang yang seiman dan seagama dengannya, tetapi juga orang-orang yang berbeda latar belakang.
Bagi Habib Husein Ja’far, sang ayah –Habib Ja’far– memang menurunkan jiwa nasionalisme dan toleransi. Nilai itu tertanam dan mengakar kuat dalam dirinya. Sejak kecil, keduanya terbiasa berdiskusi. Biasanya, selepas subuh dan magrib. Mereka berdiskusi tentang apa saja. Namun, sebagian besar seputar agama dan kehidupan.
”Jadi, saya ini dianggap ayah seperti sudah dewasa begitu,” ungkapnya kepada Jawa Pos Senin (9/8).
Ada beberapa hal yang paling diingat Habib Husein Ja’far. Salah satunya, ayahnya rutin berziarah ke taman makam pahlawan (TMP) di kampung halamannya, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Terutama setiap momen peringatan HUT Kemerdekaan RI. Kadang juga sang ayah mengajak banyak orang. Habib Ja’far memang dekat dengan tokoh-tokoh dan pemuka agama lain di Bondowoso.
Sang ayah memang sangat ingin Habib Husein Ja’far menjadi pendakwah. Ketika Habib Husein Ja’far masih duduk di bangku SD, misalnya, ayahnya mengisi kolom cita-cita pada buku rapornya. Apa? Menjadi ulama intelektual. Rupanya, sang ayah ingin kelak anaknya menjadi ulama yang filosofis dan rasional. ”Akhirnya, alhamdulillah kejadian betul,” ujar alumnus Jurusan Akidah dan Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, tersebut.
Habib Husein Ja’far sudah lulus magister jurusan tafsir Alquran di kampus yang sama. Dia pun ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Setidaknya, sudah 16 tahun dia menekuni jalur dakwah. Dia juga rajin menulis. Baik buku maupun artikel di media massa.
Namanya makin mengemuka dan digandrungi kala berkolaborasi di YouTube bersama tokoh-tokoh muda. Sebut saja Tretan Muslim, Coki Pardede, Onadio Leonardo, dan beberapa tokoh lain. Selain itu, Habib Husein Ja’far berkolaborasi bersama tokoh-tokoh agama lain seperti Biksu Zhuan Xiu dan Pendeta Yerry Pattinasarany.
Dakwah Habib Husein Ja’far pun membawa warna baru. Nilai-nilai kebersamaan dalam kebaikan. Itulah yang ingin terus dikampanyekan. Menurut dia, berbeda itu bukan berarti satu di antaranya buruk ataupun jahat. ”Jadi, sama-sama baik. Hanya perspektifnya yang berbeda,” jelasnya.
Sikap merangkul dan bukan memukul. Itulah yang membuat Habib Husein Ja’far menjadi salah satu rujukan anak-anak muda yang ingin belajar. Mulai tentang filsafat, agama, hingga ilmu kehidupan. Karena dia berpikiran terbuka, kadang ada saja pengikutnya di media sosial Instagram yang berkirim pesan unik dan menarik. Mulai cerita tentang sebuah masalah, kehilangan arah hidup, dan sejenisnya.
Kalau sudah begitu, dia biasanya mengarahkan orang bersangkutan untuk berkonsultasi dengan psikolog secara gratis di Rumah Cahaya, lembaga miliknya yang berlokasi di Cinere, Jakarta. Rumah Cahaya berada di bawah naungan Yayasan Pemuda Tersesat Indonesia. Melalui yayasan tersebut, pihaknya juga menyediakan kamar khusus bagi anak-anak muda yang kecanduan game.
Habib Husein Ja’far tidak ingin membalut agama dengan nuansa keras, berat, atau sulit dipahami. Sebaliknya, dakwah yang disampaikan dengan candaan-candaan. Metode itu diyakini lebih mampu mentransmisikan pesan. Misalnya, dengan latar belakangnya yang disebutnya ”Madura swasta”. Dia pun sering membuat konten dakwah berbahasa Madura.
”Saya orang Bondowoso, 15 tahun tinggal di Jakarta. Logat Madura saya tidak berubah. Padahal, saya ini bukan Madura orisinal, ha…ha…ha…,” kelakar Habib Husein Ja’far.
Dia menyatakan, model dakwahnya sangat dipengaruhi gaya dakwah Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Sampai saat ini, Habib Husein juga mengikuti pengajian ala Jamaah Maiyah yang diasuh Cak Nun tersebut. Membaur, tidak berjarak, dan penuh nuansa kegembiraan.
Menurut dia, masyarakat Madura sangat menghormati orang tua, guru, dan tanah air. Dengan gaya bercanda dan pendekatan kultural, Habib Husein Ja’far meyakini masyarakat kekinian akan lebih mudah menerima dakwah. Konten dakwah tidak lagi menjadi sesuatu yang berat, membosankan, atau penuh penghakiman.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
