Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 November 2020 | 22.11 WIB

KPK Ungkap Butuh Uang Rp 65 Miliar untuk Menang Pilkada

Petugas memeriksa kotak suara yang telah dirakit di Gudang Logistik KPU, Depok, Jawa Barat, Jumat (13/11/2020). Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok telah merakit sebanyak 4.049 kotak suara yang akan digunakan untuk pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah ( - Image

Petugas memeriksa kotak suara yang telah dirakit di Gudang Logistik KPU, Depok, Jawa Barat, Jumat (13/11/2020). Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Depok telah merakit sebanyak 4.049 kotak suara yang akan digunakan untuk pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (

JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi Pomolango, meminta para calon kepala daerah (cakada) dan penyelenggara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020, untuk melaksanakan proses yang berintegritas dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik ketika terpilih. Hal ini disampaikan Nawawi dalam pembekalan cakada Provinsi Bangka Belitung, Daerah Istimewa (DI) Jogjakarta, Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Menurut Nawawi, penyelenggaraan pilkada berintegritas sangat penting. Karena jika terpilih sebagai kepala daerah kewenangannya sangat tinggi.

“Pilkada berintegritas perlu, karena luasnya kewenangan kepala daerah di wilayahnya. Otoritas perizinan adalah salah satunya," kata Nawawi dalam keterangannya, Rabu (18/11).

Pimpinan KPK berlatar belakang Hakim ini tak memungkiri, banyaknya unsur kepala daerah yang terjerat korupsi. Nawawi menyebut, berdasarkan data KPK sampai Juli 2020, sudah 21 Gubernur dan 122 Bupati/Wali Kota maupun wakilnya terjerat tindak pidana korupsi oleh KPK.

"Juga masih masifnya politik uang. Biaya Pilkada mahal, dibutuhkan dana antara 5 sampai Rp 10 miliar, sementara untuk menang rata-rata dibutuhkan uang hingga Rp 65 miliar,” ujar Nawawi.

Nawawi lantas membeberkan modus kepala daerah dalam melakukan korupsi. Dia membeberkan, modus korupsi tersebut diantaranya suap dan gratifikasi dalam pemberian izin, jual beli jabatan dalam proses mutasi atau promosi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan kickback dalam pengadaan barang dan jasa.

Baca juga: Bawaslu: Pemilih Pemula Rentan jadi Sasaran Politik Uang

"Korupsi kepala daerah berkaitan erat dengan keharusan balas jasa atas dukungan dana dari donatur, sejak proses pencalonan, kampanye, sampai pemungutan suara," cetus Nawawi.

Nawawi tak memungkiri, sumbangan pencalonan kepala daerah kebanyakan dari pengusaha. Sehingga menimbulkan rasa pamrih antara kepala daerah dengan pengusaha.

"Mempunyai konsekuensi pamrih untuk mendapatkan kemudahan perizinan dalam menjalankan bisnis, keleluasaan mengikuti pengadaan barang dan jasa pemerintah dan keamanan dalam menjalankan bisnisnya," pungkas Nawawi.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=ykFcbM9QhMM

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore