
Maestro Seni Rupa Djoko Pekik.
MACAM-MACAM sosok Djoko Pekik ini disebut. Maestro seni rupa yang wafat pada usia 86 tahun atau lima harmal jelang hari kemerdekaan itu disebut ”Seniman 1 M” karena lukisan legendarisnya laku satu miliar.
Pada 1998, atau satu dekade sebelum ledakan harga seni rupa Indonesia ”Part III”, lukisan Berburu Celeng mengguncang pasar seni. Selain karena harganya, juga karena ia dilukis oleh seniman yang sepanjang 30-an tahun masuk dalam kategori ”musuh negara”.
Berburu Celeng adalah pekik Djoko Pekik bahwa reformasi menjadi gerbang kebebasan dalam banyak sisi. Seperti sahabatnya, Pramoedya Ananta Toer, yang mengeluarkan roman Pulau Buru Edisi Pembebasan, Pekik lewat Berburu Celeng memekikkan kemerdekaan politik sekaligus mengakhiri kesengsaraan ekonomi. Sekaligus, celeng yang ia jadikan ”figur utama” seperti peringatan abadi bahwa musuh utama bangsanya adalah keserakahan celeng sebagaimana cerita everlasting George Orwell, Animal Farm.
Tapi, celeng bukan datang begitu saja. Ia adalah sikap politik berkesenian Pekik. Ia muncul dari laku panjang dari politik seni kiri masa silam.
Pekik datang dari kota yang jadi perlintasan kota lainnya seperti Solo-Blora-Kudus. Jika dari dan ke Blora, mestilah melewati kota asal Pekik, Grobogan. Dari sisi geografis ini saja, kita jadi tahu mengapa Pram dan Pekik ”sangat dekat”. Termasuk kedekatan ideologi berkesenian.
Bedanya, Pram berkesenian di Jakarta, Pekik di Jogja. Pram dengan kata, Pekik terpesona oleh gejolak seni rupa yang dihelat nama-nama besar dalam katalogus seni rupa modern; dari Soedjojono, Affandi, hingga Hendra Gunawan. Ia tahu, nama-nama itu dengan sanggar-sanggarnya yang melegenda berafiliasi ke Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra.
Sebagai perupa muda yang datang ke Kampus ASRI, Gampingan, Pekik tidak bergabung dengan sanggar-sanggar mapan sebelumnya, melainkan membikin kelompok yang secara ideologis lebih keras. Saat itu, sanggar yang digandrungi adalah Sanggarbambu yang dipimpin Soenarto Pr. Obituari Soenarto pernah saya tulis di Jawa Pos pada 29 Juli 2018.
Amrus Natalsja, Djoko Pekik, Misbach Tamrin, Ng Sembiring, antara lain, pada awal tahun 60-an, membuat perkumpulan yang mereka namakan Sanggar Bumi Tarung.
Tanpa tedeng aling-aling, Bumi Tarung langsung mengidentikkan diri sebagai sanggar yang berada di bawah Lekra dengan ideologi berkesenian yang sama: seni kerakyatan. Kelak, tensi ideologi ini dinaikkan bobotnya menjadi ”revolusioner” pada 1964 seiring dengan PKI membuat ”lembaga kebudayaan baru” bernama Kongresi Seni Sastra Revolusioner.
Di Kampus ASRI, Gampingan, Bumi Tarung membawa misi ”membereskan” politik berkesenian realisme yang lembek dalam kampus itu. Karena itu, eksponen sanggar ini kerap dituding brutal, anarkistis, bombas, dan sensasional.
Seperti Lekra yang menjadi induknya, seni bertendens ala Bumi Tarung memakai metode yang ketat dalam berekspresi. Metodenya adalah turun ke bawah atau turba.
Eksponen Bumi Tarung, Misbach Tamrin, pernah menulis narasi ”Trisik” di Harian Rakjat, 2 Agustus 1964, yang merupakan ”art project” bagaimana mereka berkesenian.
Dalam turba ke Pantai Trisik (Wates) di selatan Jogja itulah lahir karya Pekik terkenal, Tuan Tanah Kawin Muda, yang sekaligus menjadi judul buku kecil yang disusun Antariksa.
Lukisan dengan sabetan ekspresif dan bertendens ini hasil amatan langsung Pekik terhadap situasi sosial petani yang terisap oleh tujuh setan yang bergentayangan di desa.
Bagi Pekik dan Bumi Tarung, praktik berkesenian tidak sekadar menunjukkan ekspresi politik, tetapi juga memperlihatkan keberpihakan kelas dengan menunjukkan langsung sikap politik. Pekik bukan seniman yang karyanya politis, tetapi laku politiknya ”netral”. Ekspresi seni dan laku/amal politik harus sejalan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
