Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Agustus 2023 | 02.00 WIB

Mengenal Sejarah Hari Pramuka yang Diperingati Setiap 14 Agustus

Ilustrasi sejarah Pramuka di Indonesia. - Image

Ilustrasi sejarah Pramuka di Indonesia.

JawaPos.com - Menjelang Hari Pramuka yang diperingati setiap 14 Agustus ada baiknya mengenal sejarah kepanduan ini muncul dan diperkenalkan di Indonesia. Sebelumnya, kontingen Pramuka Indonesia mengikuti Jambore Dunia 2023 yang diadakan di Saemangeum, Provinsi Jeolla Utara, Korea Selatan pada 1-12 Agustus 2023.

Melansir laman resmi Pramuka pada Sabtu (12/8), gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia sudah berkembang sejak zaman kolonial Belanda. Tepatnya pada tahun 1912, dengan pendirian kelompok Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) di Batavia.

Selanjutnya, pada 1914 cabang tersebut disahkan berdiri sendiri dengan nama Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda. NIPV merupakan sekelompok pandu-pandu yang memiliki darah Belanda. Sehingga, pada 1916 berdirilah sebuah organisasi kepanduan yang beranggotakan pandu-pandu bumiputera.

Organisasi tersebut berdiri di Solo dengan nama Javaansche Padvinders Organisatie yang didirikan oleh Mangkunegara VII. Setelah itu muncul banyak sekali kepanduan yang berbasis agama, kesukuan, dan lainnya.

Antara lain Padvinder Muhammadiyah (kini menjadi Hizbul Wathan), Nationale Padvinderij, Syarikat Islam Afdeling Pandu, Kepanduan Bangsa Indonesia, Padvinders Organisatie Pasundan, Pandu Kesultanan, El-Hilaal, Pandu Ansor, Al Wathoni, Tri Darma (Kristen), Kepanduan Asas Katolik Indonesia, dan Kepanduan Masehi Indonesia.

Berkembangnya kepanduan di Hindia-Belanda membuat Bapak Pandu Sedunia, Lord Baden-Powell tertarik untuk mengunjungi organisasi kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya pada awal Desember 1934 bersama istrinya, Lady Baden-Powel, dan anak-anaknya.

Kontingen Hindia-Belanda mengikuti Jambore Sedunia di Hungaria pada tahun 1933 hanya sebatas kunjungan delegasi kecil untuk menyaksikan pagelaran pandu tersebut. Kemudian, Jambore Sedunia 1937 di Belanda terdapat berbagai kontingen, seperti Kontingen Pandu Hindia-Belanda yang terdiri dari pandu-pandu keturunan Belanda.

Lalu, bumiputera khususnya dari Batavia dan Bandung, terdapat juga Pandu Mangkunegaran, Ambon, dan beberapa Pandu keturunan Tionghoa dan Arab turut hadir dalam Jambore tersebut. Selain mengikuti Jambore Internasional, terdapat juga sebuah kegiatan perkemahan dan jambore kepanduan yang diadakan di sejumlah tempat di Indonesia.

Salah satunya adalah berlangsungya All Indonesian Jamboree atau "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" pada 19-23 Juli 1941 yang berlokasi di Yogyakarta. Empat tahun setelahnya, terdapat Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia yang berlokasi di Surakarta pada 27-29 Desember 1945. Pada kongres tersebut menelurkan Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia.

Ketika Belanda kembali menginvasi Indonesia pada agresi militer tahun 1948, Pandu Rakyat dilarang untuk berdiri di daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda. Pelarangan itu, memunculkan organisasi lainnya seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Dalam perkembangannya, kepanduan Indonesia sendiri terpecah menjadi 100 organisasi yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo) yang menjadi induk dari berbagai organisasi tersebut. Kemudian, untuk menyatukan berbagai organisasi kepanduan tersebut, Presiden Soekarno menggandeng Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu merupakan Paduan Agung untuk menggagas peleburan menjadi satu wadah.

Hal tersebut pertama kali diungkapkan oleh Presiden Soekarno ketika mengunjungi Perkemahan Besar Persatuan Kepanduan Putri Indonesia di Desa Semanggi, Ciputat, Tangerang, pada Oktober 1959. Presiden mengumpulkan tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan di Indonesia untuk melebur seluruh organisasi menjadi satu dengan nama Pramuka.

Gerakan Pramuka diawali dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan. 9 Maret 1961 diresmikan nama Pramuka dan menjadi Hari Tunas Gerakan Pramuka. Pada 2 Mei 1961 diterbitkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka dan momen tersebut dikenal dengan Hari Permulaan Tahun Kerja. Kemudian pada 20 Juli 1961, seluruh wakil organisasi kepanduan Indonesia mengeluarkan pernyataan di Istana Olahraga Senayan untuk meleburkan diri ke dalam organisasi Pramuka.

Setelahnya, pada 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat umum dalam suatu upacara di halaman Istana Negara dengan ditandai oleh penyerahan Panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang resmi menjadi Ketua pertama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore