Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 September 2019 | 22.18 WIB

Tito Ungkap Penyebab Kerusuhan Wamena, Dari Isu Rasis hingga Penyusup

Kapolri, Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D (tengah) didampingi Kapolda Papua, Brigjen Pol. Rudolf Alberth Rodja (paling kiri) dan Kabid Dokkes Polda Papua KOMBES POL drg. Agustinus Mulyanto Hardi T, saat menjenguk ketiga an - Image

Kapolri, Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D (tengah) didampingi Kapolda Papua, Brigjen Pol. Rudolf Alberth Rodja (paling kiri) dan Kabid Dokkes Polda Papua KOMBES POL drg. Agustinus Mulyanto Hardi T, saat menjenguk ketiga an

JawaPos.com - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mulai mengidentifikasi pemyebab kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua kemarin, Senin (23/9). Data awal mengarah pada dugaan adanya berita bohong atau hoax yang tersebar di kalangan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA).

Tito menjelaskan, isu yang beredar di kalangan siswa bahwa ada seorang guru yang menyebut anak didiknya dengan sebutan kera (monyet). Namun, setelah didalami, guru tersebut sebetulnya mengucapkan kata keras.

"Di hari yang sama (dengan kerusuhan di Expo Waena), pagi harinya di SMA PGRI ada isu bahwa ada seorang guru yang sedang mengajar menyampaikan pada muridnya bahwa kalau bicara keras," kata Tito dalam jumpa pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (24/9).

"Terdengar, oleh murid ini kera. Sehingga dikatakan ke temannya bahwa dikatakan monyet. Padahal yang dikatakan 'jangan bicara keras'. Hanya saja mungkin tonenya, dan (huruf) S nya terdengar lemah," tambahnya.

Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja saat berdiskusi dengan bawahannya usai memulangkan mahasiswa eksodus yang berencana membangun Posko di depan Auditorium Uncen, Abepura. (Cepos/JPG)

Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja saat berdiskusi dengan bawahannya usai memulangkan mahasiswa eksodus yang berencana membangun Posko di depan Auditorium Uncen, Abepura. (Cepos/JPG)

Isu tersebut kemudian tersebar dengan cepat. Narasi yang dibangun yakni seorang guru bersikap rasis kepada anak didiknya. Kejadian ini kemudian berujung pada aksi demonstrasi para siswa di depan kantor Bupati Wamena.

Saat aksi berlangsung, diduga ada sejumlah oknum-oknum yang tak bertanggungjawab menyusup di tengah kerumunan massa. Untuk berkamuflase, mereka berpenampilan dengan seragam siswa. Oknum ini mulai melakukan provokasi hingga terjadi kerusuhan.

"Dan kita yakin yang mengembangkannya adalah kelompok tadi, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menggunakan segaram SMA. Kita sedang cari orangnya," ucap Tito.

Aparat gabungan saat itu sudah dengan cepat menenangkan massa. Namun, jumlah demonstran terlampau banyak mencapai 2000 orang. Sehingga sulit dinetralisir. Massa kemudian langsung bersikap anarkis. Saling lempar batu hingga terjadi pembakaran sejumlah bangunan. Kantor Bupati Wamena juga tak luput dari amuk massa.

TERBAKAR: Kompleks kantor Bupati Jayawijaya yang ikut terbakar dalam aksi demo yang berakhir rusuh di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/9). (Denny Tonjau/Cendrawasih-Pos)

TERBAKAR: Kompleks kantor Bupati Jayawijaya yang ikut terbakar dalam aksi demo yang berakhir rusuh di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/9). (Dok Cepos/JPG)

"Ada yang melempar batu ke toko di sekitar, bakar kantor bupati, rusak fasilitas, mobil dan motor dibakar," jelas Tito.

Melihat aksi anarkis ini, petugas kemudian berusaha memukul mundur massa. Sejumlah massa yang diduga provokator maupun yang diduga perusuh diamankan untuk dimintai keterangan. Saat ini aparat gabungan baik TNI dan Polri terus menjaga situasi di Wamena agar kerusuhan tidak terjadi kembali.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore