JawaPos.com - Tahun pertama pengelolaan dam atau denda untuk jemaah serta petugas haji berjalan lancar. Total ada 3.117 ekor hewan dam yang disembelih. Dalam waktu dekat, dagingnya dikirim ke Indonesia dalam bentuk kemasan kaleng.
Penyembelihan hewan dam tersebut dilaksanakan di Makkah. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Hilman Latief meninjau langsung lokasi penyembelihan di Makkah pada Sabtu (1/7). Hilman menyampaikan terima kasih kepada para petugas dan jamaah haji yang sudah berpartisipasi.
"Laporan yang saya terima, 2.624 ekor untuk dam petugas dan sisanya dam jemaah haji," jelasnya.
Para petugas atau jemaah itu dikenakan dam karena melaksanakan haji tamatuk. Haji tamatuk adalah kembali melepas kain ihram setelah melaksanakan umrah qudum.
Hampir seluruh jemaah haji Indonesia terkena dam haji tamatuk, karena kedatangan mereka di Arab Saudi masih cukup jauh dari pelaksanaan wukuf di Arafah. Pelaksanaan pengelolaan hewan dam haji tamatuk itu dilakukan Kemenag bersama Baznas.
"Ini adalah sejarah dalam pengelolaan dam yang mana manfaatnya sampai ke Indonesia," kata Wakil Ketua Baznas Mokhamad Mahdum. Dengan jaringan Baznas, Kemenag, serta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) diharapkan pendistribusian daging dam bisa menyasar sampai ke daerah-daerah.
Khususnya di daerah kantong kemiskinan dan kemiskinan ekstrem. Selain itu juga di kantong-kantong kasus stunting. Seperti diketahui sampai saat ini pemerintah masih bergulat menyelesaikan persoalan stunting dan kemiskinan.
Sementara itu suasana penyembelihan hewan kurban di tanah air masih terasa. Bagi yang menjalankan Idul Adha pada 29 Juni, maka proses penyembelihan hewan kurban bisa dilaksanakan sampai dengan Minggu (2/7) besok. Diantaranya dilakukan oleh NU Care Lazisnu PBNU.
Menariknya mereka menggunakan besek sebagai kemasan daging kurban. "Kami ganti kresek dengan besek. Untuk kelestarian lingkungan," kata Direktur Eksekutif NU Care-Lazisnu PBNU Qohari Cholil kepada wartawan Sabtu (1/7).
Dia mengatakan sudah menjalankan amanah dan program kurban tahun ini. Mereka telah melakukan penyembelihan hewan dan mendistribusikan daging kepada masyarakat yang berhak menerima qurban.
Pembagian daging kurban dilakukan dengan menggunakan besek berbahan bambu dan alas daun pisang. "Ini menjadi komitmen kami dalam menjaga lingkungan, ketimbang misalnya menggunakan wadah berbahan plastik," tuturnya.
Salah satu titik penyembelihan hewan kurban dari Care-Lazisnu PBNU dikerjakan di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. "Kami mencoba menerapkan untuk wadah daging qurban yang ramah lingkungan berupa besek terbuat dari anyaman bambu," tandasnya.
Penggunaan besek bambu untuk wadah daging kurban tersebut, menurut Qohari merupakan bagian kecil dari upaya mewujudkan semangat Nahdlatul Ulama (NU) di abad keduanya kali ini. Yaitu semangat Merawat Jagat Membangun Peradaban.
"Praktik sekecil mungkin mewujudkan ramah lingkungan dan ini juga pengejawantahan tagline tersebut. Lazisnu ingin menerapkan di kehidupan dan praktik sehari-hari," tegasnya.
Penggunaan besek bambu juga, diberlakukan di berbagai titik penyaluran daging kurban Lizsnu lainnya. Ketua Panitia Kurban NU Care-Lazisnu tahun 2023, Moesafa menegaskan mereka memperhatikan segala aspek dalam pelaksanaannya.
Mulai dari pengumpulan hewan kurban hingga pendistribusian daging kurban. Dia menjelaskan bahwa ada Standard Operational Procedure (SOP) dalam mendistribusikan daging kurban. Penerapan SOP itu wajib untuk seluruh jaringan Lazisnu di seluruh Indonesia dan mancanegara. "Kebersihan nomor satu," tegasnya.
Dia mengatakan jangan sampai pelaksanaan kurban menambah persoalan baru, termasuk menghasilkan timbunan sampah plastik. Menurut dia, penumpukan sampah yang sulit didaur ulang dalam waktu yang panjang. Jadi mereka menggunakan kemasan yang ramah lingkungan, yaitu besek dari bambu.