Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Agustus 2017 | 01.29 WIB

Rote yang Terus Menunggu Harta Terpendamnya Tergarap

BERSAHAJA: Daniel Koen (kiri) dan Sarai Manafe (kanan) di Kampung Oedai, Pulau Rote. - Image

BERSAHAJA: Daniel Koen (kiri) dan Sarai Manafe (kanan) di Kampung Oedai, Pulau Rote.

Bukit mangan bertebaran. Pantai menawan di mana-mana. Namun, angka kemiskinan di Rote hampir tiga kali lipat angka nasional.


Laporan BAYU PUTRA, Rote

”BAPAK tahu ini siapa?” tanya Jawa Pos kepada Daniel Koen sembari menunjukkan sebuah foto di selembar koran.


Pria 80 tahun itu hanya manggut-manggut. Sang istri, Sarai Manafe, yang ikut mendampingi juga cuma tersenyum sembari memperlihatkan deretan giginya yang memerah karena mengunyah sirih. Tapi, tetap tak ada jawaban.


Di Kampung Oedai, tempat Daniel dan Sarai bermukim, nun di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, di ujung selatan Indonesia, informasi memang lambat mengalir. Jadi, menebak foto Presiden Joko Widodo yang ada di koran tersebut pun bukan perkara gampang bagi pasangan suami istri tersebut.


Rote merupakan wilayah kepulauan yang terdiri atas 96 pulau dengan total luas 1.280 kilometer persegi. Dari jumlah tersebut, hanya tujuh yang berpenghuni. Yakni, Rote, Ndao, Landu, Usu, Nusa Manuk, Nuse, dan Ndana. Seluruhnya menjadi satu kabupaten: Rote Ndao.


Tinggal di pulau yang berbatasan dengan Australia, tetangga kaya di selatan, hidup Daniel dan Sarai malah ”berakhir” setelah gelap malam datang. Listrik tak ada. Otomatis pula radio dan televisi absen. Sekadar lampu minyak yang menyala hanya jadi semacam pengantar mereka tidur untuk menunggu pagi dan siang selanjutnya.


Begitu seterusnya selama 80 tahun kehidupan yang telah dijalani Daniel. Tapi, dia tak sendirian. Setelah 72 tahun Indonesia merdeka, persoalan energi masih jadi problem besar di pulau yang juga dikenal dengan nama Roti itu.


Sekitar 27 persen rumah di sana tetap belum teraliri listrik. ’’Sumber listrik di sini disuplai dari PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) dan diesel,’’ terang Bupati Rote Ndao Leonard Haning.

Itu pun tidak semua masyarakat yang mendapat listrik bisa menikmatinya 24 jam. Di beberapa tempat, daya setrum hanya menyala saat malam. Soal BBM apalagi. Dengan luas wilayah 1.280 kilometer persegi, hanya ada satu agen premium dan minyak solar (APMS), sebutan untuk SPBU di Rote, yakni di Ibu Kota Ba’a.


’’Sebenarnya ada dua APMS, tapi entah mengapa yang satu tidak kunjung buka seperti saya,’’ ujar Johan Albert Mandiri, pengelola APMS di Ba’a.


Yang dia maksud adalah APMS yang satu tidak menjual BBM ala SPBU seperti dia, yakni menggunakan nozzle. Padahal, suplai untuk APMS tersebut lebih besar daripada dia. Johan mengelola APMS II dengan jatah suplai bulanan 230 ton premium dan 60 ton solar. Sementara itu, APMS 1 mendapat suplai 320 ton premium dan 90 ton solar.


Pria asal Surabaya tersebut menuturkan, APMS yang dikelolanya baru buka Mei 2014. ’’Sejak saat itu, jumlah motor dan mobil meningkat. Orang berani beli kendaraan karena ada jaminan BBM-nya bisa dibeli dengan harga yang sama dengan di Jawa,’’ tuturnya.


Jumlah kendaraan bermotor membengkak, tapi kuota BBM tak bertambah. Jadilah Johan harus bersiasat dengan hanya menjual BBM selama dua pekan sebulan. Pada pekan pertama dan ketiga tiap bulan. Bila dia memaksa menjual sejak awal bulan nonstop, bisa dipastikan BBM habis sebelum tengah bulan.


Jangan pula bertanya di mana toko yang menjual elpiji 3 kilogram. ’’Di sini tidak ada itu elpiji subsidi. Adanya yang tabung 12 kilo,’’ terang Bupati Leonard. Harganya pun tak sama dengan di Jawa. Di Rote, harga elpiji 12 kilogram berada di kisaran Rp 215 ribu.


Di luar persoalan energi, untuk kebutuhan pokok, Rote relatif tidak mengalami kendala. Kapal-kapal besar setiap hari hilir mudik membawa barang dari Kupang. Bahkan, saat ini Rote tidak lagi mendatangkan beras dari Kupang karena sudah tercukupi dari produksi sendiri. Malah, terkadang ada sisa stok beras Rote yang bisa dibawa ke Kupang.


Selain itu, secara rutin ada kapal tol laut yang membawa barang-barang dari Jawa. Mulai bahan bangunan hingga pakan ternak. Salah satu dampaknya, harga-harga barang di Rote cenderung normal, hampir sama dengan di Jawa.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore