Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Mei 2026 | 22.21 WIB

Sekawan Limo 2 dan Taruhan Besar Bayu Skak untuk Film Berbahasa Daerah Indonesia

Para pemeran di film Sekawan Limo 2 garapan Bayu Skak.

JawaPos.com - Sekawan Limo 2 bukan sekadar sekuel film komedi horor yang menargetkan tawa penonton. Film ini menjadi penegasan bahwa Bayu Skak semakin mantap membangun jalurnya sendiri di industri film Indonesia, yakni lewat karya yang berakar kuat pada lokalitas.

Film terbaru Bayu Eko Moektito itu hadir setelah film pertamanya mencatat kesuksesan besar dengan raihan 2,5 juta penonton. Capaian tersebut membuat sekuelnya datang bukan hanya dengan ekspektasi tinggi, tetapi juga sebagai ujian apakah formula khas Bayu masih relevan di pasar yang lebih luas.

Sekawan Limo 2 masih bergerak di wilayah yang akrab dengan Bayu. Kisah perjalanan ke gunung, sentuhan mistis, humor khas Jawa Timur, serta karakter-karakter yang terasa seperti orang sekitar menjadi fondasi utamanya.

Ceritanya memang tidak dibangun dengan kompleksitas berlapis. Justru kesederhanaan itu yang menjadi kekuatan utama film-film Bayu selama ini.

Humornya tidak terasa dipaksakan. Celetukannya cair, dekat dengan keseharian, dan tidak jatuh menjadi komedi berlebihan yang hanya mengejar reaksi sesaat.

Dialog antar karakter terasa hidup karena akarnya jelas. Adu mulut yang cepat, khas Jawa Timuran, menjadi identitas yang membedakan karya Bayu dari banyak film komedi arus utama.

Namun Sekawan Limo 2 lebih dari sekadar tontonan. Film ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Bayu Skak dalam memperjuangkan sesuatu yang dulu sempat dianggap tidak menjual, yakni film berbahasa daerah.

Bayu memulai langkahnya bukan dari industri film. Ia lebih dulu dikenal sebagai kreator YouTube dengan karakter khas anak muda Jawa Timur yang blak-blakan dan lekat dengan logat lokal.

Popularitas digital itu kemudian membawanya mengambil langkah besar. Pada 2017, ia datang ke Jakarta dengan satu keyakinan, film berbahasa Jawa juga punya pasar.

"Saya datang sendiri sembari membawa naskah. Saya beranikan diri aja ke Starvision," katanya.

Langkah itu jelas bukan tanpa risiko. Membawa naskah film berbahasa Jawa ke rumah produksi besar ketika pasar film nasional masih sangat Jakarta-sentris adalah perjudian.

Apalagi produksi film membutuhkan investasi besar. Tak mudah meyakinkan investor untuk menaruh miliaran rupiah pada proyek yang belum tentu diterima luas.

Namun perjudian itu terbayar lewat Yo Wis Ben. Film yang dirilis pada 2018 itu berhasil menarik 935.622 penonton, angka yang cukup besar untuk film dengan identitas lokal yang sangat kuat.

Kesuksesan itu bukan sekadar soal angka. Itu menjadi validasi bahwa bahasa daerah bukan hambatan untuk menjangkau audiens nasional.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore