Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 April 2025 | 18.18 WIB

Sinners: Pesta Dansa Para Pendosa dengan Blues dan Iblis

Salah satu adegan dalam film Sinners. (Warner Bros.) - Image

Salah satu adegan dalam film Sinners. (Warner Bros.)

JawaPos.com - Dalam banyak konteks, musik blues selalu identik dengan iblis. Mulai dari dianggap sebagai musik para pendosa oleh gereja, kisah urban legend gitaris Robert Johnson yang rela menjual jiwanya kepada setan demi menjadi musisi nomor wahid, hingga kaitannya dengan tradisi spiritual Afrika kuno, blues seolah-olah merupakan pengejawantahan dari iblis itu sendiri. Ia hadir dalam bentuk melodi menyayat hati yang mampu membuat kaki menghentak tanpa henti.

Narasi yang kelak kemudian menjadi mitos di kalangan pecinta musik ini muncul dari Mississippi Delta, Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Sejarah mencatat bahwa musik blues lahir dari keresahan dan kesedihan para kaum kulit hitam alias African-American yang kala itu masih hidup dalam diskriminasi serta penindasan kaum kulit putih.

Asosiasi negatif antara musik blues dan iblis ini menjadi akar utama dari film horror supranatural Sinners yang digarap oleh sutradara Ryan Coogler. Film ini dibintangi aktor Michael B. Jordan, yang didapuk memerankan sekaligus dua saudara kembar dengan watak yang berbeda, serta beberapa nama lain seperti Miles Caton, Hailee Steinfeld, Delroy Lindo dan lainnya.

Sinners mengisahkan tentang dua saudara kembar bernama Smoke dan Stack (Michael B. Jordan) yang baru pulang ke kampung halaman setelah sekian lama berjudi dengan nasib di perantauan. Pulang ke tanah kelahiran sebagai orang sukses berdompet tebal, keduanya lalu membeli sebuah gudang bekas untuk disulap menjadi tempat hiburan malam khusus kaum kulit hitam.

Untuk menyukseskan rencana itu, kedua bersaudara ini melibatkan banyak orang. Salah satunya adalah adik sepupu mereka, seorang gitaris blues muda berbakat bernama Sammie Moore (Miles Caton).

Sammie merupakan anak dari seorang pendeta besar di kotanya. Obsesinya pada musik blues kerap membuat ia dan sang ayah bersitegang. Karenanya, Sammie pun tidak berpikir dua kali ketika Smoke dan Stack menawarinya untuk mentas.

Keputusan Smoke dan Stack menggaet Sammie sama sekali tidak salah. Bermodalkan sebuah gitar resonator, Sammie sukses membuat panggung malam itu bergelora lewat permainan blues-nya yang apik. Sayatan gitar Sammie sontak membuat semua yang hadir di malam itu menjadi kumpulan pendosa yang lupa diri. Mereka hanyut dalam pengaruh alkohol dan nafsu birahi.

Semua berpesta dan bersuka ria, tanpa menyadari bahwa alunan blues di malam purnama tersebut menarik perhatian sosok lain. Sosok dari masa lampau yang siap membuat keriaan di dalam gudang berubah menjadi teriakan horor penuh darah.

Sebagai sebuah film horor, Sinners boleh dibilang berhasil menyuguhkan sajian horor yang cukup berbeda dari yang lain. Tidak seperti kebanyakan film horor yang langsung membuat suasana mencekam, Sinners dieksekusi dengan build up yang cenderung perlahan namun tak membosankan.

Hingga titik tertentu, Sinners justru lebih terasa sebagai film biopik ketimbang film horor karena penokohan para karakternya yang begitu kuat dan chemistry yang terjalin begitu kental antara satu dan lainnya. Dialog-dialog yang disajikan pun sangat bisa dinikmati walau ada sejumlah istilah yang hanya relate dengan orang-orang African-American.

Peran Michael B. Jordan dalam memerankan Smoke dan Stack menjadi salah satu pilar utama film ini. Meski bukan termasuk jajaran aktor pemeran watak jempolan, upayanya dalam memerankan Smoke yang kaku dan gloomy serta Stack yang laid back dan ganjen patut diacungi jempol.

'Wajah' asli dari film ini mungkin baru terungkap di pertengahan film, di mana akhirnya terjadi pembantaian besar-besaran yang sangat sadis. Mood penonton pun akhirnya dipaksa untuk berubah. Dari yang tadinya santai karena ikut hanyut dengan alunan musik, menjadi tegang setelah pembunuhan mulai terjadi.

Sayangnya, film ini gagal menjadi lebih baik karena motivasi antagonis utamanya yang tidak tergali lebih dalam. Dengan plot yang sudah dibangun sedemikian rupa dari musik blues yang kerap terafiliasi dengan sosok iblis, seharusnya bisa ada motivasi dan alasan yang lebih terperinci untuk membuat plot Sinners lebih berbobot.

Akibatnya, alur Sinners menjadi begitu jomplang. Berbobot di awal, namun ringan di akhir. Timbul kesan bahwa sutradara Ryan Coogler ingin cepat-cepat menyelesaikan produksi film tersebut.

Secara keseluruhan, Sinners adalah sebuah film horor unik yang bisa menjadi opsi untuk para penggemar genre horror, thriller dan action. Sinners ibarat mengajak Anda menaiki roller coaster, di mana penonton akan dibawa dengan tempo pelan, sebelum kemudian diajak untuk ngebut dan berjumpalitan hingga akhir.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore