JawaPos.com - Film bergenre horor naik daun di industri perfilman Tanah Air sejak beberapa tahun belakangan. Hal itu membuat rumah produksi, produser, dan sutradara, terus menggali cerita horor yang hidup di masyarakat untuk diangkat ke dalam film.
Jika sebelumnya film horor tentang kuntilanak, pocong, tuyul, suster ngesot, wewe gombel, atau Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul sudah tidak asing karena kerap diangkat ke dunia perfilman, kali ini cerita horor urban legend dari Belitung yang diangkat ke film lewat judul The Bell: Panggilan untuk Mati.
Sinemata Buana Kreasindo mengangkat cerita hantu urban legend dari Belitung untuk memperkenalkan cerita ini ke publik luas. Karena cerita tentang hantu Panebok hidup di masyarakat Belitung sejak zaman kolonial dan diceritakan para orang tua ke anak-anak mereka dari waktu ke waktu sampai sekarang.
Pemilihan judul The Bell: Panggilan untuk Mati merujuk pada mitos lonceng keramat yang dimiliki para dukun kampung di Belitung. Di dalam lonceng ini, sang dukun diyakini dapat mengurung setan, arwah penasaran, bahkan hantu Penebok. Sejumlah warga Belitung percaya bahwa hantu Panebok bisa muncul karena ia lepas dari perangkapnya.
Selain itu, The Bell juga bisa juga diartikan sebagai kependekan dari kata Belitung, tempat lokasi cerita tentang hantu Panenok. Sosok hantu yang mendatangi korban dan mencabut kepala korban yang digunakan sebagai tumbal.
Budi Yulianto selaku Eksekutif Produser film The Bell mengatakan, produksi film ini secara keseluruhan dilakukan di daerah Belitung Timur dengan menjalani syuting di sana hampir satu bulan.
“The Bell menjadi film ketiga yang mengeksplorasi potensi Belitung Timur secara khusus. Dua film awal adalah Laskar Pelangi dan A Man Called Ahok. Keduanya sukses produksi dan sukses penjualan sebagai film box-office,” kata Budi Yulianto dalam keterangannya, Kamis (5/9).
Dia juga mengatakan, pihaknya tertarik menggarap cerita urban legend ini karena berita tentang orang meninggal secara misterius masih ada di Belitung. Misalnya pada tahun 2008, media sempat mengangkat berita tentang korban tewas tanpa kepala. Kemudian tahun 2017 juga sempat ada penemuan korban tewas tanpa kepala dan diberitakan media lokal. Dan pada tahun 2021, media lokal di Belitung juga sempat menurunkan artikel terkait penemuan mayat misterius tanpa kepala.
"Tiga artikel ini menjadi dasar cerita produksi film The Bell: Panggilan untuk Mati," bebernya.
Budi Yulianto menambahkan, Belitung Timur juga punya kelebihan tersendiri sebagai lokasi produksi film dengan studio alam yang sangat luas. Bermacam latar lokasi tersedia secara alami. Mulai dari pantai-pantai jernih berpasir lembut, kontur tanah berbukit, bangunan kuno era kolonial, tanah bekas tambang, hingga minimnya gangguan suara di sana dan sangat nyaman menjadi lokasi syuting.
"Semua titik lokasi produksi ini sangat mendukung suasana produksi The Bell. Begitu banyak area di Belitung memudahkan tim produksi menghidupkan legenda kontemporer cerita hantu Penebok," katanya.
Film The Bell: Panggilan untuk Mati dibintangi oleh Ratu Sofia, Bhisma Mulia, Givina Dewi, Syalom Razade, Mathias Muchus, Septian Dwi Cahyo, dan Nabil Lunggana. Film ini disutradarai oleh Jay Sukmo dan digarap bersama antara Multi Buana Kreasi dan Sinemata Productions.