
Krisna Trias merintis jalan sebagai musisi, setelah cukup lama berkarier sebagai produser.
JawaPos.com - Setelah cukup lama berkarier sebagai produser, Krisna Trias merintis jalan sebagai musisi. Pada Maret lalu, Krisna merilis minialbum Prosa Liris. Karya itu membawa pendengar ke era 1970-an, di mana seluruh genre musik ’’bermekaran’’, tanpa dikotak-kotakkan.
Prosa Liris menjadi pembuka jalan buat Krisna sebagai musisi. Sebelumnya, dia lebih banyak berkecimpung di dapur produksi sebagai produser. Dia mengakui, keputusan merilis satu album –tidak single demi single– lahir dari idenya sendiri.
’’Saya nyiapin lima lagu sekaligus sebagai perkenalan. Saya juga memutuskan langsung rilis sealbum karena ingin langsung showcase,’’ papar Krisna.
Krisna menjelaskan, penggarapan album tersebut cukup lama. Yakni, dua tahun. Hal itu disebabkan proses kurasi lagu yang panjang. ’’Banyak soundbank-nya,’’ imbuh Krisna. Selain itu, musisi kelahiran 1996 itu sempat merasa kaget. Sebab, kali ini dia bekerja dengan label.
’’Nulis lagu dan proses kreatifnya udah biasa. Tapi, yang bikin lama, penyesuaian dengan kultur kerja baru. Agak ada syoknya,’’ kata Krisna dalam wawancara dengan Jawa Pos bulan ini. Proses kerja yang biasanya dilakukan sendiri kini dikerjakan bersama-sama. Ada tahap voting dan diskusi sebelum karya diciptakan.
Di minialbum perdananya, pria yang tertarik di dunia musik sejak kelas III SD itu banyak terinspirasi musik era 1970-an. Sama dengan judulnya, Prosa Liris juga dikemas dengan lirik puitis.
Krisna menjelaskan, di proses penulisan, dia banyak diilhami karya Arswendo Atmowiloto, Rendra, hingga Albert Camus. Meski demikian, hal itu tidak membuat karyanya lantas njelimet.
Menurut Krisna, untuk menciptakan lagu yang terkesan old school, dia sengaja menggunakan bahasa baku. Namun, proses penulisannya dibuat layaknya bertutur.
’’Aku nyoba untuk bisa mengomunikasikan isi laguku dengan sederhana. Jadi, sekali dengar, pendengar bisa langsung menangkap maksudnya,’’ tutur Krisna.
Di antara lima lagunya tersebut, dia serta label Aquarius Musikindo memilih Pelipur Lara sebagai ’’representasi’’ utama album. Sebab, lagu itu dinilai paling mewakili identitas Krisna sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu.
Pelipur Lara pun dibuat klip videonya dengan aktris Aghniny Haque sebagai model. Konsep visualnya juga dibuat sangat 1970-an dengan latar utama kasino.
Meski telah dirilis sebagai album utuh, Krisna menilai, Prosa Liris masih akan ada lanjutannya. Dia telah mengantongi lima kandidat lagu baru. Secara umum, desain sound hingga liriknya masih ’’ada’’ di era 1970-an.
’’Tapi, bakal lebih upbeat. Karena dari pengamatanku, lagu upbeat seru untuk dibawakan dan dinyanyikan bareng,’’ ujar Krisna.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
