Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Juni 2023 | 19.43 WIB

Spider-Man: Across the Spider-Verse, Sekuel Multisemesta yang Spektakuler

Spider-Man: across the Spider Verse. - Image

Spider-Man: across the Spider Verse.

Miles Morales dan Gwen Stacy menghadapi masalah baru. Kemelut Alchemax –yang dikira telah rampung di film pertama– berbuntut panjang. Mereka kembali kedatangan villain baru serta ratusan manusia laba-laba lintas semesta.

---

SETAHUN lebih berlalu setelah Prowler, yang ternyata paman Miles Morales (Shameik Moore), berpulang. Gwen Stacy (Hailee Steinfeld) kembali ke Earth-65, semestanya. Sementara itu, Miles melanjutkan hidupnya di Brooklyn, di Earth-1610.

Mereka dihadapkan masalah yang sama: ekspektasi tinggi orang tua. Gwen memilih membelot. Dia masuk ke Spider-Society, komunitas berkemampuan manusia laba-laba setelah mengikuti Miguel O’Hara (Oscar Isaac) dan Jessica Drew (Issa Rae).

Sementara itu, Miles tetap menjalankan tugasnya sebagai Spider-Man, pahlawan lokal Brooklyn. Hingga suatu hari, dia menemui Spot (Jason Schwartzman). Villain itu merupakan eks ilmuwan Alchemax, yang hilang kendali, lalu ’’memenuhi” tubuhnya dengan portal. Kemampuan itu membuatnya mampu menjelajah semesta lain.

Diam-diam, hal tersebut dipantau Gwen. Namun, tanpa sepengetahuannya, Miles justru membuntuti Gwen dan ’’terlempar’’ ke semesta lain. Mereka terdampar di Mumbattan di Earth-50101. Di sana, keduanya bertemu Spider-Man India (Karan Soni) dan Spider-Punk (Daniel Kaluuya). Spot pun ikut muncul di sana, merusak dan menghancurkan kota.

Miles beraksi secara impulsif, yang tak disadarinya bisa merusak canon event atau ketetapan linimasa sebuah semesta. O’Hara marah besar. Bagi dia, tindakan nekat Miles itu bisa merusak tatanan semesta dan menghancurkan takdir seseorang. O’Hara menilai, Spider-Man memang harus ditakdirkan berkorban dan kehilangan orang terdekat demi menyelamatkan umat manusia.

Namun, suratan itu ditolak Miles. Dia yakin Spider-Man bisa menyelamatkan manusia, tanpa mengorbankan orang-orang terdekatnya. Sikap keras kepala itu membuat Miles berusaha kabur dari Earth-928 dan kembali ke Earth-1610 untuk menyelamatkan semestanya. Dia menjadi target Spider-Society.

Miles berkomplot dengan ’’laba-laba terasing” lainnya. Yakni, Gwen, Spider-Punk, serta ’’sahabat lamanya” dari petualangan pertamanya. Termasuk Peter B. Parker (Jake Johnson), Spider-Man yang kini telah menjadi ayah.

Spider-Man: Across the Spider-Verse menjadi proyek sekaligus fan service terbaik di genre superhero. Filmnya padat aksi dan cerita. Pengembangan karakter, khusus para lakon, begitu menarik. Visualnya memukau.

Setiap manusia laba-laba ditampilkan dengan style asli versi komiknya. Soundtrack dan scoring yang dihadirkan juga solid. Across the Spider-Verse berhasil menyamai, bahkan menaikkan, standar tinggi keseruan yang dihadirkan di film pertama, Spider-Man: Into the Spider-Verse.

Poin krusial, yang bisa jadi menarik maupun menyebalkan, ada di bagian akhir. Tim produksi benar-benar menyematkan ’’bersambung’’ dalam artian sebenarnya. Film diputus di bagian klimaks, tanpa menyisakan satu pun video post-credits. Fans pun dibuat bertanya-tanya tentang kelanjutan Spider-Society sambil menunggu kelanjutan ceritanya pada Maret 2024.

Tim sutradara mengakui, meramu Across the Spider-Verse cukup sulit. Cerita dibagi menjadi dua bagian, dengan jeda kurang dari setahun, karena banyaknya materi yang bagus. Kemp Powers menyatakan, rilis film kedua kali ini bertujuan memberikan waktu rehat buat kru produksi. ’’Kami sangat bersyukur karena bisa bertahan hidup saat menggarap proyek ini,’’ kelakar salah seorang sutradara, Joaquim Dos Santos.

Powers menjelaskan, durasi film yang mencapai 140 menit –lebih panjang 20–30 menit dari rerata durasi animasi pada umumnya– membuat proses editing intens. ’’Pada akhirnya, target kami adalah ’apakah audiensnya mengikuti ceritanya? Apa mereka menikmati filmnya, tanpa merasa filmnya kepanjangan’. Kami merasa, tak ada lemak di film ini, jujur saja,’’ imbuhnya.

Konsep multisemesta pun menuntut komposer Daniel Pemberton mengeksplorasi berbagai suasana untuk tiap Spider-Man. Ada suara glitch, cabikan gitar punk, orkestra, hingga keramaian manusia. ’’Film ini adalah contoh terbaik kegilaan musikal, kau mencampurkan ini-itu dan mencoba memadukannya menjadi satu bagian yang koheren,’’ paparnya. Pemberton menyatakan, dia banyak bekerja sama dengan tim animasi untuk mendapat gambaran detail dan perjalanan karakter baru. (fam/c12/ayi)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore