
SEJOLI: Ifa dan Dini selalu berusaha saling melengkapi. (IFA INSTAGRAM FOR JAWA POS)
Kamila Andini ibarat lem yang merekatkan hubungan Garin Nugroho dan Ifa Isfansyah. Sementara itu, jagat perfilman nasional adalah benang merah yang erat mengikat ketiganya.
---
GARIN adalah jaminan mutu. Sineas andal yang menjadi panutan insan perfilman nasional itu tidak pernah melahirkan karya yang biasa saja. Semua istimewa. Semua menginspirasi. Lalu, apakah jalur itu pula yang dia pilihkan untuk anaknya (dan menantunya)? Mengingat, Dini juga terjun di dunia yang sama. Begitu pula suami Dini, Ifa.
Kepada Jawa Pos, Garin mengungkapkan, dalam lubuk hatinya, dirinya berharap Dini menjadi akademisi. Dosen, misalnya. Maka, dia mengirimkan putri sulungnya itu berkuliah ke Negeri Kanguru. Jurusan yang Dini ambil juga bukan tentang film. ’’Saya tidak pernah mengajari film juga,’’ ujar bapak empat anak tersebut.
Karena itu, Garin terkejut saat Dini mengungkapkan hasrat terdalamnya untuk membuat film. ’’Justru bikin kaget. Pulang dari Melbourne kok bilang ingin bikin film,’’ ungkapnya.
Namun, Garin sadar bahwa darah seni mengalir deras dalam keluarganya. ’’Dua kakak saya perupa dari ITB. Kakek penulis dan penerbit buku,’’ kata lelaki 60 tahun tersebut. Selain itu, dia tidak pernah menyembunyikan ketertarikannya terhadap film. Maka, sejak kecil pun Dini akrab dengan film dan penyutradaraan.
Photo
PANUTAN: Garin menjadi sineas teladan bagi Ifa dan Dini. (GARIN NUGROHO FOR JAWA POS)
Secara khusus, Garin memang tidak pernah menularkan bakatnya kepada Dini. Juga, kepada adik-adik Dini. Bahkan, dia sengaja tidak terlalu menonjolkan hal-hal yang berbau film di rumah. Itu dilakukan supaya tidak ada tekanan kepada anak-anaknya untuk ikut jejak sang ayah yang jelas-jelas sukses di jalur perfilman. ’’Anak-anak boleh menjalankan cita-cita secara bebas,’’ katanya.
Berpijak pada asas kebebasan itu pula, Garin tidak melarang Dini terjun ke perfilman, seperti dirinya. Sebagai orang tua, dia mendukung penuh cita-cita sang putri yang ketika itu baru saja menyandang gelar sarjana dari Deakin University.
Garin percaya, kebiasaan yang dia terapkan di keluarganya untuk mengapresiasi seni dan pengetahuan serta berdiskusi tentang hal-hal tersebut bisa menjadi bekal awal bagi anak-anaknya. Bukan hanya bagi Dini yang menekuni bidang yang sama dengannya, tapi juga bagi tiga anaknya yang lain. Apa pun bidang yang mereka tekuni nanti.
Menonton pertunjukan teater, film, atau pameran seni rupa adalah kebiasaan baik yang Garin tularkan kepada anak-anaknya. Dia juga selalu terbuka mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan apa saja yang mereka tonton. ’’Mungkin juga itu menjadi ruang pendidikan secara tidak langsung (bagi Dini, Red) untuk menjadi sineas,” ujarnya.
Sebagai sineas, Garin adalah figur yang menjunjung tinggi profesionalisme. Prinsip itu membuatnya tidak pernah mendikte Dini dalam berkreasi. Dia juga mengaku tidak pernah menemani Dini saat beraksi sebagai sutradara. ’’Hanya say hello,’’ katanya.
Diskusi dengan Dini soal film pun, menurut Garin, jarang terjadi. Jika ada pun, hanya terjadi setelah draf skenario atau penyuntingan selesai. ’’Dari dialektika soal film dengan Dini itu setidaknya saya tahu bahwa dia selalu mengambil tema perempuan,’’ jelasnya.
Photo
Idan dan Garin bersepeda di sela menghadiri fesvital film di Venesia. (IFA INSTAGRAM FOR JAWA POS)
Garin bungah karena Dini kritis soal tema. Film-film yang dia hasilkan tidak jauh dari pergolakan batin atau beban psikologis perempuan dan perasaan tersembunyi yang begitu surealis. Dia bangga karena Dini bisa menyuarakan batin perempuan dalam bahasa visual. ’’Sederhana, tapi kuat dan sangat Indonesia,” jelasnya.
Jika kiprah sinematografi Dini lahir secara organik, tanpa campur tangan Garin, bagaimana dengan Ifa? Apa peran Garin, sang sineas, dalam karier Ifa? Menurut Garin, jawabannya sama dengan apa yang dia sampaikan tentang Dini. Tidak ada.
Garin mengenal Ifa sebagai sineas muda yang berapi-api dalam berkarya. Beberapa kali Garin menjadi juri dalam kompetisi film yang Ifa ikuti. Sebelum Dini menambatkan hatinya kepada Ifa, Garin sudah ’’kepincut” Ifa duluan. Itu karena Ifa jeli dalam mengemas karyanya untuk menjadi tontonan yang menarik.
Kini, setelah menjadi menantunya, Garin semakin komplet melihat Ifa. Menurut dia, Dini dan Ifa saling melengkapi. Ifa piawai sebagai produser dan Dini adalah sutradara yang sedang menggebu-gebu dalam berkarya. ’’Mereka berbagi tugas. Ifa fokus membangun sekolah dan menjadi produser, Dini menjadi sutradara karya populer,” urainya.
Garin beranggapan bahwa yang saat ini dia dan Dini serta Ifa jalani sudah pas. Maka, dia tidak mau merusaknya. Dia akan tetap menjaga jarak aman dengan tidak melanggar privasi dan ruang kreasi mereka. Laiknya sineas senior terhadap juniornya, Garin selalu membuka diri untuk berdiskusi tentang film dengan putri dan menantunya. Dia juga siap berbagi pengalaman. Begitu pula mengapresiasi karya atau menegur kinerja mereka.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
