
Raya and the Last Dragon. (Disney)
PEKAN depan, Raya and the Last Dragon dirilis di bioskop dan Disney+ dengan akses premiere. Dalam animasi berlatar budaya Asia Tenggara itu, pendekar tangguh Raya (Kelly Marie Tran) bertualang bersama sang naga terakhir Sisu (Awkwafina) yang periang untuk menyelamatkan Kumandra. Jawa Pos berkesempatan ngobrol dengan dua aktris Hollywood itu pekan lalu (21/2).
---
Apa yang membuat Raya berbeda dari Disney Princess lainnya?
Tran: Raya bagi saya bisa memberikan gambaran tentang bagaimana pahlawan itu. Saya tumbuh dengan melihat sosok pahlawan yang itu-itu saja. Dia kuat, cerdik, sekaligus rapuh dan sensitif. Di satu sisi dia takut dengan dunia, namun memutuskan untuk berani menghadapinya.
Raya diceritakan punya pengalaman buruk berupa pengkhianatan. Apa Kelly pernah mengalami?
Tran: Karakter Raya benar-benar related buat saya. Saya yakin bahwa ketika menjadi dewasa, kita menemukan bahwa dunia tidak sebaik yang kita kira. Namun, seiring waktu, kita masih percaya bahwa dunia ini bisa jadi lebih baik meski kadang ragu. Itulah yang bikin saya lebih bisa memahami karakter Raya.
Untuk Awkwafina, apa alasan menerima tawaran ini?
Awkwafina: Saat kali pertama mendapat tawaran, saya pikir ini bakal jadi live-action. Setelah melihat desain dan konsep animasinya, saya melihat banyak orang Asia yang terlibat. Salah satunya penulis naskah Adele Lim, yang menulis Crazy Rich Asians, film yang saya bintangi. Sebagai sesama orang berdarah Asia, saya ingin semakin banyak keterlibatan orang Asia di balik layar dalam sebuah proyek. Itulah yang membuat saya ingin bergabung.
Karakter Sisu dalam wujud manusia mirip Awkwafina. Apakah memang didesain khusus?
Awkwafina: Hahaha... Mirip ya? Sebenarnya sih tidak ada sesi khusus dengan tim desain. Jadi, mereka mendesain karakter Sisu versi manusia tanpa sepengetahuan saya. Tapi memang, ketika merekam suara, kami melakukannya di depan kamera. Waktu melihat hasil desainnya, saya pun kaget melihat karakternya bisa mirip saya. Bahkan, gigi kami mirip.
Setelah film ini, bagaimana pandangan kalian terhadap budaya Asia Tenggara?
Tran: Berkat riset mendalam, wawasan saya tentang corak budaya Asia Tenggara yang penuh warna semakin bertambah. Misalnya, makanan dan kekayaan tekstil. Salah satu yang cukup berkesan buat saya adalah ketika mempelajari arnis (bela diri khas Filipina), yang digunakan Raya. Mungkin suatu saat saya akan belajar lagi.
Awkwafina: Saya sempat berada di Kuala Lumpur dan Singapura saat syuting Crazy Rich Asians. Di situ saya sudah tertarik dengan keberagaman Asia Tenggara. Setelah mengisi suara Sisu, saya jadi lebih kagum. Apalagi makanannya. Ada nasi goreng, roti canai, tom yam. Duh saya jadi lapar... Haha.
Apakah belajar menggunakan aksen tertentu dari negara-negara di Asia Tenggara?
Tran: Kami tidak menggunakan aksen dari negara mana pun. Kami mencoba menyesuaikan karakter suara dengan tokoh masing-masing. Saya sendiri harus mengisi suara Raya kecil dan Raya dewasa.
Awkwafina: Salah satu yang harus kami persiapkan sebelum mengisi suara adalah mencari tahu detail karakter. Untuk Sisu, saya harus mencoba sampai suaranya terdengar cocok dengan gestur, ekspresi, dan latar cerita. Jadi, bukan gaya bicara khas wilayah tertentu, melainkan gaya bicara khas Sisu.
Baca Juga: Mediasi Gagal, Rhoma Irama Lanjutkan Gugatan Hak Cipta Lagu Rp 1 M
Bagaimana menumbuhkan chemistry karena dubbing dilakukan terpisah?
Tran: Sejujurnya, saya adalah penggemar Awkwafina dan karya-karyanya. Setiap kali melihatnya, saya jadi tertular semangatnya. Dia itu sosok orang yang selalu bisa menumbuhkan chemistry dengan siapa saja. Kami pun bisa merasa dekat meski bekerja berjauhan.
Awkwafina: Saya suka Tran. Dia sosok yang mudah disukai meski tidak ditemui secara langsung. Tapi, dengan melihatnya saja di kamera, saya sudah tahu bahwa kami bisa bersahabat. Bahkan, saya sudah punya rencana untuk ke rumahnya. Iya kan, Kelly? (Tran merespons dengan tertawa).
Saksikan video menarik berikut ini:
https://youtu.be/dYdS4KQdYXc

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
