Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 September 2025, 06.35 WIB

Film The Killing of a Sacred Deer (2017): Teror Psikologis ala Yorgos Lanthimos

Cuplikan dalam film The Killing of a Sacred Deer (Dok. IMDb) - Image

Cuplikan dalam film The Killing of a Sacred Deer (Dok. IMDb)

JawaPos.com - The Killing of a Sacred Deer adalah film thriller psikologis tahun 2017 yang ditulis dan disutradarai oleh sineas asal Yunani, Yorgos Lanthimos. Film ini mengadopsi gaya narasi yang kering dan dialog yang tak lazim, menciptakan ketegangan melalui situasi yang semakin grotesk. Gaya ini semakin diperkuat oleh penggunaan metafora yang membangkitkan nuansa tragedi klasik.

Di pusat cerita, berdiri Dr. Steven Murphy, seorang ahli bedah jantung sukses yang tampak memiliki segala hal; karier gemilang, istri tercinta, dan dua anak yang bahagia. Kehidupan harmonis itu terusik ketika dia mulai menjalin pertemanan dengan Martin, remaja berusia enam belas tahun yang misterius. Hubungan antara dokter dan pasien ini membuka celah misteri yang menuntun pada bencana emosional.

Colin Farrell memerankan Dr. Steven Murphy dengan ekspresi datar yang kontras dengan kecanggihan karakternya, sementara Nicole Kidman menjadi Anna, sang istri dan dokter mata yang setia. Barry Keoghan menghidupkan sosok Martin dengan aura dingin dan tak terduga. Pemeran pendukung lain yang turut menambah lapisan ketegangan antara lain Raffey Cassidy, Sunny Suljic, Alicia Silverstone, dan Bill Camp.

Sinematografi oleh Thimios Bakatakis menampilkan potongan gambar detail tubuh manusia, mulai dari organ yang berlumuran darah hingga ekspresi wajah yang nyaris tanpa emosi. Transisi antara adegan operasi yang brutal dan percakapan prihatin tentang jam tangan menciptakan efek janggal yang disengaja. Teknik framing-nya terasa seperti Rorschach bagi penonton, memicu rasa tidak nyaman yang mendalam.

Film ini pertama kali ditayangkan di Festival Film Cannes pada 22 Mei 2017, sebelum dirilis di Irlandia dan Britania Raya pada 3 November 2017. Pemutaran perdana di festival bergengsi tersebut memicu antisipasi tinggi berkat reputasi Lanthimos sebagai pembuat film eksperimental. Jadwal rilis internasional ini menegaskan ambisi universal cerita yang diusungnya.

Dalam penilaian kritis, The Killing of a Sacred Deer mencatat skor 79% di Rotten Tomatoes, 73 dari 100 di Metacritic, dan rating 7,0/10 di IMDb. Angka-angka ini mencerminkan apresiasi terhadap keberanian narasi dan kualitas akting, meski premisnya dianggap terlalu gelap bagi sebagian penonton.

Secara komersial, film ini menghasilkan pendapatan kotor sekitar 10,7 juta dolar AS di seluruh dunia. Angka tersebut terbilang moderat mengingat genre psikologis yang kerap menarik ceruk penonton terbatas. Namun, biaya produksi yang relatif rendah memungkinkan film ini mencetak keuntungan.

Di balik layar, Yorgos Mavropsaridis menangani penyuntingan, menjaga ritme antara adegan dramatis dan horor dengan presisi. Kombinasi sinematografi dan penyuntingan menciptakan nuansa dokumenter yang mencekam, meski tak sepenuhnya mengadopsi gaya found footage seperti beberapa film polisi kontemporer.

Ketika Bob, putra bungsu Steven dan Anna, tiba-tiba tidak bisa menggerakkan kakinya, ketegangan mulai memuncak. Gejala aneh itu berkembang menjadi kelumpuhan total dan berhenti makan. Martin kemudian mengungkapkan bahwa semua ini adalah balas dendam kosmik atas kematian ayahnya yang pernah dioperasi oleh Steven. Pilihan brutal pun muncul: satu anggota keluarga Murphy harus mati agar yang lain selamat.

Melalui plot tersebut, Lanthimos mengeksplorasi batasan antara sains dan supranatural, menghadapkan seorang dokter pada dilema moral yang tak bisa dipecahkan oleh logika medis. Konsep keadilan kosmik dan tanggung jawab manusia saat “bermain Tuhan” menjadi tema sentral yang mengguncang keyakinan penonton.

Judul film ini sendiri merujuk pada mitologi "rusa keramat", simbol kesucian yang tak seharusnya disentuh manusia. Dalam konteks cerita, judul itu memetaforakan pelanggaran etis dan konsekuensi fatal ketika manusia mencoba mencabut atau mengatur nyawa sesama. Pesan moral tentang kesombongan ilmiah dan dosa intervensi ilahi disampaikan lewat dialog yang serupa teka-teki.

Respons kritikus beragam, sebagian memuji keberanian naratif Lanthimos yang memaksa penonton bertanya: apakah keadilan ini dapat ditegakkan oleh manusia? Roger Ebert menyebut film ini "tak terlupakan" berkat pertanyaan tanpa jawaban yang menghantui dan komposisi visual mulus. Namun, ada pula yang menganggap durasi 121 menit terlalu panjang untuk premis yang berporos pada satu konflik utama.

Bagi penggemar film psikologis, The Killing of a Sacred Deer menyuguhkan pengalaman menegangkan yang tak sekadar seram. Kekuatan film terletak pada keseimbangan antara dialog dingin, visual mengerikan, dan tekanan moral yang memaksa pemirsa ikut mempertaruhkan empati. Genre ini diangkat oleh Lanthimos ke tingkat seni eksperimental, meninggalkan jejak bagi sineas lain.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore