
KIAN DIMINATI: Para pelakon memainkan Musikal Bawang Merah Bawang Putih dalam special preview di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (9/5). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Selama bertahun-tahun, pentas musikal di Indonesia hanya hadir sebagai pertunjukan sesekali. Itupun terbatas panggung kecil atau skala komunitas. Namun, lima tahun belakangan, ekosistem musikal kian ”hidup”. Terutama di Jakarta. Gedung berkapasitas lebih dari 1.000 penonton terisi penuh. Bahkan, peminat mesti war ticket dan sering sold out jauh sebelum pentas digelar.
MUSIKAL Petualangan Sherina, Keluarga Cemara, Lutung Kasarung, dan banyak lainnya, turut menjadi titik balik industri kesenian ini. Hal itu memperlihatkan bahwa pasar Indonesia tidak hanya siap, tetapi juga haus akan hiburan yang menggabungkan akting, musik, tari, dan narasi yang kuat.
Pentas Re-Run Musikal Lutung Kasarung yang diproduksi EKI Dance Company, misalnya. Awalnya digelar 4 show, karena antusiasme penonton ditambah menjadi total 7 show mulai 22 – 25 Mei di Gallery Ciputra Artpreneur, Jakarta yang berkapasitas total 1.157 seat. Itupun seluruh tiket sudah habis terjual 21 April lalu atau sebulan sebelum pertunjukan dihelat.
Begitu pula Musikal Bawang Merah Bawang Putih di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Jakarta pada Sabtu (10/5) lalu. Dua kali show dan special preview satu hari sebelumnya dipenuhi penonton.
Aldafi Adnan, sutradara sekaligus pelakon musikal menuturkan, beberapa tahun belakangan, terutama pascapandemi memang industri drama musikal berkembang cukup pesat. Dalam setahun banyak produksi yang dibuat berbagai komunitas maupun lembaga.
”Dulu sebelum pandemi minim, setahun hanya ada satu atau dua pementasan. Sekarang dari awal sampai akhir tahun bisa belasan pementasan atau produksi,” ujarnya ditemui Jawa Pos setelah pementasan Bawang Merah Bawang Putih di Galeri Indonesia Kaya, Jumat (9/5).
Dafi menceritakan, sebagai seorang yang bekerja di depan maupun di balik layar, dia melihat perkembangan drama musikal makin menunjukkan geliatnya. Perkembangan itu tecermin bukan hanya dari jumlah pementasan yang digelar, tetapi juga dukungan pihak-pihak terkait. Musikal tak lagi sebatas ruang ekspresi, tetapi berkembang menjadi sektor kreatif yang menjanjikan.
”Mulai banyak production house yang membuat drama musikal, contohnya Keluarga Cemara. Ekosistem drama musikal memang sedang berkembang secara pesat, yakin, dan benar,” tutur pria yang berperan sebagai Telmi Yahya dalam Geng Tilu K di Musikal Keluarga Cemara itu.
Tak hanya dari sisi penonton, minat dari para kreator pun melonjak. Banyak aktor, musisi, koreografer, dan penulis skenario yang mulai melihat musikal sebagai media ekspresi utama mereka. Meski Broadway menjadi kiblat industri ini secara global, namun berbagai pertunjukan drama musikal tanah air tetap memasukkan unsur budaya lokal dan cerita khas Indonesia. Hal itu justru menjadikan musikal Indonesia memiliki identitas yang unik.
Galabby Thahira, pemeran Ibu Tiri dalam musikal Bawang Merah Bawang Putih serta Emak dalam Musikal Keluarga Cemara menuturkan, justru local wisdom turut menjadi salah satu katalis yang membuat drama musikal tanah air bisa lebih ”diterima”.
”Masyarakat kita justru banyak lho yang suka dengan cerita orisinal dan budaya, jadi lebih relatable,” ucapnya. Bahasa yang dipakai di pertunjukan juga pakai bahasa sehari-hari, lalu film-film akhirnya dibuat ke panggung musikal. ”Itu semua bikin orang-orang makin tertarik. Memang butuh ’pancingan’ dulu,” lanjut perempuan yang juga pernah menimba ilmu di Broadway itu.
Namun geliat panggung musikal tak terjadi dalam ruang hampa. Dibutuhkan sebuah ekosistem yang sehat agar musikal bisa terus berkembang. Padahal, lanjut Galabby, cikal bakal industri ini sudah ada di tanah air sejak puluhan tahun silam. Dia mencontohkan kesenian ludruk maupun ketoprak yang sejatinya nenek moyang drama musikal Indonesia.
Baca Juga: Cerita Aladdin Diolah dalam Drama Musikal
Musikal Keluarga Cemara Hadir Lagi 30 Pertunjukan
Setelah sukses memikat hati puluhan ribu penonton tahun 2024, Musikal Keluarga Cemara kembali ke atas panggung. Menawarkan kisah klasik yang tetap relevan—tentang cinta, kesederhanaan, dan nilai-nilai keluarga yang hangat.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
