Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Januari 2025 | 01.25 WIB

Woodwalkers: Mengajarkan Indahnya Perbedaan Melalui Interaksi Hewan Sungguhan, Namun Eksekusinya Jauh dari Kata Memuaskan

Adegan dalam film Woodwalkers. (Istimewa) - Image

Adegan dalam film Woodwalkers. (Istimewa)

JawaPos.com - Film keluarga dengan pesan moral tentang menjunjung tinggi perbedaan memang bukan barang baru. Beragam metafora dan perumpamaan sudah digunakan oleh serentetan sutradara untuk menyampaikan pesan yang baik tersebut.

Film Jerman Woodwalkers yang digarap oleh Damian John Harper juga hadir dengan membawa hal tersebut. Diangkat dari novel berjudul sama, Woodwalkers dibintangi oleh sederet aktor seperti Emile Cherif, Emil Bloch, Oliver Masucci, Olivia Sinclair dan lainnya.

Woodwalkers mengisahkan tentang Carag, seorang bocah yang merupakan jelmaan atau woodwalker dari seekor puma. Memisahkan diri dari keluarga aslinya karena penasaran dengan kehidupan manusia, Carag hidup bersama keluarga manusianya sembari menyembunyikan jati dirinya.

Kehidupan Carag berubah ketika ia diberi tawaran untuk masuk ke sebuah sekolah bernama Clearwater High yang, ternyata, merupakan sekolah khusus untuk para kaum woodwalker.

Di sekolah ini, Carag diajarkan untuk mengontrol kemampuannya sembari dituntut untuk tetap bisa hidup sebagai manusia normal. Pertemuannya dengan para woodwalker lain yang merupakan jelmaan dari beragam hewan membuat Carag mau tak mau harus beradaptasi.

Sembari Carag menjalani kehidupan barunya, serangkaian peristiwa aneh terjadi di kota, di mana para hewan secara misterius menyebabkan sejumlah insiden dan kecelakaan massal. Carag pada akhirnya terseret masuk ke dalam pusaran konspirasi yang melibatkan manusia dan kaum woodwalker, dan ia terpaksa harus mengambil sikap demi menjaga keseimbangan hidupnya.

Dari sinopsis di atas, Woodwalkers memang hampir tidak menawarkan hal yang fresh. Kisah tentang seorang anak dengan kondisi spesial sebelum kemudian berkecimpung di sebuah sekolah dengan anak-anak lain yang punya kondisi serupa memang sudah pernah dikisahkan dalam saga Harry Potter maupun Percy Jackson.

Bedanya, Woodwalkers bukanlah sebuah film yang digarap untuk menjadi layaknya kedua judul di atas. Film ini betul-betul film keluarga yang amat ringan. Mulai dari plot yang sangat mudah dimengerti hingga adegan-adegan aksi di dalamnya, Woodwalkers bukanlah tipe pop corn movie yang akan memanjakan mata dan memicu adrenalin.

Walau demikian, ada nilai plus yang harus diberikan. Film ini menggunakan banyak hewan sungguhan dalam penggarapannya seperti puma, serigala, anjing pemburu, bison, rusa, tupai, burung elang dan lainnya, meskipun ada hewan lain seperti beruang dan burung gagak yang menggunakan CGI.

Hewan-hewan ini ditampilkan ketika Carag dan para woodwalkers lain sedang berubah ke mode binatang. Mereka berkomunikasi secara telepati, yang membuat film ini tidak menggunakan teknik komputer untuk membuat mulut para hewan tersebut berbicara layaknya manusia.

Yang bikin cukup salut, hewan-hewan ini juga bisa diarahkan sedemikian rupa agar aksi mereka bisa bersatu padu dengan skrip film. Alhasil, tingkah mereka hampir tidak terlihat aneh atau off. Pemilihan lokasi setting dan pengambilan gambar suasana hutan dan pegunungan yang begitu indah juga menjadi nilai plus sendiri. 

Sayangnya, hanya itu nilai positif yang bisa diberikan untuk film ini. Untuk elemen sisanya, Woodwalkers harus diakui bukanlah film yang layak diacungi jempol.

Eksekusi produk akhirnya begitu tidak memuaskan dari segala sisi. Akting dan chemistry para aktor dan aktris di dalamnya begitu hambar dan tidak hidup sama sekali. 

Beberapa adegan yang harusnya terlihat emosional pun hanya terlihat datar-datar saja. Pergulatan batin Carag sebagai seekor puma dan seorang manusia pun tidak bisa tersampaikan dengan sempurna akibat hal ini. Hubungannya bersama kedua kawannya, yakni Holly si tupai dan Brandon si bison serta Lou si rusa betina yang merupakan love interest-nya betul-betul tidak memberikan kesan apapun.

Tak cuma itu, dialog yang dihadirkan pun kelewat kaku. Saking kakunya, beragam jokes yang dilemparkan pun terdengar begitu cheesy dan kelewat cringe, bahkan untuk standar film anak-anak sekalipun.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore