
Kakak Beradik Seita dan Setsuko Dalam Film Grave of the Fireflies. (Foto: nerdlife.cz)
JawaPos.com – Grave of the Fireflies adalah salah satu film lawas produksi studio Ghibli yang rilis di tahun 1988. Disutradarai oleh Isao Takahata, dan diadaptasi dari cerpen karya Akiyuki Nosaka, film ini berhasil membuat penonton ikut masuk kedalam dunia fantasi yang diciptakan.
Berkisah tentang sepasang kakak beradik, Seita berusia 14 tahun dan Setsuko berusia 4 tahun, yang hidup di akhir Perang Dunia II. Setelah serangan bom yang dijatuhkan oleh pasukan AS di kota Kobe, Jepang, pada Maret 1945, dua bersaudara ini terpaksa kehilangan orang tua mereka.
Akibatnya, mereka harus berjuang bertahan hidup di kondisi yang antah berantah. Satu-satunya hal yang tersisa dari kejadian itu adalah mereka masih memiliki satu sama lain.
Baca Juga: Sinopsis Film Grave of the Fireflies, Kisah Kakak Beradik yang Bertahan Hidup dari Serangan Perang
Produksi film ini berangkat dari kisah nyata Akiyuki Nosaka, yang telah menuangkan pengalaman hidupnya dalam sebuah karya berjudul Grave of the Fireflies. Novel semi-autobiografi ini ditulis sebagai bentuk luapan emosi dari sang author mengingat wafatnya sang adik, Keiko, yang disebabkan malnutrisi di Jepang pada tahun 1945.
Dilansir dari Ghibli Fandom, Nosaka Akiyuki lahir pada tahun 1930 di Kamakura, sebuah kota pesisir di Jepang yang terletak tepat di selatan Tokyo.
Namun, ibunya meninggal tak lama setelah melahirkannya, dan Nosaka diadopsi oleh bibinya di Manchidani-cho, Kobe, yang ia percayai sebagai ibunya. Sedangkan ayah kandung Nosaka sudah hilang kontak dan dikabarkan menikah lagi.
Ketika perang terjadi di Jepang, Nosaka yang terlalu tua untuk dievakuasi dan terlalu muda untuk direkrut, menjadi bagian dari kelompok yang bertugas mempertahankan diri dari serangan udara. Ketika tragedi pengeboman Kobe pada 5 Juni 1945, ayah angkatnya tewas dan "ibunya" mengalami cedera parah.
Nosaka melarikan diri bersama dengan Keiko, saudara perempuannya yang masih berusia 1 tahun 4 bulan, tetapi dirinya dan orang dewasa di sekitarnya gagal merawatnya dengan baik, sehingga Keiko meninggal pada Agustus 1945.
Setelah itu, Nosaka pindah ke Tokyo, yang kemudian tertangkap saat mencuri dan dijebloskan ke pusat penahanan anak. Di sana, Nosaka menyaksikan banyak teman sesama tahanan yang meninggal karena kelaparan.
Selama menggambarkan sosok Keiko dalam novelnya, Nosaka mengungkapkan rasa bersalah yang dipikulnya dan novel ini setidaknya dapat menjadi sebagian kecil yang bisa dirinya lakukan untuk mendiang sang adik.
Gambaran sosok Keiko yang hanya memiliki kunang-kunang sebagai penerang dan sebagai cara untuk mengalihkan perhatian, hingga melawan dinginnya malam sambil mencuci kutu dari kulit sang adik dengan air botol yang diambil dari laut.
Nosaka berharap bahwa dirinya bisa lebih dari itu. Berharap dirinya bisa mengelus sang adik sebanyak yang Seita lakukan pada Setsuko di dalam novelnya.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
