Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Agustus 2024 | 00.21 WIB

The Crow: Drama Balas Dendam Sadis Sang Anti-Hero Melodramatis

The Crow. (Istimewa) - Image

The Crow. (Istimewa)

JawaPos.com - Bagi yang melewati masa-masa remaja di era 1990-an, film The Crow mungkin bukanlah judul yang asing. Film yang rilis di tahun 1994 ini kala itu dibintangi oleh putra mendiang legenda bela diri Bruce Lee, Brandon Lee yang tewas secara tragis dalam proses syutingnya.

Terlepas dari kisah pilu Brandon Lee, The Crow mendulang kesuksesan cukup besar yang membuat franchise tersebut menelurkan tiga film berikutnya di tahun 1996, 2000 dan 2005.

Tahun ini, tiga dekade setelah perilisan film pertamanya, The Crow kembali tayang di layar lebar dengan sutradara Rupert Sanders sebagai pengarahnya. Film ini menggaet aktor Bill Skarsgard sebagai pemeran Eric Draven alias The Crow.

Tidak jauh berbeda dengan versi aslinya, The Crow mengisahkan tentang perjuangan balas dendam Eric yang bangkit dari kematian usai dibunuh dengan kejam oleh sindikat penjahat. Tak hanya Eric, para penjahat itu juga membunuh kekasihnya, Shelly (FKA Twigs).

Kebangkitan Eric dari maut disebabkan oleh kekuatan mistis burung gagak yang berada di alam gaib. Hal ini kemudian membuat Eric menjelma menjadi sosok yang tidak dapat mati dan mampu menyembuhkan tubuhnya walau sudah terluka sangat parah akibat terjangan peluru maupun tusukan benda tajam.

Berbekal kemampuan barunya dengan bahan bakar dendam membara, Eric mulai memburu satu per satu orang yang membunuh kekasihnya.

Dari sisi action, The Crow boleh dibilang menyuguhkan apa yang penonton harapkan, khususnya mereka yang sudah mengenal franchise ini. Jika Anda mencari film dengan adegan aksi super sadis bersimbah darah, film ini bisa jadi pilihan yang pas.

Peran Bill Skarsgard juga pantas mendapat apresiasi. Meski tidak digambarkan berperawakan gondrong seperti film aslinya, tongkrongan Skarsgard sebagai The Crow yang melodramatis boleh dibilang mampu memberikan kesan positif tersendiri.

Sayang, semua aspek positif itu tidak diperkuat dengan plot cerita yang terstruktur. The Crow terkesan digarap dengan terburu-buru dan berantakan. Adegan mesra antara Eric dan Shelly yang terlampau banyak dan tidak penting ikut andil dalam merusak film ini, meski hal terrsebut mungkin ditampilkan untuk menunjukkan betapa kedua tokoh tersebut saling menyayangi.

Motif sosok antagonis dalam film ini juga gagal tersampaikan dengan baik. Akibatnya, penonton tidak bisa ikut merasakan kemarahan The Crow dalam menuntaskan dendamnya. Semua emosi dan amarah terasa begitu hambar.

Secara keseluruhan, harus dikatakan bahwa The Crow bukanlah sebuah karya apik. Namun, bagi Anda yang sudah fasih dengan franchise ini dan ingin bernostalgia, film ini mungkin bisa memberi Anda sedikit sensasi tersebut.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore