
The Crow. (Istimewa)
JawaPos.com - Bagi yang melewati masa-masa remaja di era 1990-an, film The Crow mungkin bukanlah judul yang asing. Film yang rilis di tahun 1994 ini kala itu dibintangi oleh putra mendiang legenda bela diri Bruce Lee, Brandon Lee yang tewas secara tragis dalam proses syutingnya.
Terlepas dari kisah pilu Brandon Lee, The Crow mendulang kesuksesan cukup besar yang membuat franchise tersebut menelurkan tiga film berikutnya di tahun 1996, 2000 dan 2005.
Tahun ini, tiga dekade setelah perilisan film pertamanya, The Crow kembali tayang di layar lebar dengan sutradara Rupert Sanders sebagai pengarahnya. Film ini menggaet aktor Bill Skarsgard sebagai pemeran Eric Draven alias The Crow.
Tidak jauh berbeda dengan versi aslinya, The Crow mengisahkan tentang perjuangan balas dendam Eric yang bangkit dari kematian usai dibunuh dengan kejam oleh sindikat penjahat. Tak hanya Eric, para penjahat itu juga membunuh kekasihnya, Shelly (FKA Twigs).
Kebangkitan Eric dari maut disebabkan oleh kekuatan mistis burung gagak yang berada di alam gaib. Hal ini kemudian membuat Eric menjelma menjadi sosok yang tidak dapat mati dan mampu menyembuhkan tubuhnya walau sudah terluka sangat parah akibat terjangan peluru maupun tusukan benda tajam.
Berbekal kemampuan barunya dengan bahan bakar dendam membara, Eric mulai memburu satu per satu orang yang membunuh kekasihnya.
Dari sisi action, The Crow boleh dibilang menyuguhkan apa yang penonton harapkan, khususnya mereka yang sudah mengenal franchise ini. Jika Anda mencari film dengan adegan aksi super sadis bersimbah darah, film ini bisa jadi pilihan yang pas.
Peran Bill Skarsgard juga pantas mendapat apresiasi. Meski tidak digambarkan berperawakan gondrong seperti film aslinya, tongkrongan Skarsgard sebagai The Crow yang melodramatis boleh dibilang mampu memberikan kesan positif tersendiri.
Sayang, semua aspek positif itu tidak diperkuat dengan plot cerita yang terstruktur. The Crow terkesan digarap dengan terburu-buru dan berantakan. Adegan mesra antara Eric dan Shelly yang terlampau banyak dan tidak penting ikut andil dalam merusak film ini, meski hal terrsebut mungkin ditampilkan untuk menunjukkan betapa kedua tokoh tersebut saling menyayangi.
Motif sosok antagonis dalam film ini juga gagal tersampaikan dengan baik. Akibatnya, penonton tidak bisa ikut merasakan kemarahan The Crow dalam menuntaskan dendamnya. Semua emosi dan amarah terasa begitu hambar.
Secara keseluruhan, harus dikatakan bahwa The Crow bukanlah sebuah karya apik. Namun, bagi Anda yang sudah fasih dengan franchise ini dan ingin bernostalgia, film ini mungkin bisa memberi Anda sedikit sensasi tersebut.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
