Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 Juni 2022 | 02.48 WIB

Menyimak Kisah Pewayangan Modern di Satria Dewa: Gatotkaca

Satria Dewa Studio - Image

Satria Dewa Studio

Astina ada di situasi mencekam. Setelah menghadapi wabah misterius, mereka diliputi kecemasan karena pembunuhan berantai. Korbannya pun merupakan sosok yang berprestasi. ’’Kiamat kecil” itu menandai satu hal pasti: Kurawa kembali.

---

DALAM hitungan hari, Yuda (Rizky Nazar) kehilangan orang-orang terdekatnya. Sahabat baiknya, Erlangga (Jerome Kurnia), meninggal di acara wisuda kampusnya. Tak lama setelahnya, ibu Yuda yang bernama Arimbi (Sigi Wimala) tewas dibunuh. Dua tragedi itu sama-sama dilakukan bala kurawa. Dia dan Agni (Yasmin Napper) berusaha mengusut penyebab kematian itu.

Keduanya bertemu Dananjaya (Omar Daniel) dan adiknya, Gege (Ali Fikry), yang merupakan orang kepercayaan Erlangga. Kakak beradik itu berusaha melacak dan menghentikan rencana keji kurawa. Mereka bermarkas di toko antik milik Ibu Mripat (Yatti Surachman) yang memiliki kemampuan menyembuhkan.

Penelusuran tersebut membawa empat sekawan tadi bertemu Pandega (Cecep Arif Rahman), ayah Yuda yang meninggalkan keluarganya. Perasaan Yuda pun campur aduk. Sebab, Pande –panggilan Pandega– menjadi anak buah kurawa. Dia bekerja sama dengan Beceng (Yayan Ruhian), yang punya ambisi menjadi salah satu kurawa terkuat.

Di situasi sulit itu, Arya Laksana (Edward Akbar) datang dan berusaha menolong. Arya adalah ayah Agni yang juga seorang ahli sejarah dan petinggi kampus. Tapi, keberadaannya tidak banyak membantu. Yuda, Agni, dan Danan justru terjebak di ’’kandang” kurawa. Di sisi lain, desakan bertubi-tubi tersebut menyadarkan Yuda: dia memiliki potensi luar biasa berupa gen Gatotkaca.

Sejak diumumkan pada 2019, Satria Dewa: Gatotkaca berhasil menarik perhatian publik. Film yang menjadi pembuka Satria Dewa Semesta itu ibarat starter pack. Penjelasan tentang pandawa dan kurawa, serta perselisihan keduanya, dibahas lengkap. Asal usul Gatotkaca pun dituturkan dengan baik meski tak sedominan pandawa-kurawa.

Sutradara Hanung Bramantyo dan penulis naskah Rahabi Mandra berhasil menerjemahkan konflik pewayangan dalam konteks dunia modern. Film yang tayang mulai 9 Juni itu punya pembagian babak yang unik. Ibarat pertunjukan wayang orang, di tengah cerita ada sisipan komedi. Bahkan, ada kemunculan punakawan, yang biasa ditampilkan untuk mengundang tawa di tengah pentas.

Sayang, banyaknya perkenalan tokoh potensial justru jadi titik lemah film. Banyak karakter yang hanya tampil sekilas tanpa mendapat panggung. Penonton penasaran dan ’’digantung”. Di sisi lain, penempatan promosi produk juga terlalu banyak dan kentara. Bagian yang paling dinanti penonton, yakni kostum Gatotkaca serta kemampuan serta asal usulnya, justru terlewat.

Terlepas ulasan penonton, Hanung mengaku lega Satria Dewa: Gatotkaca akhirnya dirilis. Dia menyatakan, film tersebut diproduksi di masa genting pandemi. Sutradara kelahiran 1 Oktober 1975 itu pun terpaksa ’’memperkecil” film karena kuntara. ’’Saya di Jogjakarta, sementara para pemain di Jakarta. Saya hampir nggak pernah nyentuh mereka selain lewat Zoom,” paparnya.

Namun, hal itu tidak mengurangi antusiasme tim cast. Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman –yang juga ikut di pengembangan adegan laga– menilai, Satria Dewa: Gatotkaca adalah salah satu proyek besar mereka yang kental nuansa budaya. ’’Kami senang karena ini adalah pekerjaan yang menyenangkan. Jadi, kami bisa melakukannya maksimal,” papar Cecep.

Fedi Nuril, pemeran Aswatama, menilai, kisah Satria Dewa: Gatotkaca punya kekuatan di karakter yang abu-abu. Meski ada pakem pandawa adalah ’’putih” dan kurawa adalah ’’hitam”, banyak tokoh yang justru berkembang di luar itu. Hanung menjelaskan, penggambaran itu paralel dengan kondisi saat ini.

’’Orang yang kita sangka baik, eh ternyata nggak gitu. Dan itu banyak. Makanya, di Satria Dewa Semesta, saya menolak stereotyping,” tegasnya.

TRIVIA

- Awalnya Hanung merencanakan syuting di empat lokasi. Di antaranya, Gunung Bromo yang diplot menjadi gambaran kota tua Astinapura dan Semarang.

- Syuting dipusatkan di Desa Gamplong, Sleman, selama lebih dari sebulan. Di sana, tim produksi juga membuat ’’replika” Kota Astina.

- Seluruh cast utama mendapat workshop untuk adegan laga selama sebulan. Namun, proses latihan berlangsung sampai dua bulan setelahnya.

- Adegan perkelahian sepanjang 20 menit nyaris dipotong habis oleh Lembaga Sensor Film karena target rating SU (semua umur). Namun, hal itu berhasil ’’ditawar” Hanung lewat pertarungan tanpa darah dan senjata tajam.

- Satria Dewa: Gatotkaca menjadi comeback Sigi Wimala di layar lebar. Dia kali terakhir membintangi Hi5teria pada 2012.

- Pada Jumat (10/6), perwakilan Satria Dewa Studio menyatakan, film akan ditayangkan di Amerika Utara dan Malaysia. Namun, belum ada keterangan terkait tanggal rilis di sana.

- Proses pengembangan ’’buku putih” atau dasar cerita untuk Satria Dewa Semesta dikawal tim ahli budaya dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, serta budayawan lokal Jogjakarta. Perwakilan produser mengaku mengambil langkah ekstra untuk memastikan cerita tetap fleksibel, tapi tidak keluar jalur.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore