
KRITIS: Kamila (tengah) mendiskusikan adegan antara Dasiyah (diperankan Dian) dan ibunya, Roemaisa (diperankan Ine Febriyanti), di teras rumah dinas residen Kedu.
JawaPos.com - Sukacita Ratih Kumala meluap saat mendengar bahwa novel karyanya akan diangkat ke layar kaca. ”Saya senang sekali bisa bekerja dengan Mas Ifa Isfansyah, orang pertama yang percaya dengan kekuatan cerita Gadis Kretek,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos dari Surabaya pada Kamis (16/11).
Ratih menyebut Ifa Isfansyah, Kamila Andini, dan Shanty Harmayn sebagai kombinasi showrunner yang tepat untuk Gadis Kretek. Terbukti, serial Gadis Kretek sukses masuk Global Netflix Top 10 di enam negara. Posisi itu bertahan selama dua pekan. Berkat kesuksesan tersebut, dia ikut bangga karena terlibat langsung nyaris di seluruh proses pembuatannya. ”Saya dan beberapa teman lainnya juga mengisi suara untuk ambience series ini,” ungkapnya.
Sebagai penulis Gadis Kretek, tentu saja tugas utama Ratih dalam proses produksi adalah menuliskan skenario. Bersama tim scriptwriter, dia mengembangkan cerita tanpa menghilangkan esensi naskah asli dalam novelnya. Namun, perbedaan media memang mengharuskan dia dan tim memilah-milah bagian mana saja yang perlu ditonjolkan dan mana saja yang dihilangkan.
”Dalam skenario, output akhirnya berwujud audiovisual yang ada batasan waktu, durasi, dan man power. Kalau sudah baca novelnya dan menonton series-nya, pasti tahu perbedaannya,” tutur perempuan 43 tahun tersebut.
RATIH KUMALA, penulis novel Gadis Kretek.
Pengembangan cerita, menurut Ratih, memakan waktu dan energi yang tidak sedikit. Karena proses produksi serial Gadis Kretek melibatkan banyak orang, penting bagi dia menyamakan persepsinya dengan tim. Itulah pengalaman baru baginya, seorang penulis novel yang selama ini memersepsikan semesta ceritanya secara individual.
Selain terlibat dalam penulisan skenario, Ratih ikut memilih cast. Dia dipercaya untuk ikut memilih aktor yang cocok dengan karakter buatannya. Selanjutnya, dia juga membantu para pemeran mendalami karakter masing-masing saat proses reading. Dia bahkan hadir selama proses syuting hingga penyuntingan. ”Saya ingin orang yang mengerjakan benar-benar jatuh cinta pada karya ini,” katanya.
Ratih mengungkapkan, kisah rekaannya itu terinspirasi dari kehidupan nyata keluarga sang ibu. ”Dulu kakek saya pemilik industri kretek rumahan dengan merek Djagad. Nama itu saya adopsi sebagai salah satu karakter di Gadis Kretek,” bebernya.
Penamaan karakter Dasiyah alias Jeng Yah yang diperankan begitu apik oleh Dian Sastrowardoyo juga terinspirasi dari keluarga ibu Ratih. Khususnya para perempuan dalam silsilah keluarga sang ibu. ”Banyak di antara mereka yang namanya menggunakan Yah di belakangnya. Tetapi, untuk ceritanya, itu fiksi,” tegas Ratih menanggapi asumsi publik bahwa Gadis Kretek diangkat dari kisah nyata. (lai/c14/hep)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
