Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Desember 2018 | 01.02 WIB

Kampanye Anti Kekerasan, Enam Film Pendek Karya Anak-anak Resmi Rilis

Devina, salah satu anak yang terlibat dalam kegiatan pembuatan film yang diselenggarakan WVI - Image

Devina, salah satu anak yang terlibat dalam kegiatan pembuatan film yang diselenggarakan WVI

JawaPos.com - Angka kekerasan terhadap anak tercatat sebanyak 22.109 sejak tahun 2011-2016. Hal itu membuat organisasi pemerhati anak, Wahana Visi Indonesia (WVI) tergerak untuk melakukan kampanye penghapusan kekerasan terhadap anak.


Melibatkan 30 orang anak, WVI bersama anak-anak yang tergabung dalam forum-forum WVI di berbagai kecamatan di Jakarta, mewujudkan kampanye tersebut dalam bentuk film. Film dianggap sebagai representasi budaya populer yang mampu menyampaikan aspirasi dan gagasan secara luas kepada seluruh lapisan masyarakat.


“Medianya film. Berharap masyarakat menonton film ini, kemudian menjadi agen perubahan, karena video mudah disebarkan dan ini gong nanti akan dibagikan ke seluruh Indonesia,” ungkap Irene Marbun selaku Operations Director Wahana Visi Indonesia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (2/12).


Enam film tersebut digarap langsung oleh anak-anak yang berada di wilayah Jatinegara, Kamal Muara, dan Penjaringan. Pihak WVI pun memiliki alasan tersendiri soal keterlibatan anak-anak secara langsung dalam kampanye itu.


Adapun tujuan kampanye ini agar keenam film tersebut dapat memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan menghentikan kekerasan terhadap anak.


“Memberikan kesadaran terhadap publik yang medianya adalah film jadi ini kami inisiasi tujuan utamanya agar semakin banyak orang yang sadar dan menghentikan juga mencegah kekerasan terhadap anak,” paparnya.


Hal senada disampaikan oleh Program Manajer Urban Jakarta, Asih Silawati. Pihaknya melihat, anak-anak merupakan orang yang paling tepat untuk menceritakan kekerasan yang mereka alami. Pembuatan enam film ini pun melibatkan sekitar 30 anak, termasuk dalam proses editing yang didukung oleh profesional.


“Kenapa kami melibatkan anak karena sebenarnya mereka ada di masyarakat, melihat langsung kekerasan yang terjadi di lingkungannya, kepada teman-temannya, bahkan mungkin pada dirinya sendiri,” ujarnya.


Sementara itu, Devina, 17, pemeran Sari dalam salah satu film mengungkap antusiasmenya dalam proses pembuatan filmnya. Ia yang tergabung dalam forum WVI kawasan Jatinegara mengaku senang bisa mengenal dan bekerjasama dengan anak-anak lainnya dari kawasan Kamal Muara dan Penjaringan.


"Harapannya semoga dengan adanya aksi dari anak-anak wilayah Jatinegara, Penjaringan, dan Kamal Muara bisa memberikan dampak positif terhadap angka penurunan kekerasan terhadap anak. Semoga kegiatan yang kami lakukan dijadikan contoh bagi wilayah-wilayah lain, dan kami bisa menyuarakan stop kekerasan pada anak tidak hanya lewat film, tapi bisa lewat puisi atau lagu," ungkap siswi kelas 3 SMA yang menjadi asisten sutradara sekaligus pemain dalam filmnya.


Enam film yang dibuat oleh anak-anak itu pun memiliki tema tersendiri. Film pertama yang berjudul Sari menceritakan tentang perkawinan anak usia dini, sedangkan Sahabat Sunyi mengangkat kisah perundungan dan disabilitas.


Selanjutnya, ada Perahu Tak Sampai tentang Kabupaten/Kota Tak Layak Anak. Terdapat pula PAP Please yang mengangkat soal kekerasan seksual secara online, film Ngintip yang juga bercerita tentang kekerasan seksual di keluarga sendiri, serta yang terakhir ada Ngehits tentang perundungan online.

Editor: Deti Mega Purnamasari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore