
Photo
JawaPos.com - Tokoh antagonis kerap kali menjadi salah satu faktor penunjang kesuksesan sebuah film di samping banyak elemen lainnya. Dalam film Toy Story 4, Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios berhasil meramu dan menyajikan konsep tokoh penjahat yang lain dari yang lain lewat sosok Gabby Gabby.
Bagi penggemar setia franchise Toy Story, karakter Gabby sebagai penjahat utama bisa dibilang sama sekali berbeda dibanding para antagonis di tiga film sebelumnya.
Digambarkan sebagai boneka anak perempuan dengan vintage dress berwarna kuning dengan polkadot putih, Gabby tidak punya kepribadian manipulatif layaknya Stinky Pete The Prospector di Toy Story 2, maupun seorang sosok pendendam dan gila kekuasaan seperti Lots-o Huggin' Bear di Toy Story 3.
Selain tidak punya karakter yang sama, Gabby juga menjadi satu-satunya penjahat dalam franchise Toy Story yang berhasil mencapai tujuannya dengan cara yang dikemas dengan apik, tidak terduga dan akhirnya menggugah hati penonton.
Sebagai penjahat, Gabby hanya punya satu tujuan: menjadi sebuah mainan sempurna yang bisa membahagiakan anak kecil.
Ketidaksempurnaan Gabby, yang merupakan tipe mainan yang bisa berbicara, terletak pada kotak suara di dalam tubuhnya yang tidak bisa berfungsi dengan baik. Hal ini membuat suara yang ditimbulkan Gabby menjadi seperti sebuah tape recorder yang kehabisan baterai alih-alih suara anak kecil yang lucu dan menggemaskan setiap kali tali yang ada di punggungnya ditarik.
Kondisi ini membuat Gabby dicap sebagai mainan rusak dan harus menghuni sebuah toko barang antik ditemani sejumlah boneka ventriloquist bernama Benson. Tidak satu hari pun dilalui Gabby tanpa berharap adanya keajaiban yang bisa memperbaiki nasibnya.
Gayung bersambut ketika Gabby akhirnya bertemu dengan protagonis utama Toy Story, Sheriff Woody yang masuk ke dalam toko barang antik tersebut untuk mencari Bo Peep, teman mainannya yang hilang 9 tahun silam.
Menyadari bahwa Woody adalah tipe mainan yang juga memiliki kotak suara, Gabby secara terang-terangan mengatakan bahwa ia menginginkan kotak suara miliknya. Hal ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Woody.
Sisi antagonis Gabby pun muncul selama ia memburu Woody. Lewat serangkaian proses yang mendebarkan dan juga mengocok perut, Woody akhirnya menyerah. Gabby mendapatkan kotak suara milik Woody.
Saat para penonton berpikir bahwa Gabby berhasil mencapai tujuannya, di sinilah terjadi twist yang cukup menyentuh hati.
Apa yang terjadi berikutnya hingga penghujung film membuat sudut pandang penonton terhadap Gabby bisa berubah total. Dari seorang penjahat berdarah dingin yang rela berbuat apa saja, menjadi seorang anak kecil malang yang tetap tidak bisa meraih mimpinya walau sudah menghalalkan segala cara. Inilah yang membuat Gabby akhirnya menjadi sosok antagonis yang berbeda. Bahkan, pada akhirnya, tidak fair menyebut Gabby sebagai sosok antagonis.
Terlepas apapun pandangan penonton, Toy Story 4 dan Gabby berhasil memberikan pesan moral yang cukup dalam, bahwa kesempurnaan bukanlah jaminan seorang bisa diterima di lingkungan yang ia inginkan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
