
Maruli Tampubolon (kiri) saat bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (kanan) di sela syuting Merah Putih Memanggil.
JawaPos.com - Maruli Tampubolon, Rio Dewanto, dan Rendy Kjaernett tidak sekedar aktor berwajah tampan dan berpostur atletis. Mereka membuktikan diri bahwa mereka cukup tangguh untuk berperan dalam film-film bertema militer yang persiapannya tidak main-main.
Rio Dewanto bercerita pengalamannya berperan dalam film Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon pada 2016. Sebelum syuting, dia ikut pelatihan militer di Batalyon Infanteri 328 Cilodong. Latihannya jauh lebih berat dari yang dia bayangkan.
Begitu turun dari truk, disuruh squat sampai ke tempat kumpul sambil dibentak-bentak. Setiap harinya, dia harus berlari sepanjang 7 hingga 10 kilometer sebanyak 3 kali dengan seragam militer dan berbagai atribut yang beratnya lebih dari 10 kilogram. Latihan-latihan berat itu dilakukan di bawah teriakan dan bentakan pelatih militer mereka. ”Fisik dan mental benar-benar di-push,” ujarnya. Rio juga belajar bahasa sandi ala tentara serta berkomunikasi dengan handie-talkie.
Apa yang dirasakan Maruli Tampubolon tak jauh berbeda. Saat ini dia sedang menjalani syuting Merah Putih Memanggil. Berperan sebagai Kapten Nurmantyo, aktor yang juga penyanyi dan pengacara itu menjalani scene yang cukup menguras fisik.
Memanggul ransel seberat 20 kilogram naik turun bukit, dia melakoni aksi-aksi pertempuran. Jatuh di lumpur dan tergores ranting tumbuhan sudah jadi ”menu” sehari-hari. ”Berat, tapi bangganya luar biasanya,” ungkap putra pengacara kondang Juan Felix Tampubolon itu.
Selama sekitar sebulan, Maruli tidur di barak, berinteraksi dengan prajurit setiap harinya. ”Dalam sebulan hanya satu-dua kali pulang ke Jakarta,” ucap dia. Di balik itu, dia mengagumi spirit corsa para prajurit. Terlebih, bagi Maruli, perannya ini seolah membuat cita-cita masa kecilnya tercapai untuk menjadi tentara.
Ada pula Rendy Kjaernett yang pernah bermain dalam film berlatar perang Doea Tanda Cinta. Sebelum syuting, dia ikut pelatihan di sebuah akademi militer di Magelang.
”Saya nggak bisa menggambarkan beratnya. Pokoknya, kewalahan,” kata ayah satu anak itu. Mulai lari 6 km dengan atribut lengkap, tidur di barak, hingga uji ketahanan fisik dengan olahraga intens menjadi agenda sehari-hari.
Berlatih dengan senjata sungguhan juga dilakukan Rendy. Selama latihan, dia berlatih menembak dengan senapan berpeluru. Juga, latihan melempar pisau. ”Tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada berbagai perhitungan sebelum melempar bilah. Salah sedikit bisa fatal,” kata dia. (len/nor)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
