Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Januari 2020 | 23.31 WIB

Darurat Pawang Hujan

Erie Dini/Jawa Pos - Image

Erie Dini/Jawa Pos

AWAL 2020, saat semua orang sibuk berpesta, cuaca ekstrem menyelimuti, hujan lebat, Jakarta dilanda banjir besar. Mobil-mobil mewah terseret derasnya arus dan rumah-rumah terendam, manusia mengungsi. Untuk menghalau datangnya hujan susulan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berniat membuat rekayasa hujan. Semua awan yang bergerak menuju Jakarta akan disemai dengan bahan natrium klorida (NaCI). Harapannya, hujan turun jauh dari Jakarta dan sekitarnya. Maklum, Jakarta mewakili wajah bangsa.

Apa pun yang terjadi di Jakarta menjadi persoalan seluruh manusia Indonesia, tak terkecuali masalah hujan. Modifikasi cuaca itu dilakukan dengan kalkulasi berdasar ilmu pengetahuan. Padahal, jauh sebelum itu, kita mengenal pawang hujan, seseorang yang dirasa memiliki kekuatan transenden untuk ”membersihkan langit” dari awan gelap.

Pawang hujan barangkali tak laku di Jakarta, kota yang konon menjunjung tinggi modernitas dan intelektualitas. Kisah-kisah tentang pawang hujan semakin sulit dijumpai. Manusia kiwari tak butuh pawang hujan. Mereka tahu kapan hujan akan datang lewat ramalan cuaca yang terpampang di layar handphone. Tetapi, jauh di pelosok desa, dalam tradisi-tradisi ritual di Jawa, pawang hujan masih menemukan eksistensinya. Lewat pesta-pesta pernikahan, khitanan, dan sejenisnya, pawang hujan adalah sosok penting di balik layar. Namanya sayup tak tersebut bila hujan tak jadi datang, namun mendapat hujatan dan cacian bila hujan turun, apalagi dengan derasnya.

Pawang hujan itu beradu sakti. Sering kali dia harus melawan pawang hujan lainnya bila dalam satu wilayah berdekatan terdapat acara dan pesta. Siapa yang menang ditentukan dari langit siapa yang paling cerah.

Kita jarang menelisik faktor-faktor di balik eksistensi pawang hujan. Selama ini kita memilih melihatnya secara parsial, tentang sosoknya yang lekat berbau ”klenik”. Imaniar lewat tulisannya yang berjudul Objek-Objek dalam Ritual Penangkal Hujan (2017) menekankan bahwa pawang hujan sebenarnya adalah manusia yang sangat sadar dan peduli pada alam-lingkungan. Dia mampu melihat tanda-tanda. Menyertakan doa-doa dengan sesaji yang sejatinya sarat makna. Beberapa benda prosesi itu, misalnya, sapu lidi sebagai simbol menyapu keburukan dalam diri. Janur, cabai, bawang merah dan bawang putih, atau hasil bumi lainnya sebagai wujud syukur dan persembahan kepada Sang Pencipta.

Dalam tradisi keraton di Jawa, pawang hujan memiliki kedudukan yang prestisius. Di Keraton Kasunanan Surakarta, misalnya, terdapat pawang hujan yang sangat terkenal, bernama Haknyo Ramiyono (meninggal 2014 silam).

Setiap acara-acara penting di keraton dan sekitarnya, dia tidak hanya bertugas membersihkan langit dari awan gelap, tapi juga menangkal setiap hal berbau transendental yang berpotensi mengganggu jalannya acara. Keahlian pawang hujan (sebagaimana Haknyo) didapat dari garis keturunan orang tuanya. Dengan kata lain, menjadi pawang hujan bukan semata diperoleh dari laku proses belajar, tapi juga menyangkut urusan genetika. Karena itu, tidak semua orang dapat menjadi pawang hujan. Pawang hujan adalah orang-orang terpilih.

Tapi, generasi mutakhir malu menjadi pawang hujan. Dianggap sebagai profesi yang tak menjanjikan pamrih ekonomi. Akibatnya, hampir semua pawang hujan berusia senja, melayani dengan tulus demi kebaikan kepada sesamanya. Seorang pawang hujan menempa dirinya dengan berbagai kearifan, terutama ikhtiar menjaga alam dan lingkungan sekitar.

Hujan barangkali hanya menyangkut persoalan air. Tapi, darinya tidak hanya berkisah tentang kesuburan, namun juga kepedihan dan derita. Banjir, gagalnya sebuah pesta yang berujung sedih, ditumpahkan pada hujan sebagai musababnya. Tidak sedikit yang menolak eksistensi pawang hujan, alasannya tak terpaut dengan logika dan ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, tidak ilmiah. Tetapi, bukankah dengan masih adanya pawang hujan hingga detik ini, kehadirannya dirasa mampu memberikan manfaat?

Hujan memang urusan alam dan Tuhan. Tapi, manusia terpilih dapat ”berdialog-berkomunikasi” dengannya. Pawang hujan berpedoman pada sebuah tesis sederhana bahwa tidak ada kepastian di dunia ini, manusia hanya memohon dan berdoa, termasuk untuk urusan hujan (Evi Junalisah, 2016).

Konsepsi pawang hujan tidak membuat hujan menjadi hilang. Dia hanya bermain-main dalam konteks waktu, menunda, mempercepat, atau mengalihkannya. Pawang hujan, terutama di Jawa, hadir sebagai antitesis dari ritual-ritual mendatangkan hujan yang tersebar di berbagai penjuru negeri.

Di Banyumas terdapat tradisi cowongan, sebuah laku seni yang merias batok kelapa selayaknya boneka. Di Banyuwangi terdapat ritus bernama mantu kucing, berisi doa-doa pemanggil hujan. Tarian sintren di Pemalang dipentaskan hanya saat kemarau panjang melanda. Pun demikian di Purbalingga, terdapat prosesi pemanggil hujan yang bernama unjungan.

Eksistensi pawang hujan telah mengakar dalam jejak tradisi di negeri ini. Mungkin selama ini hujan membawa bencana karena manusia tidak lagi bersyukur, tak mampu merawat alam, tak mampu berdialog dan Tuhan-nya, tak mampu membaca tanda-tanda selayaknya pawang hujan.

Pawang hujan bertahan di tengah gempuran teknologi yang berkisah tentang kepastian, dari ramalan (prakiraan) hingga rekayasa hujan. Pun, hujan masih tetap datang dengan derasnya, membuat manusia modern kembali ke titik hidup paling primitif. Tidak berlebihan kiranya di musim hujan kini kita belajar dan menggali nilai-nilai simbolis dari hadirnya pawang hujan. (*)

*) Aris Setiawan, esais, pengajar di ISI Surakarta

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore