alexametrics

Perasaan Puitis Penyair

Oleh: Candra Malik
8 September 2019, 20:29:46 WIB

”Siapa atau apa saja yang menjadi sumber inspirasi kepenyairan Anda?”

Sesi tanya jawab telah dibuka Kang Maman Suherman. Siang itu kami memang berada dalam forum bincang santai pada Indonesia International Book Fair (IIBF) 2019 di Jakarta Convention Center, Senayan, yang dihelat pada 4–8 September 2019. Ia membawa dua buku, yaitu Hijaber jika Itulah Jalanmu dan Perempuan jika Itulah Namamu. Saya membawa satu buku, satu penerbit dengan dua karya Kang Maman, yakni sekumpulan puisi yang berjudul Luka Kata.

Kang Maman lekas menyambut pertanyaan pertama itu laksana umpan lambung ke arah saya. ”Harus jujur, siapa nama perempuan di balik setiap puisimu? Jika di buku itu ada 90 puisi, apakah ada 90 perempuan?” Piawai dalam mengelola Indonesia Lawak Klub, ia yang berperan sebagai NoTulen di program televisi itu lihai juga memainkan mikrofon di forum panggung utama pameran buku tersebut. Tapi, saya juga punya ilmu berkelit.

”Sesungguhnya, setiap penulis, dalam hal ini penyair, menulis tentang dirinya sendiri. Tak penting untuk diketahui publik, siapa atau apa yang jadi sumber inspirasi. Yang lebih penting, bagaimana penyair mengungkap perasaan-perasaan puitis terhadap segala hal yang ia tulis itu,” jawab saya. Meski kita menulis tentang orang atau sesuatu lainnya, yang bukan kita, sebenarnya kita menulis tentang diri kita sendiri. Kok bisa?

Penyair menuliskan hal-hal yang dilihatnya, didengarnya, diendusnya, dicercapnya, dan dirabanya. Bahkan, meski penjelajahannya sampai ke wilayah-wilayah tak kasat, yang dituliskan pun tetap saja pemikirannya dan perasaannya terhadap sesuatu. Persepsinya, imajinasinya, perenungannya, tafsirnya, dan seterusnya. Namun, yang paling utama dari semua itu, setidaknya bagi saya, puisi adalah penanda jejak perjalanan hidup si penyair.

Puisi bukan tentang baik dan buruk, bukan pula tentang benar dan salah, walau sastra selayaknya mengandung makna keluhuran. Puisi bisa saja salah (baca: puisi bisa saja menghadirkan rekam jejak kejadian atau pemaknaan yang salah). Namun, ketika ia berhasil dituliskan oleh penyairnya dengan jujur dan tulus, saya termasuk yang yakin bahwa puisi berbicara sejak dari hati dan akan menembus hati pembacanya.

Ya, jika tidak bisa belajar dari kesalahan, bagaimana bisa kita belajar dari kebenaran? Karena itulah, saya memandang puisi sebagai ekspresi kejujuran dan ketulusan. Saya termasuk penganut paham bahwa tiap kata dalam puisi memilih dirinya sendiri untuk dituliskan. Bukan diksi yang bagus, bukan pula kosakata yang cantik karena dipoles dalam permainan, melainkan kata yang ”itu”. Ya, harus kata itu. Bukan yang lain.

Kejujuran dan ketulusan itulah yang lantas menghasilkan ketepatan. Penyair cakap dalam ”menangkap” kata yang tepat, kata per kata dalam puisinya. ”Misalkan, saya menulis puisi di komputer. Lalu, daya listrik turun. Padahal, saya belum menyimpan puisi itu. Jika puisi itu lenyap, saya bisa berhari-hari bersedih. Bukan karena saya tidak dapat menemukan kata yang lebih bagus, tetapi saya tidak bisa mengganti kata yang ’itu’.”

Memang terdapat begitu banyak teori di dalam penulisan karya sastra. Tapi, lagi-lagi bagi saya pribadi, menulis puisi adalah yang tersulit. Sebab, jika tidak ada puisi, maka tidak ada puisi. Puisi tidak bisa dikarang-karang. Puisi bukan permainan kata yang seandainya seseorang memiliki kekayaan pilihan kata dan membawa kamus besar ke mana-mana maka ia bisa berpuisi tentang apa pun dan kapan pun sesuka hati.

Puisi itu tentang hati. Balik lagi ke soal jujur dan tulus, kita bisa mendustai orang lain, tapi kita tidak akan pernah bisa mendustai diri sendiri. ”Mungkin sebagian besar dari kita menyebutnya inspirasi. Saya lebih suka menyebutnya tiban atau sesuatu yang jatuh entah dari mana. Jika puisi sudah jatuh, tak ada pilihan untuk menunda. Saya merasa harus sesegera mungkin menuliskannya,” jawab saya kepada penanya berikutnya.

Ia menanyakan proses kreatif kepenyairan. Seorang penanya lain menyoal media sosial yang banjir buih-buih status puitis. ”Boleh, sangat boleh, bahkan bagus, kita gunakan media sosial untuk berlatih menulis puisi, tapi tak semua harus menjadi puisi,” sergah saya. Ibarat sniper, penembak jitu. Niscaya banyak amunisi yang dihabiskannya dalam latihan menembak. Namun, ketika eksekusi, ia tak boleh meleset dalam sekali tembak.

Ada satu pertanyaan menarik lainnya. Yaitu, bagaimana cara pembaca memaknai puisi. Jujur dan tulus saya menjawab, ”Saya pun sering tak berhasil memahami puisi yang saya baca.” Apalagi jika ia puisi gelap, tak menyediakan sepias pelita pun bagi orang lain. Penyairnya tidak menyediakan pintu masuk bagi selain dirinya. Alhasil, meski dipublikasikan di harian umum, puisi itu toh tetap menjadi milik pribadi penyair. (*)

Candra Malik, sufi yang bergiat dalam kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan kerohanian

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads