
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Setiap petang sekelompok kecil semut akan menutup lubang sarang mereka dari luar. Mereka sendiri tentu saja tak bisa masuk, menghabiskan malam di luar sarang hingga mati. Sementara itu, kawan-kawan mereka bisa menghabiskan malam di dalam sarang dengan aman dan nyaman.
---
ITU terjadi pada sejenis semut Brasil, Forelius pusillus. Otak manusia di kepala saya kadang bertanya-tanya, apakah semut-semut penutup sarang ini tak merasa bahwa hidup tidak adil buat mereka? Kenapa ada sekelompok semut harus hidup lebih lama di atas kematian kelompok semut lain?
Kalau semut penutup lubang itu bisa bicara, mereka paling hanya akan berkata, ”Wkwkwk ywd.”
Seorang teman yang sedang giat menanam sayur hidroponik memperlihatkan tanaman bayam di kebunnya. Meskipun memperoleh pasokan air dan pupuk serta limpahan cahaya matahari yang nyaris sama, tanaman bayamnya memperlihatkan satu fenomena menarik. Ada bayam yang tumbuh cepat nyaris dua kali lebih tinggi dari saudara-saudaranya.
Boleh jadi si bayam yang tumbuh lebih cepat memang memiliki kualitas genetik yang lebih baik, yang bisa menyerap nutrisi dan cahaya matahari lebih efektif untuk pertumbuhannya.
Bayam-bayam yang tumbuh kerdil, mereka punya pilihan. Bergumam, ”Wkwkwk ywd.”
Kedua contoh itu, kita tahu, merupakan hal alami bagi kehidupan organisme. Akan tetapi, jika pengalaman tersebut dibawa kepada pengalaman manusia, ia akan menjadi perdebatan tiada henti. Apakah dunia memang tidak adil? Apakah ketidakadilan dan ketimpangan merupakan hal alamiah atau ciptaan manusia belaka?
Di buku karya Svetlana Alexievich, Zinky Boys, kita akan melihat anak-anak muda Uni Soviet, masih belasan tahun, dikirim ke medan perang di Afghanistan. Tak sedikit yang pulang dalam peti mati, dengan tubuh tak lagi mungkin untuk dikenali, tercabik ranjau.
Di waktu yang sama kawan-kawan mereka, yang lebih beruntung, bisa menghabiskan hari-hari untuk berkencan, tinggal bersama keluarga, belajar di universitas, dan memperoleh karier yang lebih baik, serta hidup jauh lebih panjang.
Sebagian dari mereka, jika bertahan hidup, memang akan mengatakan sejenis ”wkwkwk ywd”, tapi sebagian yang lain, berbeda dengan semut dan bayam, akan mulai bertanya, ”Kenapa nasib kami begini? Kenapa kawanku harus mati dengan cara seperti ini?”
Dari kacamata manusia, apa yang terjadi dengan prajurit-prajurit belia tersebut bisa dibaca sebagai kebusukan sistem ciptaan manusia. Sebuah keadaan di mana para elite militer bisa menikmati status tinggi mereka dengan menetapkan kebijakan-kebijakan, sementara prajurit rendahan menjalankannya dengan risiko kematian.
Dari kacamata kehidupan biologis, apa bedanya dengan semut-semut yang telah disebut sebelumnya? Apakah pengorbanan mereka semata-mata hasil dari kebiadaban manusia, kesenjangan dan eksploitasi kelas, ataukah itu memang sudah tercatat dalam kode genetik, untuk kebertahanan hidup spesies manusia secara lebih luas?
Jika memikirkan hal itu, saya sering tak bisa mengelak bahwa biologi merupakan ilmu yang kejam. Evolusi kehidupan, seperti waktu, tak peduli dengan tetek bengek spektrum moral: ada yang mati untuk keberlanjutan hidup yang lain; ada yang bekerja keras untuk kenyamanan hidup sesamanya.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berlanjut bahkan ketiksa saya membaca novel. Di Little Man, What Now? karya Hans Fallada, pertanyaan bisa diajukan. Apakah nasib yang dialami Pinneberg merupakan wajah bengis kapitalisme, di mana manusia diperas untuk menghasilkan keuntungan yang sebagian besar jatuh ke kelas di atasnya?
Ataukah, itu merupakan hasil evolusi biologis semata, yang tak hanya memengaruhi tindakan kita, tapi juga pikiran, dan akhirnya kehidupan sosial?
Membaca Of Mice and Men karya John Steinbeck, kita tahu George dan Lennie sama-sama pekerja upahan di perkebunan. Sama-sama tak berpendidikan. Bersahabat dan sebisa mungkin saling tolong-menolong. Di akhir cerita, kita tahu tragedi menunggu salah satu di antara mereka.
Memikirkan nasib Lennie, kita bisa saja bersikap fatalis: ”wkwkwk ywd” alias ”begitulah takdir”. Nasib buruk Lennie sudah tercatat sejak ia dilahirkan. Ia memiliki perbedaan kemampuan secara mental, yang berakibat kepada ketidakmampuannya menghadapi kehidupan sosial.
Baca juga: Otobiografi Nasi Goreng
Tapi, apakah kita berhenti hanya dengan mengatakan bahwa ”begitulah takdir”? Bahwa Perang Dunia, pemanasan global, rasisme, patriarki, dan sebagainya tak lebih merupakan dorongan genetik umat manusia?
Selain fakta bahwa biologi (dan ilmu-ilmu alam) perlu memperoleh beragam perspektif humaniora dan sosial, serta ilmu-ilmu sosial jelas memerlukan bukti-bukti yang disodorkan ilmu-ilmu alam, bagi saya satu hal lain sangat jelas.
Manusia punya kemampuan untuk mengatakan bahwa apa yang dialami kelompok semut penutup sarang sebagai ”tak adil”. Manusia juga yang bisa berpikir bahwa bayam-bayam sebaiknya tumbuh sama tinggi. Kemampuan, yang saya yakin, juga merupakan hasil evolusi biologi yang panjang.
Dengan kata lain, manusia bisa tak berhenti hanya bilang, ”Wkwkwk ywd” alias ketawa mendesah pasrah, ya sudah, lah. (*)
---
*) EKA KURNIAWAN, Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Link Live Streaming Timnas Futsal Indonesia vs Thailand di Final Piala AFF 2026
