alexametrics

Tersingkirnya Pengarang Perempuan

Oleh ANINDITA S. THAYF *), Novelis dan esais
20 September 2020, 19:37:00 WIB

Di mana posisi pengarang perempuan dalam panggung kesusastraan Indonesia? Pertanyaan itu akan mudah dijawab jika kita memahami bahwa ranah kesusastraan tidak bisa lepas dari sosio kultural masyarakat patriarki yang saat ini berkuasa.

DALAM lanskap patriarkal, posisi pengarang perempuan akan selalu diinferiorkan. Dia ada, tapi sebatas sebagai injakan sekaligus pembanding demi menunjukkan kepada dunia (maskulin) bahwa pengarang laki-laki berada di posisi tertinggi dan terbaik. Situasi seperti itu jelas tertampak dalam ajang penganugerahan sastra yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud tahun ini. Dari lima kategori penghargaan, tidak ada nama nomine bergender perempuan yang tercantum dalam daftar yang diumumkan pada 3 September 2020. Hebatnya, seluruh kategori dikuasai laki-laki. Sungguh superior pengarang laki-laki kita, setidaknya, dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Lewat politik penghargaan tersebut, terbaca dengan jelas bahwa pengarang laki-laki lebih superior daripada pengarang perempuan. Kondisi tersebut seakan hendak mengukuhkan pendapat Gerard Manley Hopkins bahwa kejeniusan kreatif hanya milik laki-laki. Karena itu, bila ada perempuan yang memiliki kejeniusan serupa atau lebih, maka haruslah dicari cara untuk menyingkirkannya. Cara penyingkirannya pun ada-ada saja. Entah secara kasar, semisal melalui perisakan berdalih kritik sastra, maupun secara halus seperti lewat penyusunan peta sastra atau pemberian penghargaan.

Sebetulnya, penyingkiran pengarang perempuan bukan hal baru dalam kesusastraan Indonesia. Nama penulis Lekra, Sugiarti Siswadi, bisa diangkat kembali untuk melihat bagaimana upaya penyingkiran tersebut bekerja secara sistematis. Dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik Esai I-IV hingga Gema Tanah Air yang disusun H.B. Jassin, atau Pokok dan Tokoh yang disusun A. Teeuw, nama Sugiarti tidak ditemukan. Hanya Ajip Rosidi yang sempat menyebutkan nama pengarang perempuan itu dalam Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia meski hanya sepintas lalu. Padahal, Sugiarti bukanlah pengarang dengan satu-dua karya. Dia produktif mengangkat tema-tema kerakyatan dalam sejumlah karyanya.

Harga Sebuah Panggung

Agar bisa naik panggung, apalagi mendapatkan penghargaan, jalan yang harus ditempuh pengarang perempuan jauh lebih sulit daripada pengarang laki-laki. Sebagai contoh, untuk mendapatkan penghargaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dia harus mengirimkan karyanya untuk dinilai. Pada tahap tersebut, karya yang dihasilkan pengarang perempuan lebih mudah dicap medioker hanya karena, oleh masyarakat patriarkal, dinilai berbicara semata tentang dirinya. Atau, meminjam istilah A. Teeuw, sebuah karya ”penawar duka dan nestapa”. Sialnya, ketika pengarang perempuan mencoba keluar dari persoalan ranah domestiknya, yang diterimanya serupa penggalan puisi karya Lady Winchillsea: Duh! Perempuan yang coba menulis/Adalah makhluk sedemikian sok/. Ya, dia akan mudah dicap sok pintar karena membahas persoalan-persoalan yang semestinya menjadi hak prerogatif pengarang laki-laki.

Di sisi lain, pengarang laki-laki, yang dianggap sudah selesai dengan dirinya, dinilai mampu menghasilkan karya-karya bertema besar dan penting seperti tentang sejarah bangsa hingga persoalan pelik perpolitikan. Dalam ketimpangan semacam itulah segelintir pengarang perempuan dituntut untuk lebih menonjol dibandingkan segerombolan pengarang laki-laki. Pihak penyelenggara penghargaan berhalusinasi bahwa posisi pengarang laki-laki dan perempuan sudah setara. Lewat argumentasi yang seolah-olah netral, bahwa kriteria penilaian berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan, pihak penyelenggara penghargaan menutup mata dari kondisi pengarang perempuan yang masih harus berjuang melawan dominasi maskulinitas dalam ranah kesusastraan.

Agar bisa menghasilkan sebuah karya yang mampu bersinar dengan segala kualitasnya, pengarang perempuan terlebih dulu mesti menghadapi masyarakat patriarkal. Untuk itu, dia harus melakukan pemberontakan. Sayangnya, dengan segala aturan dan keterbatasan yang telah ditetapkan dunia maskulin untuk dirinya, pengarang perempuan lebih sering (dipaksa) kalah.

Sehubungan dengan penghargaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, setelah karya seorang pengarang perempuan selesai, negara meminta dua hal darinya. Pertama, pajak 15 persen dari setiap persen royalti penjualan karyanya. Menolak tunduk pada aturan ini bakal membuatnya terjerat masalah.

Kedua, sesuai peraturan, dia harus mengirimkan karyanya kepada panitia penghargaan. Menolak melakukan itu otomatis membuatnya tidak terdaftar. Bila harga jual novel karyanya Rp 165.000, dia mesti mengeluarkan uang Rp 990.000 untuk mengirimkan 6 eksemplar (belum termasuk ongkos kirim). Harga yang tidak murah bagi seorang penulis berkehidupan pas-pasan, dan negara, tanpa malu, (lagi-lagi) meminta hasil keringatnya secara gratis.

Mungkin ada sanggahan bahwa jika pengarang tidak mampu, dia bisa meminta bantuan penerbit. Sanggahan semacam itu seolah melupakan penerbit sebagai organisasi profit. Tujuan penerbit adalah untuk mengeduk keuntungan. Bila diminta mengirimkan sejumlah buku secara cuma-cuma, penerbit mana pun pasti akan berpikir panjang. Mempertimbangkan korelasi antara mengikuti ajang penghargaan dan penjualan.

Dengan ketentuan semacam di atas, jumlah pengarang perempuan yang terbatas akan semakin terbatas pula. Pada akhirnya, pengarang perempuan yang sedikit inilah yang dipaksa bertarung dengan pengarang laki-laki yang jauh lebih banyak. Kondisi tersebut jelas membuat kesempatan pengarang perempuan untuk naik ke atas panggung semakin tipis. Alhasil, nama pengarang perempuan absen dari daftar nomine.

Namun, tidaklah kita perlu bersedih hati di hadapan penyingkiran pengarang perempuan dalam kesusastraan Indonesia. Upaya-upaya semacam itu akan tetap dan terus ada sehingga, kendati meratap-ratap, hendaknya dijadikan cambuk untuk maju. Untuk terus memperjuangan posisi pengarang perempuan, salah satunya dengan berani membongkar politik penyingkiran serupa ini agar kehidupan kesusastraan yang tidak bias gender bisa tercipta.

Pun, agar pada suatu hari nanti kita bisa melihat seorang pengarang perempuan berdiri di atas panggung sana dengan kekuatan cahayanya dan prestasi sastranya yang luar biasa, memberi jalan bagi sesamanya untuk bersama-sama tampil ke muka. Di masa depan. ***

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra




Close Ads