
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Goenawan Mohamad (l. 1941) telah membuat sejumlah orang cemburu akan daya ciptanya nan meruah di gelanggang seni rupa kontemporer Indonesia.
---
CELAKANYA, cemburu mereka ganas dengan lembing kata yang menerjang akal sehat hingga pengetahuan ini pun terjengkang: sastrawan berseni rupa bukan fenomena baru, alih-alih biasa, di republik ini.
Baiklah kita ingat, jauh sebelum Goenawan Mohamad sudah ada sastrawan Trisno Sumardjo (1916–1969) yang berseni rupa dengan lukisan pemandangan sejak bergiat di Seniman Indonesia Muda (1946–1948) sampai berkalang tanah pada 21 April 1969.
Lukisan-lukisan penerjemah karya-karya William Shakespeare tersebut kerap tampil dalam pameran-pameran bersama pada masa-masa itu. Ia bahkan pernah mengadakan pameran tunggal pada 1964.
Selain itu, seturut Sanento Yuliman, 34 lukisan cat minyak dan cat air serta 32 coretan hitam putih Trisno Sumardjo pernah digelar Dewan Kesenian Jakarta dalam Pameran Peringatan Trisno Sumardjo di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1988).
Dari situ saya ingin menambahkan sedikit keterangan bahwa, sekalipun penghayat seni di Indonesia lebih mengenalnya sebagai pesastra, proses kreatif Trisno Sumardjo dalam berseni lukis dan bersastra sesungguhnya berjalan simultan sepanjang 1946–1969.
Yang simultan itu berlaku pula pada Frans Nadjira (l. 1942), Nasjah Djamin (1924–1997), dan Motinggo Busye (1937–1999). Frans Nadjira memperlihatkannya lewat pameran tunggal lukisan dan puisi Panggilan Warna dan Kata-Kata di Bentara Budaya Bali (2010).
Nasjah Djamin berseni rupa dengan lukisan potret, pemandangan, dan ilustrasi buku. Tiga tahun lalu, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sejumlah lukisan pengarang Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968) itu dipamerkan secara retrospektif berdasar koleksi pribadi keluarganya.
Motinggo Busye berseni rupa dengan lukisan pemandangan. Penulis Malam Jahanam (1962) itu pernah mengusung 15 lukisannya dalam pameran bersama 13 pelukis dan 2 pematung di Padang pada 1954.
Setelah mereka muncul penyair Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus (l. 1944) dan D. Zawawi Imron (l. 1945) yang berseni rupa dengan lukisan, utamanya lukisan kaligrafi. Sejumlah lukisan Gus Mus dan Zawawi Imron saya tonton dalam pameran Manusia dan Kemanusiaan di OHD Museum, Magelang (2019).
Muncul juga penyair-penyair berusia lebih muda dari Gus Mus dan Zawawi Imron, yakni Nirwan Dewanto (l. 1961), Sitok Srengenge (l. 1965), dan Acep Zamzam Noor (l. 1960), yang berseni rupa dengan objek-instalasi dan lukisan abstrak.
Nirwan Dewanto telah menggelar dua pameran tunggal: Satu Setengah Mata-Mata di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta (2016), dan Ecriture di Yats Colony Hotel, Jogjakarta (2017). Sedangkan Sitok Srengenge dan Acep Zamzam Noor pernah menggelar pameran berdua Di Luar Kata di Rumah Seni Yaitu, Semarang (2008).
Tiga tahun kemudian, Acep Zamzam Noor menggelar pameran tunggal Kambing Hitam di Gedung Kesenian Tasikmalaya. Sitok Srengenge menyusulnya dengan dua pameran tunggal, yaitu Srengenge di Langit Art Space, Bantul (2017), dan Malih Rupa di Jiwajawi, Bantul (2020).
Belakangan, saya mengetahui Remy Sylado berseni rupa dengan lukisan aneka pokok perupaan. Buktinya, untuk memperingati hari jadinya ke-74, pelopor gerakan puisi mbeling itu menggelar pameran tunggal Maestro Remy Sylado di Balai Budaya Jakarta (2019).
Baca juga:

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
