alexametrics

Sastrawan Berseni Rupa…

Oleh WAHYUDIN
8 November 2020, 14:14:09 WIB

Goenawan Mohamad (l. 1941) telah membuat sejumlah orang cemburu akan daya ciptanya nan meruah di gelanggang seni rupa kontemporer Indonesia.

CELAKANYA, cemburu mereka ganas dengan lembing kata yang menerjang akal sehat hingga pengetahuan ini pun terjengkang: sastrawan berseni rupa bukan fenomena baru, alih-alih biasa, di republik ini.

Baiklah kita ingat, jauh sebelum Goenawan Mohamad sudah ada sastrawan Trisno Sumardjo (1916–1969) yang berseni rupa dengan lukisan pemandangan sejak bergiat di Seniman Indonesia Muda (1946–1948) sampai berkalang tanah pada 21 April 1969.

Lukisan-lukisan penerjemah karya-karya William Shakespeare tersebut kerap tampil dalam pameran-pameran bersama pada masa-masa itu. Ia bahkan pernah mengadakan pameran tunggal pada 1964.

Selain itu, seturut Sanento Yuliman, 34 lukisan cat minyak dan cat air serta 32 coretan hitam putih Trisno Sumardjo pernah digelar Dewan Kesenian Jakarta dalam Pameran Peringatan Trisno Sumardjo di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1988).

Dari situ saya ingin menambahkan sedikit keterangan bahwa, sekalipun penghayat seni di Indonesia lebih mengenalnya sebagai pesastra, proses kreatif Trisno Sumardjo dalam berseni lukis dan bersastra sesungguhnya berjalan simultan sepanjang 1946–1969.

Yang simultan itu berlaku pula pada Frans Nadjira (l. 1942), Nasjah Djamin (1924–1997), dan Motinggo Busye (1937–1999). Frans Nadjira memperlihatkannya lewat pameran tunggal lukisan dan puisi Panggilan Warna dan Kata-Kata di Bentara Budaya Bali (2010).

Nasjah Djamin berseni rupa dengan lukisan potret, pemandangan, dan ilustrasi buku. Tiga tahun lalu, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, sejumlah lukisan pengarang Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968) itu dipamerkan secara retrospektif berdasar koleksi pribadi keluarganya.

Motinggo Busye berseni rupa dengan lukisan pemandangan. Penulis Malam Jahanam (1962) itu pernah mengusung 15 lukisannya dalam pameran bersama 13 pelukis dan 2 pematung di Padang pada 1954.

Setelah mereka muncul penyair Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus (l. 1944) dan D. Zawawi Imron (l. 1945) yang berseni rupa dengan lukisan, utamanya lukisan kaligrafi. Sejumlah lukisan Gus Mus dan Zawawi Imron saya tonton dalam pameran Manusia dan Kemanusiaan di OHD Museum, Magelang (2019).

Muncul juga penyair-penyair berusia lebih muda dari Gus Mus dan Zawawi Imron, yakni Nirwan Dewanto (l. 1961), Sitok Srengenge (l. 1965), dan Acep Zamzam Noor (l. 1960), yang berseni rupa dengan objek-instalasi dan lukisan abstrak.

Nirwan Dewanto telah menggelar dua pameran tunggal: Satu Setengah Mata-Mata di Dia.Lo.Gue Artspace, Jakarta (2016), dan Ecriture di Yats Colony Hotel, Jogjakarta (2017). Sedangkan Sitok Srengenge dan Acep Zamzam Noor pernah menggelar pameran berdua Di Luar Kata di Rumah Seni Yaitu, Semarang (2008).

Tiga tahun kemudian, Acep Zamzam Noor menggelar pameran tunggal Kambing Hitam di Gedung Kesenian Tasikmalaya. Sitok Srengenge menyusulnya dengan dua pameran tunggal, yaitu Srengenge di Langit Art Space, Bantul (2017), dan Malih Rupa di Jiwajawi, Bantul (2020).

Belakangan, saya mengetahui Remy Sylado berseni rupa dengan lukisan aneka pokok perupaan. Buktinya, untuk memperingati hari jadinya ke-74, pelopor gerakan puisi mbeling itu menggelar pameran tunggal Maestro Remy Sylado di Balai Budaya Jakarta (2019).

Baca juga: 

Sebelumnya, saya mengetahui dari koran Tempo tentang Nh. Dini (1936–2018) yang berseni lukis ’’untuk mengusir kepikunan’’ sejak awal 2000-an. Pengarang Pada Sebuah Kapal (1972) itu pernah menggelar pameran tunggal lukisan cat air dan tinta cina berpokok perupaan pemandangan, bunga, dan binatang bertajuk Rekreasi Visual NH Dini di Gedung Oudetrap, Semarang (2013).

Setelah itu, saya mendengar dari Goenawan Mohamad mengenai Sapardi Djoko Damono (1940–2020) dan Ayu Utami (l. 1968) yang berseni rupa dengan lukisan dan drawing.

Sayangnya, sampai saya merampungkan tulisan ini, kecuali membaca berita Sapardi Djoko Damono berpameran lukisan bersama Gus Mus, Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, dan Jeihan Sukmantoro bertajuk Lima Rukun di Studio Jeihan, Bandung (2013), saya belum melihat lukisan-lukisan penyair ’’Hujan Bulan Juni’’ itu.

Sementara itu, saya memirsai drawing Ayu Utami dalam, dan sebagai sampul, buku Goenawan Mohamad, Sajak-Sajak Lengkap 1961–2001 (2001). Saya pun mendapati belasan sketsa Ayu Utami sebagai sampul depan-belakang dan ilustrasi isi bukunya, Si Parasit Lajang (2003). Ternyata, pengarang Saman (1998) itu pembikin desain dan gambar sampul kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma Atas Nama Malam (1999).

Seperti pada Ayu Utami, saya mengetahui Eka Kurniawan (l. 1975) berseni rupa dengan desain sampul dan ilustrasi buku lewat novelnya, O (2016). Tapi, seorang teman menginformasikan bahwa mendesain sampul dan ilustrasi buku sudah dilakukan Eka Kurniawan sejak ia masih tinggal dan berkarya di Jogjakarta pada awal 2000-an dengan nama samaran Siti Soendari.

Boleh percaya boleh tak. Teman itu pun memaksa saya mengintip Instagram Eka Kurniawan untuk memastikan perkataannya akan karya seni rupa lainnya Eka Kurniawan, yaitu karya seni grafis dengan teknik cetak tinggi atau cukil.

Sampai di situ saya tak ingin meluputkan Putu Wijaya (l. 1944). Pengarang Telegram (1972) itu berseni rupa dengan lukisan, utamanya lukisan pohon, sebagaimana terlihat dalam pameran tunggalnya, Bertolak dari Yang Ada, di Bentara Budaya Jakarta (2014).

Jadi, pantaskah kita mencemburuinya? (*)


WAHYUDIN, Kurator Seni Rupa

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads